Breaking News:

Pasang Surut Menjadi Pelaku UMKM, Pengusaha Asal Kuningan Ini Ungkap Perjalanan Membuat Pabrik Roti

ebelum memiliki pabrik roti, ia memiliki pengalaman beberapa tahun  ikut kerja di pabrik roti orang lain.

Penulis: Ahmad Ripai | Editor: Machmud Mubarok
Via alodokter.com
Ilustrasi Roti. 

Laporan Kontributor Kuningan, Ahmad Ripai

TRIBUNCIREBON.COM, KUNINGAN - Sosok Aripin di Desa Sangkamulya, Kecamatan Cigandamekar, Kuningan Jawa Barat, sudah tidak asing bagi warga sekitar. Terlebih dengan rintisan usaha sebagai pelaku UMKM pembuatan roti berbagai kemsan yang dimulai sejak puluhan tahun silam dan masih bertahan hingga sekarang.

"Mulanya saya menjadi pelaku UMKM atau pemilik pabrik roti, karena sebelumnya sempat kerja di perusahaan orang lain dan terdampak kerusuhan atau huru hara pada tahun 1998 silam," ungkap Aripin mengawali perbincangan dengan Tribuncirebon.com, saat ditemui di Kantor Koperasi Roti Sadaya di Jalur Lingkar Timur Kuningan, Selasa (21/9/2021).

Aripin mengatakan sebelum memiliki pabrik roti, ia memiliki pengalaman beberapa tahun  ikut kerja di pabrik roti orang lain.

"Dulu kerja di pabrik roti itu pada tahun 2000 an. Dari pengalaman kerja, mulai dari belanja bahan baku, pembuatan adonan, hingga paham penjualan ke daerah luar Kuningan. Dirasa cukup dari pengalaman tadi, akhirnya pada tahun 2003 punya pabrik roti hingga sekarang," katanya.

Baca juga: Gelar Operasi Patuh Lodaya 2021, Polres Kuningan Sasar Juga Warga Tak Taat Protokol Kesehatan

Baca juga: Desa Tembakau di Kuningan Nyaris Punah, Tokoh Masyarakat Jelaskan Begini

Roti hasil produksinya itu memiliki berbagai varian rasa dan bentuk. "Untuk varian dan bentuk, kita mengikuti kemajuan zaman dan pemasaran di daerah. Selain itu juga dari kemasan harus lebih menarik dan bagus," ujarnya.

Sebelumnya mengalami kembang kempis seperti sekarang, Aripin mengatakan bahwa dalam usaha roti itu bisa mendapat keuntungan hingga 40 persen dari total biaya produksi dan pemotongan biaya operasional serta perawatan peralatan lainnya.

"Dulu, cari keuntungan dari penjualan roti itu bisa mendapat untung sekitar 40 persen dan hasil laba usaha itu bersih dari potongan biaya operasional dan perawatan peralatan lainnya.

Namun beberapa tahun kebelakang, untuk mencari keuntungan jauh berbeda dan hanya bisa maksimal keuntungan itu sebesar 10 persen

"Itu pun terbilang masih kotor atau belum dihitung biaya lain, seperti gaji karyawan, biaya operasional dan pembelian bahan baku," ujarnya.

Ibarat ketiban durian, Aripin mengaku bahwa pengalaman itu terjadi pada masa kejayaan sebagai pengusaha roti.

"Dulu sering kejatuhan durian, seperti mau hajat, muludan atau acara pesta di warga itu pasti masuk pesanan itu datang sedikitnya 5 ribu roti harus disiapkan," katanya. (*)

Sumber: Tribun Cirebon
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

Tribun JualBeli
© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved