Breaking News:

Kabar Duka

INNALILLAHI, Prof Dr Dinan S Bratakoesoema Guru Besar Kedokteran Unpad Meninggal Dunia

Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran (Unpad), Prof Dr Dinan Syarifudin Bratakoesoema SpOG, meninggal dunia

Penulis: Machmud Mubarok | Editor: Machmud Mubarok
Facebook
Guru Besar Fakultas Kedokteran Unpad, Prof Dr Dinan S Bratakoesoema SpOG meninggal dunia, Kamis (15/7/2021). 

TRIBUNCIREBON.COM - Innalillahi wainnailaihi rojiun. Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran (Unpad), Prof Dr Dinan Syarifudin Bratakoesoema SpOG (K), meninggal dunia, Kamis (15/7/2021).

Informasi tentang berpulangnya Prof Dinan disampaikan akun Facebook Oki Jambros Trisatya di grup IKA UNPAD.

"Innalilahi wa innailaihi rojiun, Turut berduka cita atas wafatnya Prof. Dinan S. Bratakusuma, Sp.Og., Guru Besar Fakultas Kedokteran Unpad , semoga almarhum ditempatkan yg terbaik
 
oleh Allah SWT dan keluarga yg ditinggalkan diberikan ketabahan dan kesabaran. Allohumaghfirlahu warhamhu wa'afihi wa'fuanhu.aamiin," tulis Oki.

Prof Dr Dinan sudah purnabakti dari Unpad pada 2013 di masa Rektor Ganjar Kurnia.

 Saat menyampaikan pidato purnabaktinya, Prof Dr Dinan mengangkat persoalan Angka Kematian Ibu (AKI) saat persalinan di Indonesia ternyata tergolong tinggi. Indonesia menduduki nomor 3 tertinggi di kawasan Asia Selatan dan Asia Tenggara untuk jumlah AKI.

Berdasarkan data dari Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia ( SDKI ) tahun 2007, banyaknya AKI berjumlah 228 orang dari 100.000 kelahiran. Angka ini 20 – 30 kali lebih lipat dibanding dengan AKI di Malaysia dan Singapura.

“Dari data di atas, seharusnya AKI ini dipandang sebagai publical problem. Nyatanya di beberapa puskesmas, publical problem masih dikategorikan untuk penyakit menular,” ujar Guru Besar Fakultas Kedokteran (FK) Unpad, Prof. Dr. Dinan S. Bratakoesoema, dr., SpOG(K), saat menyampaikan Pidato Purnabaktinya yang berjudul “Penurunan Angka Kematian Ibu di Jawa Barat, Suatu Tantangan Bagi Insan Kesehatan Jawa Barat”, Rabu (17/04/2013) di Auditorium Rumah Sakit Pendidikan Unpad, Bandung, sebagaimana disiarkan laman unpad.ac.id

Menurut Prof. Dinan, tingginya AKI di Indonesia dipengaruhi oleh beberapa hal yang lebih dikenal dengan istilah 4 terlalu dan 3 terlambat, yakni terlalu muda, terlalu tua, terlalu sering melahirkan, terlalu banyak, dan terlambat dalam mencapai fasilitas, terlambat mendapatkan pertolongan, dan terlambat mengenali tanda bahaya kehamilan dan persalinan. Oleh karena itu, pelayanan KB berkualitas di Indonesia perlu diperhatikan secara serius.

“Ibu-ibu di Jawa Barat ternyata masih banyak yang melahirkan dengan bantuan dari para paraji atau dukun beranak. Sebab, ketersediaan bidan di wilayah Jawa Barat belum merata,” ujar Prof. Dinan.

Di sisi lain, para bidan yang ada pun belum sepenuhnya memiliki keahlian di bidangnya. Hal itulah yang disesalkan oleh Prof. Dinan. Oleh karena itu, ia bersama Perkumpulan Obstetri dan Ginekologi Indonesia (POGI) tengah menggalakkan program EMAS (Expanding Maternal and Neonatal Survival) di Jawa Barat.

Halaman
12
Sumber: Tribun Cirebon
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved