Breaking News:

Kasus Hewan Liar Gigit Warga di Kuningan, Petugas Kesehatan Hewan Jelaskan Begini

pada kasus hewan liar gigit warga di Kuningan, sejauh ini tidak ditemukan tanda-tanda membahayakan atau berpotensi penyebaran rabies

Penulis: Ahmad Ripai | Editor: Machmud Mubarok
TribunCirebon.com/Ahmad Ripai
Kegiatan suntik vaksinasi Rabies terhadap hewan peliharaan warga di Kuningan. 

Laporan Kontributor Kuningan Ahmad Ripai

TRIBUNCIREBON.COM, KUNINGAN - Kasus penyerangan hewan liar terhadap warga di Kuningan, pada setiap tahunnya selalu ada. Bahkan tidak sedikit warga tersebut kena gigitan atau ancaman hewan itu hingga mengalami luka.

"Ya untuk kasus hewan gigit warga selalu ada. Namun hingga sekarang belum ditemukan bahwa hewan penyerang itu memiliki penyakit rabies," kata Kasi Kesehatan Hewan dan Kesehatan Masyarakat Veteriner Dinas Peternakan Pemkab Kuningan, dr Rofiq mewakili Kabid Peternakan Dinas Peternakan dan Perikanan Kuningan, saat ditemui di sela kegiatan vaksinasi pencegahan penyakit rabies pada hewan peliharaan di Poskeswan Cilimus, Kamis (7/10/2021).

Rofiq menyebutkan bahwa pada kasus hewan liar gigit warga di Kuningan, sejauh ini tidak ditemukan tanda-tanda membahayakan atau berpotensi penyebaran rabies. Hal itu bisa dibuktikan dari kondisi hewan itu setelah  menggigit, apakah mati atau sebaliknya.

Baca juga: Warga Bandung Barat Meninggal Dunia Usai Digigit Anjing dan Tertular Virus Rabies

Baca juga: Monyet Liar yang Cakar dan Gigit Balita Ternyata Hewan Peliharaan Warga yang Lepas, Ortu Masih Syok

"Jadi begini, kasus hewan memiliki penyakit rabies itu akan mati setelah menggigit warga, batas waktu maksimal usia hewan dua minggu dari saat hewan itu menggigit. Nah, kaitan dengan balita yang digigit kera. Itu bisa diperhatikan selama seminggu ke depan, apakah si kera itu berrabies atau sebaliknya," katanya.

Mengenai ciri - ciri rabies, dokter Rofiq menjelaskan, bahwa penyakit rabies ini muncul akibat penyakit hewan yang terkena virus. Untuk ciri - ciri hewan rabies itu suka melakukan tingkah aneh dan akan mencari tempat teduh alias takut sinar matahari.

"Perlu diketahui kenapa bisa ada penyakit rabies. Ini akibat penyakit biasa pada hewan yang disepelekan sehingga hewan berpenyakit itu terkena virus rabies. Cirinya, hewan itu akan bertingkah aneh dan menghindar dari pantulan cahaya atau sinar matahari, kasus rabies ini sering disebut hewan gila," katanya.

Dokter hewan ini mengklaim bahwa hingga sekarang belum ada obat rabies dan bisa mengakibatkan kematian pada orang yang diserang hewan rabies.

"Betul, hingga kini kasus rabies itu belum ada obatnya. Semua dilakukan kami itu bentuk pencegahan seperti sekarang pemberian vaksinasi rabies pada hewan peliharaan warga," katanya.

Kasus kemarin akibat penyakit rabies secara makro yang terjadi dari tiap - tiap negara itu masih terbilang banyak.

"Kasus kematian orang terkena rabies berdasar data dunia, per tahun ada sebanyak 59 ribu orang meninggal. Kemudian untuk skala nasional, jumlah kematian orang terkena rabies itu ada sekitar 100 orang lebih. Artinya kasus rabies hingga saat ini tentu harus menjadi perhatian semua," katanya.

Disamping itu, kata dia menambahkan bahwa jumlah daerah di Indonesia yang bebas dari penyakit rabies itu di antaranya Provinsi Bangka Belitung, Papua Barat, Jatim, Jateng, Riau, DKI ( Daerah Khusu Ibukota) Jakarta.

"Selain provinsi tadi, termasuk Jawa Barat ini terbilang belum bebas rabies. Dalam catatan kami, di Jawa Barat daerah rawan rabies itu di Sukabumi dan Garut," katanya. (*)

Sumber: Tribun Cirebon
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved