Breaking News:

Cerita Warga Desa Miliarder di Kuningan, Rumah Harus Diratakan Tapi Lokasi Pengganti Belum Jadi

Bidang tanah yang termasuk lahan pemakaman umum, kata Kusto juga menjadi pembahasan pergantian pembayaran pemerintah.

Penulis: Ahmad Ripai
Editor: Machmud Mubarok
TribunCirebon.com/Ahmad Ripai
Rumah milik warga Desa Kawungsari Kuningan mulai dirobohkan dan diratakan dengan tanah karena akan mulai digenangi air Waduk Kuningan per 21 Juni 2021. 

Laporan Kontributor Kuningan, Ahmad Ripai

TRIBUNCIREBON.COM, KUNINGAN - Kondisi warga desa miliarder,  yaitu Desa Kawungsari di Kuningan, yang direlokasi karena tergusur proyek waduk, ternyata menyisakan banyak cerita. Salah satunya, soal bidang tanah warga yang hingga sekarang belum diganti oleh pemerintah.

"Ada 14 bidang tanah di desa kami yang belum terbayar oleh pemerintah, termasuk bidang tanah milik saya," ungkap Kusto, Kepala Desa Kawungsari, Kecamatan Cibeureum, Kuningan Jawa Barat saat di temui di rumahnya, Jumat (11/6/2021).

Bidang tanah yang termasuk lahan pemakaman umum, kata Kusto juga menjadi pembahasan pergantian pembayaran pemerintah.

"Ada seratusan meter persegi lahan permakaman di desa kami, baru diukur  untuk mendapat pergantian biaya dari pemerintah," ungkapnya.

Baca juga: 18 Bidang Tanah di Desa Miliarder Belum Diganti Untung, Pemkab Kuningan Diminta Lunasi

Baca juga: Rumah-rumah Warga di Desa Miliarder Dihancurkan Sampai Rata Tanah, Berikut Fakta & Penjelasan Kades

Baca juga: 444 Unit Rumah Relokasi Hampir Rampung, Warga Desa Miliarder Kuningan Siap Pindah ke Desa Sukarapih

Taksiran hitungan pergantian pembayaran untuk satu makam, kata Kusto, disepakati sekitar Rp 8 juta an,

Penetapan harga itu untuk biaya gali ulang atau pemindahan jenazah dari kuburan tersebut. 

Hal lain yang membuat tidak nyaman warga dan pemerintah desa, kata Kusto, adalah lambatnya pengerjaan pembangunan perumahan sebagai calon tempat tinggal warga terdampak pembangunan Waduk Kuningan.

"Iya, pembangunan perumahan di Desa Sukarapih itu belum selesai semua dikerjakan. Terutama mengenai fasilitas umum dan sosial sebagai sarana lingkungan warga di sana," ungkapnya.

Menyinggung soal warga yang merobohkan bangunan rumahnya, Kusto mengaku bahwa warga itu ada yang punya rumah baru dengan hasil pembelian sendiri dan ada juga yang mengontrak sebagai tempat tinggal sementara.

"Untuk tempat tinggal sementara sembari menunggu beresnya pembangunan perumahan relokasi, memang ada warga yang ngontrak dan ada juga warga yang beli rumah dari keuntungan biaya kena gusuran," kata Kusto lagi.

Orang nomor satu di desa miliarder ini mengaku sempat aneh dengan kebijakan pemerintah dalam mendukung program strategis nasional (PSN), pembuatan Waduk Kuningan. Itu dikarenakan keterlambatan penuntasan masalah penyelenggara pemerintahan dengan warga. 

"Terkadang saya juga gak habis pikir. Dalam kebijakan PSN yang diberikan jeda waktu hingga tanggal 21 Juni bahwa lahan di sini sudah rata. Namun melihat kenyataannya bisa dilihat langsung, ada yang belum kena biaya ganti untung, usaha perpindahan warga untuk tempat tinggal di sana bagaimana?" ujarnya. 

Ditanya berapa banyak jumlah jiwa dan kepala keluarga, Kusto menjawab bahwa Desa Kawungsari memiliki 362 kepala keluarga, sebanyak 1.156 jiwa dan memiliki hak pilih 800 jiwa.

"Ada 800 hak pilih dari 1156 jiwa yang terbagi dari sebanyak dua dusun dan  8 Ketua Rumah Tangga (RT)," ujarnya. (*)

Sumber: Tribun Cirebon
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved