Breaking News:

Imbas Pandemi Covid-19, Pengusaha Las di Kuningan Jual Rongsok Demi Lunasi Gaji Karyawan

Hafiz terpaksa menjual barang bekas dan potongan besi yang tergolong barang rongsok untuk bayar gaji karyawan.

Kontributor Tribuncirebon.com/Ahmad Ripai
Kondisi bengkel las di Desa Kalapa Gunung, Kecamatan Kramatmulya, Kuningan Jawa Barat 

Laporan Kontributor Kuningan, Ahmad Ripai

TRIBUNCIREBON.COM, KUNINGAN - Akibat Pandemi Covid-19 yang berkepanjangan menjadi salah satu penyebab terhadap berbagai sektor kehidupan di lapisan masyarakat.

Salah satu yang mengalami kemorosatan cukup besar dalam hal pendapatan yaitu bidang usaha jasa pembuatan pagar.

Demikian hal itu dirasakan Hafiz Somadudin, seorang pelaku usaha Bengkel Las Cilengkrang, yang terletak di Desa Kalapa Gunung, Kecamatan Kramatmulya, Kuningan Jawa Barat, Kamis (10/6/2021).

Baca juga: Habib Rizieq Shihab Blak-blakan Bertemu dengan Kepala BIN Budi Gunawan dan Kapolri Tito di Arab

Teramati di lapak usaha jasa pembuatan pagar dan lain sebagainya. Hafiz terpaksa menjual barang bekas dan potongan besi yang tergolong barang rongsok untuk bayar gaji karyawan.

Pasalnya, selama Pandemi Covid19 bagi pelaku usaha kecil sangat merasakan sulitnya menstabilkan keuangan perusahaan.

"Seperti contoh saja, dalam pembelian bahan baku kebutuhan jasa pembuatan pagar. Untuk beli besi berbagai jenis itu terjadi kenaikan dan ini menjadi kendala kami dalam melangsungkan usaha Bengkel Las," kata Hafiz dalam mengawali perbincangan dengan Tribuncirebon.com di lokasi usaha Bengkel Las tadi.

Selama Pandemi Covid-19, kata Hafiz mengaku bahwa kenaikan harga beli besi terjadi sudah ketiga kali.

Baca juga: Didatangi Orang Tak Dikenal, Gadis Remaja di Pangandaran Menangis Mengaku Sakit di Bagian Kemaluan

"Untuk awal Pandemi Covid19 harga besi naik cukup mahal. Kemudian yang parahnya lagi terjadi setelah lebaran hingga sekarang, bahwa harga beli alami kenaikan hingga Rp 30 ribu.

Kenaikan harga beli ini merata terjadi pada jenis besi, baik holo, siku dan besi jenis pipa. Dari semula harga beli Rp 500 ribu untuk per batangnya, kini berubah harga menjadi Rp 530 ribu," ungkapnya.

Mengenai pengalaman yang tidak membuat nyaman, Hafiz mengklaim saat konsumen tidak paham dengan kondisi terjadi pada kenaikan harga beli bahan baku.

"Dari kejadian itu, kebanyakan yang kami lakukan dalam memuaskan konsumen suka kerja bakti atau tidak mendapat untung lebih," ungkapnya.

Terlepas dengan kejadian kenaikan, Hafiz mengulas bahwa kenaikan harga beli besi ini, akibat kebijakan pemerintah dalam membatasi barang impor berbagai jenis besi.

"Ya, dari kenaikan harga beli besi. Saya penasaran dan coba tanya langsung ke penjual besi partai besar, bahwa kenaikan harga besi ini akibat tidak adanya barang impor masuk," ungkapnya.

Mengamatinl dari kebijakan pembatasan barang impor, Hafiz mengaku sangat menyambut baik dan ini bisa mendongkrak ekonomi kerakyatan.

Namun tidak juga harus berdampak pada pelaku usaha kecil seperti terjadi di daerah sekarang.

"Apapun kebijakan pemerintah kami dukung. Tapi seharusnya jangan sampai merugikan kami sebagai pelaku usaha kecil di daerah," ujarnya. (*)

Penulis: Ahmad Ripai
Editor: Mutiara Suci Erlanti
Sumber: Tribun Cirebon
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved