Breaking News:

Desa 'Tembakau' di Kuningan Nyaris Punah, Tokoh Masyarakat Jelaskan Begini

Selain minimnya generasi muda sebagai penerus petani tembakau, menurut Holis, faktor lain yang membuat kelangkaan petani adalah penghasilan

Penulis: Ahmad Ripai | Editor: Machmud Mubarok
TribunJabar/Zelphi
Ilustrasi tembakau. 

Laporan Kontributor Kuningan, Ahmad Ripai

TRIBUNCIREBON.COM, KUNINGAN - Desa Karanganyar, Kecamatan Darma, Kuningan, Jawa Barat tersohor dengan sebutan Desa Tembakau. Namun kini keberadaan Desa Tembakau itu nyaris punah seiring dengan beragam permalasahan yang terjadi di alami warga serta kondisi lahan tembakau di sana.

"Petani tembakau di desa kami nyaris punah, jumlahnya berkurang  dari jumlah penggarap pada sebelumnya. Dampak ini akibat kemajuan dan tidak banyak generasi muda yang mengikuti jejak orang tua sebagai petani tembakau dahulu," ungkap Holis salah seorang perangkat desa setempat saat berbincang dengan Tribuncirebon.com, di lokasi desanya, Senin (20/9/2020).

Selain minimnya generasi muda sebagai penerus petani tembakau, menurut Holis, faktor lain yang membuat kelangkaan petani adalah penghasilan dari nilai jual tembakau. Ini akibat lemahnya sektor pemasaran yang sebelumnya dilakukan pengolahan hingga menjadi tembakau dengan memakan waktu cukup lama.

"Hingga kini pemasaran dilakukan secara mandiri atau orang perorangan dan ketentuan harga jual beli terkadang tidak menggembirakan bagi petani tembakau," katanya.

Baca juga: Mamah Muda di Tasikmalaya Konsumsi Tembakau Sintesis Agar Enak Makan dan Tidur, Begini Nasibnya Kini

Baca juga: Budidaya Kepiting Tembakau Mulai Dikembangkan di Hutan Mangrove Indramayu

Dari dari total jumlah warga Desa Karanganyar sekitar 3 ribu jiwa, itu hampir separuh warga desa bertani tembakau. Dari  situlah Desa Karanganyar terkenal dengan sebutan desa tembakau karena kualitas tembakaunya yang berkualitas tinggi.

"Catatan kami menaksir dari 50 persen warga desa sebagai petani tembakau, kini hanya ada sekitar 5 persen warga yang Istiqomah bertani tembakau," katanya.

Menurut Holis, untuk mendapatkan tembakau berkualitas,  tidak mudah seperti melakukan penanaman jenis pohon pada umumnya. Sebab tanaman tembakau ini bisa memberikan keuntungan besar itu sebanyak tiga panen dari pengolahan tanaman tembakau tersebut.

"Begini, ketika tanaman tembakau itu cukup umur atau sekitar 6 bulan dalam masa tanam, baru bisa dipanen. Teknik panen jelas diambil daun berumur tua," katanya.

Lepas dari kegiatan panen tadi, daun tembakau itu dibersihkan untuk dilakukan pengirisan sesuai dengan kebutuhan pasar.

"Iya setelahnya diiris, tembakau tadi digelar di tempat atau kita sering sebut ancak. Kemudian tembakau tadi dilakukan penjemuran sesuai ketentuan untuk menghasilkan kualitas tembakau bagus.

Singkatnya begini, tembakau bagus itu tidak kering tidak basah. Nah, di kami ada istilah tembakau selain dijemur itu harus diembunkan pada waktu sudah subuh," katanya.

Setelah masuk tahapan tersebut, tembaku siap jual dengan harga per ancak atau sekitar 1-2 ons itu sebesar Rp 10 ribu.

"Iya kalau gak salah sekitar satu ancak atau 1-2 ons, harga jual tembakau itu Rp 10 ribu. Nah, saat penjualan suka tidak tahu standar harga atau sering mengalami naik turun harga jual. Alasan inilah yang terkadang membuat kurang semangat generasi muda untuk menjadi petani tembakau," katanya. (*)

Baca juga: TERNYATA Ini Awal Mula PKI Ada di Indonesia, 2 Orang Ini Lebih Bahaya dari Dedengkot PKI DN Aidit

Baca juga: Perampokan Toko Emas di Kosambi Bandung, Pemilik Diduga Tewas, Pelaku Gasak Emas Berbentuk Naga

Baca juga: Preview Persib vs Borneo FC di Pekan 4 Liga 1 2021, Head to Head Hingga Catatan Apik Maung Bandung

Sumber: Tribun Cirebon
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved