Breaking News:

Langgar Aturan PPKM Darurat, Pabrik Sepatu Nike di Garut Didenda Rp 20 Juta, Sebelumnya Disidak

Setelah sebelumnya disidak Satgas Covid-19 karena melanggar protokol kesehatan, 3 pabrik di Garut hari ini menjalani persidangan tindak pidana ringan

Editor: dedy herdiana
Tribunjabar.id/Sidqi Al Ghifari
Saksi dari PT Changshin Rekya Jaya sedang menjalani persidangan tipiring, Kamis (8/7/2021) 

Laporan Kontributor Tribunjabar.id, Sidqi Al Ghifari
 
TRIBUNCIREBON.COM, GARUT - Setelah sebelumnya disidak Satgas Covid-19 karena melanggar protokol kesehatan, 3 pabrik di Garut hari ini menjalani persidangan tindak pidana ringan (tipiring), Kamis (8/7/2021).

Ketiga pabrik itu masing-masing, pabrik sepatu Nike yakni PT Changshin Reksa Jaya, pabrik bulu mata palsu yakni PT Daux International, dan PT  Danbi International.

Kepala Kejaksaan Negeri Garut, Sugeng Hariadi mengatakan ketiga pabrik tersebut divonis dengan denda puluhan juta rupiah yakni Rp 13 juta hingga Rp 20 juta rupiah.

Baca juga: Hari Ke-2 Sidang Pelanggar PPKM Darurat di Kota Tasik, Hakim Beri Vonis Denda Total Capai Rp 26 Juta

"Denda ini menjadi yang rekor paling tinggi di Kabupaten Garut selama pelaksanaan PPKM darurat," ungkapnya.

Sugeng menjelaskan ketiga pabrik tersebut melanggar aturan dengan mempekerjakan seratus persen karyawannya di masa PPKM Darurat.

"Selama PPKM Darurat ini yang dipekerjakan 50 persen hanya staff saja, sedangkan karyawan lainnya tetap full 100 persen," ucapnya.

Baca juga: Gara-gara Tidak Pakai Masker, 26 Warga Kota Cirebon Masing-masing Didenda Rp 100 Ribu

Ketiga PT tersebut adalah pabrik sepatu Nike yakni PT Changshin Reksa Jaya dengan vonis denda Rp 20 juta rupiah subsider kurungan 1 bulan penjara.

Pabrik Bulu Mata Palsu yakni PT Daux International divonis dengan denda Rp.13,5 juta rupiah dan PT  Danbi International dengan denda Rp. 15 juta rupiah subsider 1 bulan kurungan.

Dalam persidangan saksi dari PT Changsin Reksa Jaya mengatakan kepada majelis hakim bahwa pihaknya telah salah persepsi dengan aturan work from office (WFO) sebesar 50 persen hanya berlaku buat staff saja padahal aturan tersebut berlaku kepada seluruh karyawan pabrik.

Baca juga: Alhamdulillah, Tukang Bubur Ayam Tak Jadi Didenda Rp 5 Juta karena Ada Hamba Allah yang Bayarin

Manajer Legal PT Changsin Reksa Jaya, Tikno mengakui bahwa pihaknya bersalah dan menerima putusan majelis hakim.

Menurut Tikno pihaknya akan melakulan komunikasi terlebih dulu kepada atasannya untuk melakukan pembatasan 50 persen  karyawan selama PPKM Darurat.

"Ya kita bicarakan dulu, kami menerima putusan hakim dan akan membayar dendanya," ucap Tikno.(*)

Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved