Breaking News:

Penyebab Kematian Tiba-tiba Burung Pipit di Balai Kota Cirebon Bukan Karen Virus, Tapi Karena Ini

beberapa dugaan pun bermunculan atas kematian tersebut, seperti terpapar virus, peracunan, perubahan cuaca hingga kaitannya dengan mitos gaib.

Editor: Machmud Mubarok
Tribuncirebon.com/Ahmad Imam Baehaqi
Bangkai burung pipit yang berserakan di halaman Balai Kota Cirebon, Jalan Siliwangi, Kecamatan Kejaksan, Kota Cirebon, Selasa (14/9/2021). 

"Ada pegawai juga yang mengumpulkan burung pipit yang masih hidup dan basah, kemudian dia keringkan. Setelah kering, burung pipit itu bisa terbang kembali," katanya. 

Baca juga: Live Streaming Liga Inggris, Liverpool Vs Crystal Palace, Pertandingan Bisa Ditonton di HP Anda

Baca juga: 63 Pesantren di Kabupaten Cirebon Ikuti Program OPOP, Hasilkan Beragam Produk Unggulan

Hal senada disampaikan oleh Guru Besar Entobiologi FMIPA Unpad, Prof. Johan Iskandar, kasus berjatuhannya puluhan burung dan mati, pasca hujan turun dapat menjadi indikator terjadinya perubahan lingkungan yang perlu dilakukan pengkajian lebih lanjut.

"Yang jelas burung termasuk kasus burung pipit mati dapat menjadi indikator sebagai early warning bahwa ada sesuatu perubahan lingkungan yang perlu dikaji lebih lanjut secara teliti dan intensif," ujarnya saat dikonfirmasi melalui sambungan telepon, Kamis (16/9/2021).

Merujuk pada data empiris hujan lebat yang terjadi di Bali dan Cirebon, Prof. Johan mengatakan, burung yang berjatuhan diduga akibat hujan besar yang turun di wilayah tersebut yang diduga membawa kandungan asam.

"Apakah hujan pertama usai kemarau mengandung racun sebagai disebut hujan asam. Seyogianya secara umum air hujannya bisa diukur pHnya yang normal di kisaran 7.  Indikatornya kondisi Basa lebih 7 dan yang asam kurang 7, hujan asam juga dapat terjadi karena adanya pengaruh emisi gas pencemar seperti kendaraan hingga pabrik," ucapnya.

Namun, berdasarkan penelitian yang dilakukannya terhadap para peternak atau penjual burung, bahwa perubahan kondisi cuaca ekstrem turut mempengaruhi potensi rendahnya daya tahan hidup dari unggas bertubuh kecil.

Terlebih di alam bebas, sarang burung Pipit berada di atas pepohonan yang tidak terlalu rimbun, sehingga saat hujan deras dan angin kencang menerpa, burung tersebut rentan jatuh dan membentur tanah hingga akhirnya mati.

"Berdasarkan penelitian yang saya lakukan kepada para peternak dan penjual di beberapa pasar burung seperti di Bandung dan beberapa kota besar lainnya, bahwa rendahnya daya tahan hidup dari burung bertubuh kecil di tengah cuaca ekstrem bukan hanya dialami burung Pipit, tapi juga dialami oleh kenari, pleci, dan jenis burung kecil lainnya. Karena tekanan hujan deras dan angin kencang, yang tidak dapat ditahan oleh kondisi tubuhnya," (Cipta Permana).

Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved