Breaking News:

Virus Corona

Pasien Covid-19 Bisa Kembali Sehat, Obat Ini Ternyata Bantu Kurangi Risiko Kematian karena Corona

Menuru studi, Pasien Covid-19 yang meninggal karena penyakit yang parah lebih jarang karena obat ini.

Xinhua Via SCMP
Tim medis memberikan kode kepada salah satu pasien virus Corona. 

TRIBUNCIREBON.COM- Pasien Covid-19 dengan gejalan parah dan dirawat di rumah sakit, yang menerima obat rheumatoid arthritis baricitinib yang dikombinasikan dengan standar perawatan lainnya, dapat terhindar dari risiko kematian.

Menurut sebuah studi yang dipublikasikan di The Lancet Respiratory Medicine, pasien Covid-19 yang meninggal karena penyakit yang parah lebih jarang, setelah standar perawatan mereka dikombinasikan dengan obat rheumatoid arthritis.

Peneliti utama studi tersebut adalah E. Wesley Ely, MD, MPH, Grant Liddle Professor of Medicine di Vanderbilt University Medical Center, dan Vince Marconi, MD, dari Emory University.

Dilansir dari Medical Xpress, Kamis (2/9/2021), studi ini melibatkan 1.525 pasien Covid-19 dengan oksigen tambahan, yang dirawat di 101 rumah sakit di 12 negara, yakni Asia, Eropa, Amerika Utara dan Amerika Selatan.

Baca juga: Pasien Covid-19 Bisa Selamat, Tiga Makanan Ini Ternyata Bantu Cepat Sembuh dari Virus Corona

Ely dan Marconi tidak menerima kompensasi finansial untuk pekerjaan mereka dalam penelitian, yang didanai oleh Eli Lilly and Company, perusahaan yang membuat rheumatoid arthritis baricitinib, obat yang dikenal karena sifat anti-inflamasinya atau anti peradangan.

Dalam uji coba COV-BARRIER, untuk menunjukkan bahwa obat tersebut dapat mengurangi risiko kematian pasien Covid-19, penerimanya ditentukan secara acak untuk menerima obat rheumatoid arthritis baricitinib versus plasebo, yang diberikan sekali sehari hingga 14 hari di samping standar perawatan, yang mencakup obat deksametason dan remdesivir.

Penyelidikan COV-BARRIER ini, menemukan bahwa obat rheumatoid arthritis baricitinib dapat mengurangi mortalitas 28 hari dan 60 hari sebesar 5 persen dibandingkan dengan plasebo.

"Pasien yang dirawat di rumah sakit dengan infeksi SARS-CoV-2, sering mengalami keadaan hiperinflamasi intens yang dapat menyebabkan disfungsi banyak organ, termasuk sindrom gangguan pernapasan akut, syok septik, dan kematian," kata Ely.

Baca juga: Setelah CT Scan Wanita yang Tak Bisa Tidur Selama 7 Tahun di KBB Juga Minta Ditangani Psikolog

Ely menambahkan meskipun pengobatan dengan remdesivir, deksametason dan tocilizumab, dapat mengurangi kematian di antara pasien yang dirawat di rumah sakit, standar pengeobatan ini tetap menjadi kebutuhan penting yang belum terpenuhi.

"Semakin jelas bahwa pengobatan dengan baricitinib dapat membantu mencegah kematian pada beberapa pasien Covid-19 yang paling kritis, dan bahwa kelas obat ini merupakan kemajuan pengobatan yang penting untuk kelompok pasien yang rentan ini dalam pandemi yang terus berkembang," imbuh Ely.

Ely menambahkan bahwa obat baricitinib adalah penghambat Janus kinases (JAK) 1 dan 2, yang menenangkan sistem kekebalan. Dengan dikombinasikan dengan standar pengobatan yang ada, dapat membantu kurangi risiko kematian pasien Covid-19.

"Analisis komputer besar-besaran dilakukan di awal pandemi, mencoba mencari tahu obat apa yang terbaik untuk digunakan kembali untuk efek anti-virus Covid-19," kata Ely.

Obat dengan efek anti-inflamasi atau anti peradangan juga penting bagi pasien yang sakit dan dirawat di rumah sakit. Adapun cara kerja obat ini, penghambat JAK secara selektif menekan sinyal melalui reseptor JAK, menghalangi jalur transduksi yang mengarah pada peradangan.

Baca juga: Via SMS di HP atau pedulilindungi.id, Ini Cara Cek dan Download Sertifikat Vaksin Covid-19

"Obat-obatan seperti baricitinib menghentikan beberapa jalur kaskade inflamasi untuk menahan peradangan yang biasanya dimulai oleh Covid-19," jelas Ely.

Lebih lanjut Ely menjelaskan bahwa data COV-BARRIER menunjukkan bahwa pasien yang lebih sakit pada saat pendaftaran, semakin besar penurunan angka kematian.

Data dari tambahan COV-BARRIER, yang mencakup pasien rawat inap dengan Covid-19 pada ventilasi mekanis dan ECMO (oksigenasi membran ekstrakorporeal) pada saat penerimaan, menunjukkan peningkatan yang lebih besar dalam kelangsungan hidup pada kelompok yang diberi obat rheumatoid arthritis baricitinib.

Kendati demikian, satu temuan mengejutkan dalam studi Lancet yakni meskipun obat tersebut mengurangi kematian pasien Covid-19, beberapa pasien masih mengalami kemajuan dalam tingkat keparahan penyakit mereka.

"Ketika Covid menyerang tubuh Anda, kami tidak menemukan bahwa obat ini menghentikan kemajuan proses penyakit sepenuhnya. Jika Anda sudah sakit, Anda akan terus menjadi sedikit lebih sakit," ungkap Ely.

Namun, dengan menambahkan obat rheumatoid arthritis baricitinib dalam standar pengobatan Covid-19, dapat membuat Anda tidak melompati tebing menuju kematian.

Obat baricitinib diidentifikasi pada Februari 2020 sebagai intervensi potensial untuk pengobatan Covid-19.

FDA memberikan Otorisasi Penggunaan Darurat (EUA) untuk obat ini pada November 2020, untuk diberikan dalam kombinasi dengan obat remdesivir, kemudian mengubah EUA kemudian untuk memungkinkan baricitinib diberikan dengan atau tanpa remdesivir.

Lilly mendonasikan terapi Covid-19 ke Direct Relief, yang memungkinkan organisasi kemanusiaan tersebut menyediakan terapi Covid-19 tanpa biaya ke negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah ke bawah yang paling terkena dampak pandemi.

Berita tentang Covid-19

Sumber: Tribun Bogor
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

Tribun JualBeli
© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved