Kamis, 30 April 2026
Superhub Kota Cirebon
Selamat Datang Di SuperHub Pemerintah Kota Cirebon

Kisah G30S PKI

Terlibat G30S/PKI, Brigjen Supardjo Diburu Tim Kalong, 2 Tahun Hilang, DItemukan di Sembunyi di Para

Mantan Brigjen Supardjo yang menjabat Wakil Ketua Dewan Revolusi pada kudeta yang gagal itu, sejak tanggal 1 Oktober 1965 menghilang dan menjadi buron

Tayang:
Penulis: Machmud Mubarok | Editor: Machmud Mubarok
Istimwa/Buku Supardjo Direnggut Kalong
Brigjen Supardjo yang menjabat wakil ketua Dewan Revolusi pada kudeta gagal G30S/PKI ditangkap aparat keamanan dan diajukan ke Mahmilub. 

TRIBUNCIREBON.COM - Untuk menghancurkan kegiatan PKI sesudah gagalnya kudeta G30S/PKI, ABRI melakukan operasi-operasi intelijen yang ditujukan terutama kepada para tokoh PKI yang menjadi otak dari gerakan PKI untuk mengembalikan kekuatannya.

Pengejaran terhadap tokoh nomor satu PKI D.N. Aidit dengan operasi intelijen membuahkan hasil dengan ditangkapnya Ketua CC PKI tersebut di Solo pada tanggal 23 November 1965.

Brigjen Supardjo ditangkap pada tanggal 12 Januari 1967 di Jakarta. Demikian juga tokoh -tokoh PKI lainnya yang umumnya ditangkap melalui operasi intelijen.

Seperti ditulis dalam buku Komunisme di Indonesia Jilid V Penumpasan Pemberontakan PKI dan Sisa-sisanya (1965-1981) terbitan Pusjarah TNI bekerja sama dengan Yayasan Kajian Citra Bangsa tahun 2009, disebutkan adanya Operasi Kalong, yaitu sebutan suatu operasi untuk menangkap dan mengejar para tokoh G30S/PKI yang masih bebas setelah kudeta tanggal 1 Oktober 1965.

Baca juga: Terkuak Penyebab Mengapa Soeharto Tak Diculik dan Dibunuh PKI Seperti Jenderal Lain dalam G30S/PKI

Baca juga: Ilham Aidit Berharap Bertemu Lagi Setelah DN Aidit Dijemput, Liat HL Koran Bos PKI Itu Dieksekusi

Operasi Kalong dilancarkan sejak tanggal 15 Agustus 1966. Dalam pelaksanaan operasi ini semua unsur Intel ABRI bekerjasama. Sesuai dengan namanya “Kalong”, maka operasinya lebih banyak dilakukan pada malam hari.

Mantan Brigjen Supardjo yang menjabat Wakil Ketua Dewan Revolusi pada kudeta yang gagal itu, sejak tanggal 1 Oktober 1965 menghilang dan menjadi buronan ABRI. Ia terpaksa harus menghindar dari sergapan ABRl dan rakyat.

Untuk beberapa lamanya Supardjo dapat lolos dari sergapan ABRl karena perlindungan dari oknum-oknum yang mendukung G30S/PKI.

Pada tanggal 2 Oktober 1965, Supardjo keluar dari wilayah basis PKI di Pondok Gede menuju ke daerah Senen. Ia tinggal sehari di sebuah gang sebelah Gedung Sandiwara Miss Cicih. Karena ada penangkapan terhadap orang-orang PKI di daerah ini, ia pindah ke Kramat Sentiong.

Selanjutnya Supardjo dibawa oleh Udi seorang kurir ke rumah Marto Suwandhi seorang anggota PKI di Jalan Gunung Sahari. Di tempat ini ia tinggal selama satu bulan dan mulai banyak berhubungan dengan orang- orang PKI lainnya

. Untuk keamanan selanjutnya Supardjo dibawa oleh orang yang bernama Saleh ke Cilincing dan tinggal di rumah Slamet Bernard seorang anggota PKI. Selanjutnya pindah ke rumah Sunardi, masih di daerah Cilincing.

Daerah Cilincing rupanya aman dan Supardjo tinggal di sana sampai empat bulan lamanya. Ia berpindah-pindah rumah dari rumah Slamet Bernard, rumah Mayor Laut Suwardhi dan ke rumah Kapten Laut Ir. Nandang Safei untuk menghindari penggerebekan yang tiba­-tiba diadakan oleh ABRI maupun rakyat. Atas usaha Sunardi, ia memperoleh kartu penduduk Kelurahan Semper atas nama Syarief.

Operasi “Kalong” yang terus mengejar para tokoh PKI, membuahkan hasil dengan banyaknya teman-teman Supardjo tertangkap.

Brigjen Supardjo yang menjabat wakil ketua Dewan Revolusi pada kudeta gagal G30S/PKI ditangkap aparat keamanan dan diajukan ke Mahmilub.
Brigjen Supardjo yang menjabat wakil ketua Dewan Revolusi pada kudeta gagal G30S/PKI ditangkap aparat keamanan dan diajukan ke Mahmilub. (Istimewa/Cover Buku Supardjo Direnggut Kalong)

Dari hasil pemeriksaan dan informasi yang di dapat, banyak tempat persembunyian dan pos perlindungan orang-orang PKI yang digerebek oleh Kalong. Akibatnya ruang gerak Supardjo semakin sempit.

Oleh karena daerah Cilincing sudah dianggap berbahaya, maka Supardjo berusaha menyingkir dari daerah itu tanggal 2 Januari 1967, ia datang ke sekitar Halim untuk mencari tempat persembunyiannya yang baru.

Ia menyamar sebagai pedagang radio dengan nama Ibrahim. Lain halnya dengan rekan Supardjo, Amir Anwar Sanusi bekas Wakil Sekjen Front Nasional, yang terkenal dengan ucapan-ucapannya menjelang kudeta G30S/PKI bahwa “Ibu Pertiwi sedang dalam keadaan hamil tua”, ia menyamar sebagai tukang buah yang berpenampilan kumal.

Anwar Sanusi pun sedang dalam kejaran operasi Kalong. Ia mengganti namanya dengan Udin alias M. Amin yang dilengkapi pula dengan kartu penduduk. Keduanya sama-sama sedang berusaha untuk bersembunyi di daerah Halim.

Dalam perjalanan dari Cilincing ke sekitar Halim, Supardjo dijemput oleh Syawaludin (anggota PKI) di Kramatjati. Kemudian Syawaludin mengantarkan Supardjo ke rumah Kopral Udara Sutarjo di Kompleks Dwikora, Halim.

Tenyata kedatangan Supardjo tercium oleh intel-intel Kalong yang dikerahkan mencarinya. Sebagai unsur pelaksana operasi “Kalong” Komandan Kodim 0501 Letkol Sudjiman, mengadakan koordinasi dengan Pangkowilu V dan Komandan Pangkalan Udara Halim Perdanakusuma.

Kepada Kapten Inf. Suroso diperintahkan memimpin tim “Kalong” dengan tujuh orang anggotanya sekaligus mengadakan koordinasi dengan Komandan Pangkalan Udara Halim Perdanakusuma Kolonel Rusman.

Dari hasil koordinasi dengan Pangkowilu V Komodor Udara Saleh Basarah menugaskan empat orang intelnya dipimpin oleh Letnan Udara I : Moch. Tohir dan delapan orang Polisi Angkatan Udara (Pol-AU) dipimpin oleh Kapten Udara Wihardono dan Letnan Udara I Basuki, untuk diperbantukan dalam pelaksanaan operasi. Keikutsertaan unsur AURI sangat penting mengingat daerah yang akan dimasuki adalah Pangkalan Udara Halim.

Untuk menyesuaikan keadaan, anggota Angkatan Darat yang tergabung dalam tim operasi “Kalong” mengenakan seragam Angkatan Udara. Maksudnya agar penghuni rumah di Kompleks Halim tidak curiga terhadap orang luar yang datang memasuki Halim. Demikian juga kendaraan yang digunakan adalah Jeep Nissan milik AURI.

Tepat pada pulul 03.00 tanggal 12 Januari 1967 subuh, di suatu tempat di dekat Kompleks Halim, Kapten Inf. Suroso memberikan komando agar semua anggota menaiki dua buah Jeep Nissan AURl yang sudah dipersiapkan.

Tetapi di tengah perjalanan salah satu kendaraan itu mogok. Berkat jasa seorang anggota AURl yang ikut dalam Tim, berhasil dicari kendaraan lain sebagai pengganti Jeep yang mogok itu. Akhirnya perjalanan dapat dilanjutkan.

Mendekati arah sasaran, mereka diperintahkan turun dan menyusun formasi. Menurut perkiraan Supardjo tidak akan menyerah begitu saja karena ia mempunyai sepucuk senjata jenis AK.

Ada dua rumah yang menjadi sasaran yang diperkirakan tempat persembunyian Supardjo. Sasaran pertama yakni rumah Kopral Yatimin. Ketika diadakan penggerebekan dan penggeledahan rumah itu kosong.

Kapten Suroso yakin kemungkinan besar Supardjo ada di rumah yang kedua yakni rumah Kopral Udara Sutarjo. Tepat pukul 05.00 rumah kedua digerebek. Kapten Suroso, Peltu Rosyadi, Lettu Udara Basuki dan Lettu Udara Moch. Tohir memasuki rumah Kopral Udara Sutarjo. Ketika ditanya, Kopral Sutarjo mengatakan tidak kenaI dengan Brigjen. Supardjo.

Kemudian Kapten Suroso memerintahkan anak buahnya untuk memeriksa rumah tersebut. Di dalam rumah didapati tulisan-tulisan, guntingan pengumuman serta koran-koran yang ditempelkan didinding tembok kamar, bunyinya antara lain “Eks Brigjen Supardjo segera tangkap hidup atau mati”.

Selain itu di salah satu sudut kamar yang lain tergantung sebuah kemeja berwarna putih. Dari dalam saku kemeja tersebut didapati sebuah kartu penduduk atas nama M. Syarief. Tidak jauh dari kamar didapati sepucuk senjata AK. Kemudian kartu penduduk diambil dan senjata AK diamankan.

Ketika melihat kartu penduduk itu, Kapten Suroso yang lebih dulu mengenali Supardjo, semakin yakin bahwa buronannya masih ada di sekitar tempat itu. Dengan keyakinannya Kapten Suroso memerintahkan semua anggotanya meningkatkan kewaspadaan baik yang di luar maupun di dalam rumah, karena pihak lawan jelas masih mempunyai jenis senjata AK yang biasa digunakan oleh PKI.

Penjagaan disusun secara berlapis walaupun saat itu Tim “Kalong” hanya berkekuatan 20 orang dan bersenjata pistol.

Berkat pengalaman Tim “Kalong” yang umumnya bergerak di malam hari dengan orang-orang yang terlatih, pemeriksaan di atas para-para rumah tidak dilewatkan, karena pemeriksaan di dalam rumah Supardjo tidak ditemukan, maka Kapten Suroso memerintahkan Sersan Sukirman naik ke atas para-para. Apalagi di dinding kamar mandi terlihat jejak telapak kaki yang masih basah.

Sersan Sukirman melaporkan tidak melihat apa-apa di atas karena cuaca di dalam para-para sangat gelap sekali. Ia diperintahkan turun. Selanjutnya Kapten Suroso memerintahkan Peltu Rosadi agar naik memeriksanya sekali lagi.

Dalam keadaan remang-remang Peltu Rosadi melihat ada benda putih di sudut para-para, sedangkan Kapten Suroso dari bawah mendengar bunyi yang mencurigakan di atasnya.

PELTU ROSADI KEMUDIAN BERTERIAK, “KALAU MANUSIA MENYERAH, KALAU BUKAN SAYA TEMBAK!”. AKHIRNYA BENDA PUTIH ITU YANG TIDAK LAIN ADALAH SUPARDJO BERKATA “YA SAYA MENYERAH!”. PELTU ROSADI SELANJUTNYA MEMERINTAHKAN IA TURUN. SUPARDJO YANG HANYA MEMAKAI BAJU KAOS PUTIH TANPA LEHER DAN CELANA PENDEK PUTIH TIBA DI BAWAH DAN BERKATA, “YAH, SAMPAI DI SINI PERJUANGAN SAYA.”

Setelah yakin yang ditangkap Supardjo, Kapten Suroso menanyakan di mana dokumen disembunyikan. Supardjo menjawab “ada di dalam para-para”. Kapten Suroso memerintahkan kembali anak buahnya untuk mengambil dokumen di dalam para-para.

Ternyata ketika Supardjo bersembunyi di dalam para-para tidak membawa senjata, ia membawa radio transistor kecil. Para-para itu selain dipakai tempat persembunyian rahasia, juga berfungsi untuk menyimpan buku dan dokumen-dokumen penting.

Kemudian Supardjo dipersilahkan memakai pakaian. Dengan memakai kemeja warna putih, celana wool dan sandal warna coklat, ia mengucapkan Selamat Hari Lebaran kepada Kapten Suroso dan mengatakan bangga terhadap intel ABRI yang menangkapnya.

Penangkapan Supardjo oleh Tim “Kalong” berlangsung setengah jam dari pukul 05.00 sampai pukul 05.30 pagi. Kemudian Supardjo dibawa ke Kodim 0501 dengan dikawal oleh Kapten Suroso bersama empat anggota AURI. Sedangkan Lettu Udara Moch. Tohir memimpin anggota lainnya menuju jalan Mustang Halim dengan kendaraan yang satunya untuk menangkap Anwar Sanusi yang bersembunyi di tempat itu.

Sumber: Tribun Cirebon
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved