Breaking News:

Viral

Kok Bisa ya, Murid SD di Cianjur Ini Jadi Lupa Cara Membaca Akibat Lama Tak Belajar Tatap Muka

Ada hal yang ganjil dari kabar tersebut, katanya. Karena selama ini semua sekolah memberlakukan pembelajaran jarak jauh selama pandemi

Pixabay.com
ILUSTRASI anak belajar dari rumah 

Laporan Wartawan TribunJabar.id, Muhamad Syarif Abdussalam

TRIBUNCIREBON.COM, BANDUNG - Pengamat Kebijakan Publik dan Pendidikan dari Universitas Pendidikan Indonesia, Cecep Darmawan, mengatakan dinas pendidikan dan sekolah harus meneliti lebih jauh mengenai temuan seorang peserta didik kelas 4 SD di Cianjur yang dikabarkan lupa cara membaca setelah melakukan pembelajaran jarak jauh (PJJ) selama pandemi.

"Agak aneh juga ya kalau kelas 4 enggak bisa baca. Karena kan kalau kelas 3 dan 4 belajar online, masa lupa lagi membaca. Jadi selama Pembelajaran Jarak Jauh apa yang dikerjakan," kata Cecep melalui ponsel, Senin (6/9/2021).

Ada hal yang ganjil dari kabar tersebut, katanya. Karena selama ini semua sekolah memberlakukan pembelajaran jarak jauh selama pandemi. Kalaupun banyak kendala, membaca sudah menjadi kebutuhan sehari-hari.

"Apakah ini kasus dalam pengertian memang dari dulu anak ini ada masalah. Tapi kalau ada, kelas 1 dan 2 gimana. Kalau bener enggak bisa baca, efektivitas belajar PJJ bisa dinyatakan tidak berhasil," katanya.

Memang terdapat wacana yang menyatakan learning loss atau hilangnya satu generasi akibat tidak belajar selama PJJ, katanya. Namun, hal tersebut harus disertai dengan riset mendalam.

"Ada dugaan ya learning loss. Tapi kan kongkritnya harus ada riset. Tapi menurut pengamatan saya memang terjadi, lebih susah belajar, jadi learning loss memang terjadi," katanya.

Hal ini, katanya, terjadi bukan hanya di Indonesia, tapi di negara lainnya. Namun demikian, pihak sekolah harus mengevaluasi PJJ dan menyelesaikan berbagai kekurangannya supaya PJJ dapat lebih berhasil.

Apalagi, katanya, kalaupun pembelajaran tatap muka sudah dilakukan, sebagian masih melakukan PJJ. Karenanya, harus dievaluasi berbagai hal mengenai PJJ, kemudian diatasi.

"Kalau ada yang salah, yang dievakuasi kompetensinya, misalnya capaian kurikulumnya. Kemudian ke depannya harus ada pengawasan. Apakah dengan PJJ semua dapat akses jaringan internet, apa punya handphone," katanya.

Halaman
12
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved