Breaking News:

Duh Kota Cirebon Kritis Kantung Jenazah untuk Pasien Covid-19, Hanya Tersisa 50 Buah

Khaerul Bahtiar, mengatakan, kantung jenazah tersebut digunakan untuk pemakaman pasien Covid-19 yang meninggal dunia.

Editor: Mumu Mujahidin
Istimewa
Tim Disinfektan dan Pemulasaraan Jenazah Covid-19 Lembang. 

Selain krisis kantong jenazah, pihaknya juga membutuhkan perlengkapan lainnya untuk memakamkan pasien Covid-19 yang meninggal dunia baik yang tengah melakukan isolasi mandiri ataupun dalam perawatan pihak rumah sakit.

Baca juga: Sebanyak 23 Warga Kota Tasik Meninggal Saat Jalani Isolasi Mandiri Per Juli 2021

Perlengkapan tersebut, kata dia, di antaranya alat pelindung diri (APD), sarung tangan karet dan masker agar selama bertugas merasa tenang aman dan nyaman.

"Agar proses pemakaman berjalan dengan prosedur Covid-19 kami membutuhkan peralatan yang lengkap. Untuk masker sebetulnya banyak yang menyumbang tapi cepat habisnya," ucap July.

Selain memakamkan warga lokal, pihaknya juga menerima kiriman jenazah Covid-19 dari luar daerah dan memiliki riwayat pernah hidup atau tinggal di Lembang.

Menurutnya,  jika kondisi ini terus berlangsung, pihaknya mengaku bakal kewalahan untuk menguburkan jenazah Covid-19 seiring meningkatnya kematian pasien konfirmasi positif.

"Soalnya dalam menjalankan tugas, kami wajib dilengkapi alat pelindung diri, butuh sebanyak-banyaknya karena perlengkapan ini sangat dibutuhkan," katanya.

Baca juga: FAKTA BARU Pemakaman Peti Kosong di Klaten, Ternyata Jenazah Pasien Covid-19 Tertinggal di RS

Ini Kata Dinkes

Kepala Bidang Sumber Daya Kesehatan (SDK) Dinas Kesehatan KBB, Wishnu Pramulo Adhi, mengatakan, jika ada kematian pasien diluar rumah sakit, maka pihak Satgas desa dan Puskesmas yang sudah dilatih pemulasaraan akan melaksanakan dan meminta peti serta kelengkapan lainnya ke rumah sakit terdekat.
"Saya kurang paham kenapa hal ini terjadi. Apa kematian tersebut diketahui satgas dan puskesmas atau tidak? Jika stok habis di Lembang, bisa ambil di rumah sakit lain," ujarnya saat dihubungi, Kamis (15/7/2021).
Menurutnya, semua Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) di wilayah KBB sudah menjadi tempat penyimpanan peti jenazah beserta kelengkapannya, seperti RSUD Cililin, Cikalongwetan, dan Lembang.
"Setahu saya beberapa bulan kemarin Dinkes KBB sudah menyediakan stok peti jenazah dan kelengkapan, baik plastik wrap dan kantung jenazah," katanya.
Sejauh ini pihaknya juga belum pernah menerima laporan adanya desa yang mengalami kehabisan stok kantong jenazah seperti yang terjadi di daerah Lembang. 
"Selama ini semua Satgas desa koordinasi dengan puskesmas setempat," ucap Wishnu.
Ketua Tim Pemulasaraan Jenazah Covid-19 Desa Lembang Ade Juhaeri mengatakan, setelah adanya pasien Covid-19 yang meninggal dunia lalu dibungkus plastik karena stok kantong jenazah habis, pihaknya berharap ada partisipasi dari semua pihak.
"Harapannya kepada semua pihak yang memiliki kewenangan untuk kerjasama menyiapkan kebutuhan apabila ada warga yang meninggal dunia terpapar Covid-19 saat sedang isoman," katanya.
Ade mengatakan, kebutuhan yang sifatnya darurat seperti peti jenazah dan kantong mayat bagi warga positif Covid-19 yang meninggal saat sedang isolasi mandiri bukan kewenangan pihak desa. 
"Soal barang-barang tersebut kita tidak menyiapkan itu karena bukan kewenangan pihak desa," ucap Ade. 
Tak cuma kantong jenazah, Ade mengatakan ia dan anggota tim pemulasaraan jenazah Covid-19 Desa Lembang juga membutuhkan lebih banyak Alat Pelindung Diri (APD). 

Setuju Perpanjang PPKM Darurat

Pemerintah Kabupaten Bandung Barat (KBB) setuju terkait wacana pemerintah pusat yang akan memperpanjang Pemberlakukan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat hingga 6 pekan kedepan.

Sekretaris Daerah (Sekda) KBB, Asep Sodikin, mengatakan, Pemda KBB setuju PPKM Darurat tersebut diperpanjang karena dalam kondisi seperti ini pemerintah lebih mementingkan kesehatan masyarakat KBB.

"Iya (setuju), karena tentunya pemerintah pusat juga pasti penuh pertimbangan. Enggak mungkin (kebijakannya) asal-asalan," ujarnya saat dihubungi melalui sambungan telepon, Rabu (13/7/2021).

Disisi lain, Asep juga mengakui jika PPKM Darurat ini diperpanjang, nantinya perekonomian di KBB akan semakin terpuruk, termasuk akan sangat berdampak terhadap pengelola obyek wisata.

Hal tersebut karena selama penerapan PPKM Darurat ini obyek wisata harus ditutup, jam operasional untuk pasar tardisional dan supermarket dibatasi, dan tempat kuliner juga hanya melayani take away.

"Kalau kita berpikir kesana (perekonomian), tapi dari sisi kesehatan bobrok, saya pikir masalah ekonomi enggak akan maju juga, dan siapapun gak akan berani," kata Asep.

Menurutnya, jika melihat kondisi kasus Covid-19 yang saat ini masih tinggi, maka kondisi kesehatan memang harus diutamakan ketimbang kondisi perekonomian.

"Makanya kami sebagai pemerintah daerah, pasti akan mengikuti kebijakan pusat," ucapnya.

Asep mengatakan, berdasarkan hasil monitoring pemerintah pusat, bahwa penerapan PPKM Darurat ini sudah bisa menekan mobilitas masyarakat, termasuk di daerah Bandung Barat.

"Tapi upaya untuk lebih menurunkan mobilitas masyarakat masih terus ditingkatkan supaya pemaparan virus corona bisa ditekan, selain dengan cara meningkatkan target vaksinasi dan testing," ujar Asep.

Sumber: Tribun Cirebon
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved