Breaking News:

Virus Corona M

Covid-19 Belum Selesai, Ada Virus Baru, di Indonesia Bisa Saja Terjadi, Penularan Lewat Hewan Ini

Penemuan mereka sebagai hasil dari penyelidikan pasien yang memiliki gejala seperti demam dan nyeri otot setelah digigit kutu sejak tahun lalu.

Institut Kesehatan Nasional / AFP
Gambar ini diperoleh 12 Maret 2020, milik National Institutes of Health (NIH) / NIAD-RML menunjukkan gambar mikroskop elektron transmisi SARS-CoV-2, virus yang menyebabkan COVID-19, diisolasi dari seorang pasien di AS, karena partikel virus (benda bulat emas) muncul dari permukaan sel yang dikultur di lab, paku di tepi luar partikel virus memberi coronavirus nama mereka, seperti mahkota. 

TRIBUNCIREBON.COM - Spesies baru virus Yezo (Yezv) ditemukan di Jepang.

Infeksi virus tersebut ditularkan melalui kutu.

Virus baru tersebut ditemukan para dokter Universitas Hokkaido baru-baru ini.

Meski bukan virus corona, namun cukup berbahaya.

Dilansir dari Tribunnews.com, kelompok penelitian seperti Universitas Hokkaido telah mengumumkan bahwa mereka telah menemukan virus baru, Yezo (Yezv) yang terinfeksi oleh gigitan kutu dan menyebabkan gejala seperti demam dan nyeri otot.

Kelompok peneliti meminta perhatian untuk menghindari digigit kutu, dan mengatakan bahwa perlu segera menerapkan sistem inspeksi.

Penemuan mereka sebagai hasil dari penyelidikan pasien yang memiliki gejala seperti demam dan nyeri otot setelah digigit kutu sejak tahun lalu.

Saat terinfeksi Yezo (Yezv) , gejala seperti demam, kehilangan nafsu makan, dan penurunan trombosit dan sel darah putih muncul dalam beberapa hari hingga 2 minggu, sehingga 7 orang dipastikan terinfeksi antara 7 tahun lalu dan tahun lalu.

Selain pasien, virus telah dikonfirmasi pada kutu yang hidup di Hokkaido, dan juga telah dikonfirmasi bahwa ada hewan liar yang memiliki antibodi terhadap virus, sehingga dikatakan bahwa virus tersebut telah menjadi mapan di Hokkaido.

Kelompok peneliti berencana untuk menyelidiki situasi distribusi secara nasional di masa depan, dan Keita Matsuno, seorang dosen di Institut Penelitian Gabungan Internasional untuk Zoonosis, Universitas Hokkaido, mengatakan, "Kami akan segera menyiapkan sistem pengujian dan terus menyelidiki tingkat keparahan dan perkembangannya di Jepang. Gejalanya. Itu perlu dilakukan segera," tekannya.

Halaman
123
Sumber: Tribunnews.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved