Breaking News:

Pandemi Covid-19 Bikin Perceraian di Bandung Barat Meningkat, Rata-rata Masalahnya Kesulitan Ekonomi

Seperti diketahui, sejak awal tahun 2021 ada 2.115 pasangan yang mengajukan permohonan untuk bercerai dengan rincian. . .

Istimewa
ilustrasi uang 

TRIBUNCIREBON.COM, BANDUNG BARAT - Psikolog sekaligus Dosen Fakultas Psikologi Universitas Islam Bandung (Unisba), Stephani Raihana Hamdan, S.Psi, M.Psi, menanggapi fenomena banyaknya kasus perceraian akibat faktor ekonomi di Kabupaten Bandung Barat (KBB).

Seperti diketahui, sejak awal tahun 2021 ada 2.115 pasangan yang mengajukan permohonan untuk bercerai dengan rincian 1.675 wanita mengajukan cerai gugat dan 480 laki-laki mengajukan cerai talak.

Menurut Stephani, terjadinya perceraian akibat faktor ekonomi itu karena mereka sudah tidak memiliki komitmen untuk tetap bertahan dengan pernikahannya, padahal kunci agar tidak terjadi perceraian tersebut hanyalah sebuah komitmen.

"Jadi ketika ada tekanan ekonomi, pandemi Covid-19 yang bisa membuat stres, komunikasi dengan pasangan yang bermasalah hingga akhirnya dia mau bercerai atau tidak, kata kuncinya hanya komitmen," ujarnya saat dihubungi, Senin (23/8/2021).

Sebetulnya, kata dia, pada zaman dulu juga banyak pernikahan yang bermasalah dengan faktor ekonomi itu, tetapi karena mereka memiliki komitmen yang kuat, maka mereka hingga saat ini tetap mempertahankan pernikahannya.

"Dulu kondisinya bermasalah juga, tapi tidak banyak perceraian karena balik lagi, kata kuncinya pada komitmen," kata Stephani.

Selain memperkuat komitmen, kata dia, setiap pasangan itu harus memiliki visi misi dan tujuan yang sama, termasuk harus ada komunikasi di dalamnya agar tidak terjadi perceraian meskipun banyak permasalahan dalam rumah tangga.

Baca juga: PUSPA Kabupaten Bandung Soroti Angka Perceraian dan Pernikahan di Bawah Usia 20 Tahun

"Jadi, meskipun ada badai ekonomi, termasuk kesulitan ekonomi dan yang lainnya, kalau kita punya sisi yang sama, seharusnya bisa dilalui bersama," ucapnya.

Namun untuk saat ini, kata Stephani, pasangan yang bercerai itu masalahnya sudah tidak satu visi, dan sudah tidak memiliki komitmen yang kuat satu sama lain, sehingga masalah ekonomi menjadi permasalahan yang sangat berat.

"Kondisi ekonomi yang tadi rasanya jadi berat sendiri karena tidak ada kebersamaan. Jadi ada tuntunan, misalnya suami harus tetap bisa menafkahi, kalau tidak bisa istri minta cerai atau kebalikannya," ujar Stephani.

Penyebab perceraian pasangan suami istri di Bandung Barat sendiri kebanyakan memang karena faktor ekonomi, seperti ada seorang suami yang sudah tidak mampu untuk menafkahi istrinya. 

Sementara di satu sisi, istrinya memiliki penghasilan yang mencukupi untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, sedangkan suaminya tidak bisa untuk mengimbangi penghasilan istrinya itu, sehingga terjadilah perceraian. 

"Kalau seperti itu harus ada kesepahaman, jadi kalau seandainya istri yang bekerja, kemudian dalam tanda kutip suami jadi bapak rumah tangga harus menyepakati kembali komitmen rumah tangganya," katanya.

Jika kondisinya seperti itu, kata dia, harus ada kesepakatan bersama, misalnya suami tidak banyak menuntut kepada istri, terutama dalam hal melayani saat berada berdua di rumah.

"Kesepakan itu pasti sudah ada konsekuensinya, misalnya jangan harap suami dibikinin kopi karena kan istrinya kerja. Jadi jangan meminta istri tetap melakukan tugasnya yang sama seperti dia (istri) tidak bekerja, tapi harus sama-sama tenggang rasa," ucap Stephani.

Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved