Breaking News:

Setengah Rumah di Desa Pinara Hilang Akibat Longsor 2017, Sampai Kini Warga Masih Benahi Fasos

dampak kejadian longsor itu hingga sekarang belum sepenuhnya kembali normal. masjid, jalan desa dan fasilitas umum lainnya serta rumah warga rusak

Penulis: Ahmad Ripai | Editor: Machmud Mubarok
TribunCirebon.com/Ahmad Ripai
Anggota DPRD Kuningan, Sri Laelasari di sela kegiatan lapangan sekaligus penyerapan aspirasi alias reses di Desa Pinara, Kecamatan Ciniru, Kabupaten Kuningan, Jumat siang (13/8/2021). 

Laporan Kontributor Kuningan, Ahmad Ripai

TRIBUNCIREBON.COM, KUNINGAN – Dampak bencana longsor di Desa Pinara, Kecamatan Ciniru, Kuningan yang terjadi beberapa tahun lalu masih menyisakan keprihatinan mendalam. Sebab tidak sedikit rumah warga dan fasilitas umum di lingkungan itu hilang akibat bencana alam. 

“Iya waktu bencana longsor itu terjadi pada tahun 2017, sebanyak 170 warga diungsikan semantara. Tindakan itu akibat rumah warga dan sarana umum sosial hilang akibat longsor,” kata Lili Suhaeni, Kepala Desa Pinara saat berbincang dengan Anggota DPRD Kuningan, Sri Laelasari di sela kegiatan lapangan sekaligus penyerapan aspirasi alias reses, Jum’at siang (13/8/2021).

Orang nomor satu di Desa Pinara, Kecamata Ciniru ini mengatakan, dampak kejadian longsor itu hingga sekarang belum sepenuhnya kembali normal. 

“Akibat longsor itu, masjid, jalan desa dan fasilitas umum lainnya serta rumah warga rusak. Dari kejadian itu hingga sekarang, kami bareng terus berbenah agar normal seperti semula, baik perumahan warga dan fasilitas umum lainnya,” ujar Lili lagi.

Baca juga: Terjadi Pergerakan Tanah, DPRD Kuningan: Segera Tanggap Bencana & Kajian Relokasi atau Tidak

Di tempat sama, Anggota DPRD Kuningan Sri Laelasari saat di lokasi mengatakan, untuk permasalahan sosial yang dirasakan warga Desa Pinara, tentu menjadi priorotas pelayanan sebagai wakil rakyat dan penyelenggara pemerintah.

“Kita ketahui dulu bagaimana kondisi Desa Pinara yang hampir hilang secara adminitrasi akibat longsor.  Namun setelah dilakukan berbagai upaya dari warga dan pemerintah desa, hingga sekarang melakukan banyak pembenahan akibat longsor
Kami tidak hanya diam melihat lingkungan dan kesedihan warga di sini,” ujar Sri yang juga Anggota Komisi III DPRD Kuningan.

Sri Laelasari mengklaim bahwa penataan lingkungan melalui perbaikan jalan desa dan sarana ibadah masuk dalam program pemerintah dalam memberikan kenyamanan melalui fasilitas umum dan social.

“Pekerjaan rumah untuk fasilitas umum dan sosial, tentu menjadi tanggung jawab kami dan ini akan menjadi pekerjaan pribadi sebagai bentuk pelayanan terhadap warga terdampak,” kata Sri seraya memberikan paket semabako di agenda reses tersebut.

Kaitan dengan masa pandemi covid-19, Sri mengaku bahwa perjuangan ini juga bagian untuk mendongkrak ekonomi kerakyatan. 

“Pesan saya warga di sini taat dan gunakan protokol kesehatan, kemudian untuk perbaikan dan pembenahan fasos dan fasum itu semoga bisa direalisasikan cepat. Karena ini bagian peningkatan ekonomi di lingkungan masyarakat juga,” katanya. (*)

Sumber: Tribun Cirebon
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved