Breaking News:

18 Bidang Tanah di Desa Miliarder Belum Diganti Untung, Pemkab Kuningan Diminta Lunasi

Warga Desa Miliarder di Kecamatan Ciebureum tengah melakukan pembongkaran serta sebagaian ada warga telah berpindah domisili.

Kontributor Tribuncirebon.com/Ahmad Ripai
Rumah warga Desa Milliarder di Kuningan Jawa Barat 
Laporan Kontributor Kuningan, Ahmad Ripai
TRIBUNCIREBON.COM,KUNINGAN – Warga desa miliarder di Kecamatan Ciebureum tengah melakukan pembongkaran serta sebagaian ada warga telah berpindah domisili.
Hal itu mendapat tanggapan dari Anggota DPRD Kuningan, Sri Laelasari.
Menurut Politisi perempuan dari Fraksi Gerindra ini mengatakan, kegiatan masyarakat itu tentu sangat baik dilakukan oleh masing– masing warga disana.
Hal ini sebanding dengan keinginan pemerintah dalam waktu dekat mengoperasikan Waduk Kuningan.
“Soal tindakan masyarakat disana, kami sangat bangga pada jiwa warga untuk mengiklaskan daerah kelahirannya ditinggalkan selamanya.
Namun, apapun itu harus mendapat perhatian dari pemerintah, terutama dalam hal ganti untung lahan warga disana,” kata Sri kepada Tribuncirebon.com saat dihubungi, Kamis (10/6/2021)
Sebab, Sri mengaku ada permasalahan yang diterima dari warga terdampak pembangunan Waduk Kuningan.
“Kami menemukan sejumlah bidang lahan warga yang belum mendapat ganti untung. Jumlahnya kalau gak ada 18 bidang tanah, “ujarnya.
Sri menambahkan, untuk bidang tanah terkumpul jumlah itu terdiri dari sebanyak 14 bidang di Desa Kawungsari, 2 bidang tanah di Desa Randusari, dan 2 bidang tanah di Desa Cihanjaro.
“Ya semuanya bidang tanah itu ada 14 bidang di Desa Kawungsari, 2 bidang di Randusari dan 2 bidang di Desa Cihanjaro. Data itu merupakan bidang tanah yang memiliki kelengkapan legalitas atau adanya surat. Kemudian untuk bidang tanah unggul atau timbul itu belum terselesaikan,” ujarnya.
Maksud bidang tanah unggul alias timbul, kata Sri, tanah milik warga terdampak pembangunan Waduk Kuningan ini tidak memiliki kelengalan surat tanah. 
“Ya tanah unggul disana masih banyak dan ini belum juga mendapat proses kesepakatan antara pemerintah dengan warga disana."
"Dari kejadian dan atas banyak laporan, sebenarnya kami sudah sering mengingatkan kepada pemerintah untuk lebih serius dalam hal ganti untung, kasihan mereka masyarakat yang perlu mendapat perhatian baik lahir dan batinnya,”ungkapnya.
Diberitakan sebelumnya, sejumlah bangunan rumah di desa miliarder, yaitu Desa Kawungsari, Kecamatan Cibeureum, Kuningan Jawa Barat, dirobohkan hingga rata dengan tanah, Kamis (10/6/2021).  

Perobohan rumah warga tersebut, ternyata sengaja dilakukan warga atau masing–masing pemilik rumah di desa setempat.

“Memang bangunan rumah di desa kami dihancurkan hingga rata dengan tanah ini oleh pemilik rumahnya sendiri,” kata Kusto Kepala Desa Kawungsari saat di konfirmasi melalui sambungan selulernya, Kamis (10/6/2021).

Penghancuran bangunan rumah warga, kata Kusto sesuai dengan permintaan pemerintah saat melaunching atau meresmikan Waduk Kuningan.

“Iya, dalam waktu dekat ini Waduk Kuningan akan beroperasi sebagai lumbung air.  Kaitan dengan bangunan rumah dihancurkan ini sesuai arahan pemerintah juga. Sebab saat Waduk Kuningan berisi jutaan volume air, di dasar embung itu tidak boleh ada bangunan apapun,” ujarnya.

Baca juga: 444 Unit Rumah Relokasi Hampir Rampung, Warga Desa Miliarder Kuningan Siap Pindah ke Desa Sukarapih

Baca juga: Anggota DPRD Kuningan Minta Satgas Covid-19 Perhatikan Warga Desa Miliarder yang Masuk Zona Merah

Baca juga: Ada Warga Desa Miliarder di Kuningan Positif Covid-19, Jalan dan Fasilitas Disemprot Disinfektan

Seraya melakukan penghancuran bangunan rumah, Kusto mengaku beberapa warga juga telah pindah ke permukiman baru, yakni perumahan di Desa Sukarapih, Kecamatan Cibingbin.

“Kalau bongkar rumah ini sudah beberapa hari dilakukan warga, kemudian beberapa warga juga ada yang telah bersiap membawa barang – barang untuk menempati rumah baru di Sukarapih,” ujarnya. 

Menyinggung soal perasaan warga, orang nomor satu di Desa Kawungsari ini mengatakan, masalah perasaan pasti tidak lepas dari suka duka. Apalagi warga angkat kaki dari kampung kelahiran ini untuk selama- lamanya.

“Ya perasaan pasti suka duka. Tapi harus bagaimana lagi, d isatu sisi harus taat terhadap pemerintah dan di satu sisi tentang tanah kelahiran dan kebanggaan,” ujarnya

Penulis: Ahmad Ripai
Editor: Mutiara Suci Erlanti
Sumber: Tribun Cirebon
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved