Breaking News:

Mengenang Sosok R.M.A.A Soeriatanoedibrata Bupati Majalengka ke-8 di Hari Jadi Majalengka ke-531

Soeriatanoedibrata diangkat sebagai Bupati Majalengka yang ke-8 periode 1922-1944 ini, merupakan putra terakhir Sura Adi Ningrat

Tribuncirebon.com/Eki Yulianto
Makam Bupati Majalengka ke-8, R.M.A.A Soeriatanoedibrata. 
Laporan Wartawan Tribuncirebon.com, Eki Yulianto
TRIBUNCIREBON.COM, MAJALENGKA - Kabupaten Majalengka saat ini sedang berulang tahun ke-531.
Hingga berusia ratusan tahun ini, sudah banyak orang asli Majalengka yang memimpin kota angin.
Saat ini, pimpinan daerah dipegang oleh Karna Sobahi dengan wakilnya Tarsono D Mardiana.
Tapi tahukah Anda? Karna-Tarsono merupakan orang ke-23 yang menjadi Bupati-Wakil Bupati.
Sebelumnya, sudah ada 22 orang lainnya yang telah menjabat.
R.M.A.A Soeriatanoedibrata menjabat sebagai Bupati Majalengka untuk periode 1922-1944.
R.M.A.A Soeriatanoedibrata menjabat sebagai Bupati Majalengka untuk periode 1922-1944. (Istimewa)
Belum banyak yang mengetahui siapa saja orang yang pernah menjabat sebagai Bupati Majalengka pada era sebelum kemerdekaan Republik Indonesia.
Tak terkecuali orang bernama R.M.A.A Soeriatanoedibrata.
Soeriatanoedibrata menjabat sebagai Bupati Majalengka untuk periode 1922-1944.
Selama periode 1922-1944 itu, Bupati Majalengka tersebut menorehkan hasil kerja yang cukup banyak. Bahkan hingga kini masih dirasakan.
Hasil Kerja pembangunnya itu, yakni Pembentukan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Regenschafraad dan College van Gecomiteerden, Pembangunan kantor kabupaten, Pemindahan pasar Majalengka Wetan dan Pembangunan Situ Sangraja.
Juga ada, Pembangunan Roemah Bola Panglipoer Manah, Pembangunan Jalan Majalengka-Talaga-Bantarujeg, Pemindahan Rakyat Bedol Desa dari Nunuk ke Majasari, Majasuka, Kodasari, Kedungkencana dan sekitarnya.
Pengeboran Sumber Minyak di Bongas, Pembangunan Lapangan Udara di Jatiwangi juga bangunan lainnya hasil pimpinan Soeriatanoedibrata.
Soeriatanoedibrata diangkat sebagai Bupati Majalengka yang ke-8 periode 1922-1944 ini, merupakan putra terakhir Sura Adi Ningrat, yang merupakan Bupati pada zaman kolonial Belanda.
Beliau merupakan buyut dari Kanjeng Kiayi Sura Adi Ningrat Bupati Maja 1819-1840.
Sebutan lainnya, yakni Aom Dali sareng Dalem Aobasho.
Nama Dalem Aobasho diambil dari gedung peristirahatan tentara Jepang atau Roemah Aobasho.
Yang sekarang bangunan tersebut masih ada, yakni di belakang gedung Graha Sindangkasih Majalengka.
Lebih tepatnya sekarang masih tercatat sebagai Rumah Dinas Kapolres Majalengka.
Dalam catatan berkas yang ada, nama R.M.A.A Soeriatanoedibrata tercatat lahir di Kesenden Cirebon pada 04 Maret 1887.
Ia punya istri bernama Raden Ayu Djuhwaningrat, yang lahir pada 11 Desember 1890.
Ayahnya adalah R. M. Shobur Sura Adi Ningrat, pensiunan Wedana Panjalu. Kakeknya R.A.A Sura Adi Ningrat adalah Bupati Cirebon.
Masa pendidikan Bupati Majalengka Soeriatanoedibrata ini, yakni pada 23 Juni 1905 lulus dalam ujian Klein Ambtenarexamen di Bandung.
Pada Oktober 1907 mendapat ijazah dari Sekolah Pendidikan Pegawai Negeri Indonesia Opleiding Inlansche Ambtenaren di Bandung.
Pada September 1909 mendapat ijazah dari sekolah pertanian Lanbouwschool di Bogor.
Tahun 1918 tamat sekolah Pangreh Praja Bestuurschool di Jakarta.
Catatan ini dikutip dari sumber daftar orang terkemuka di Jawa.
Sementara pada tanggal 1 Desember 1944 diangkat menjadi Hoku Syutyoo Kan di Cirebon, kemudian menjadi Residen Cirebon.
Selanjutnya pada masa pensiun, beliau tercatat wafat pada tahun 1948 dan dimakamkan di Pasarean Girilawungan Majalengka.
Di belakang makam Dalem Panungtung.
Sementara itu, ketika berkunjung dan melihat langsung kondisi Makam Bupati Majalengka ke-8 ini, posisi makam Bupati Majalengka tersebut hampir sama dengan mayoritas makam pada umumnya.
Tidak terlihat istimewa. Bahkan nyaris memasyarakat bersama makam lainnya.
Dibandingkan yang lainnya, kondisi makam yang lebih megah ada di sekelilingnya.
Makam Bupati Majalengka ke-8 ini tidak ada atap.
Atapnya hanya dedaunan rindang pohon dan langit jauh di atas sana.
Menurut Ketua Grup Madjalengka baheula (Grumala), Nana Rohmana, akrab disapa Mang Naro mengatakan, berdasarkan sumber berkas yang dipelajarinya, mantan Bupati Majalengka memang atas nama M.R.A.A Soeriatanoedibrata.
“Makamnya biasa saja, hampir sama dengan makam kebanyakan. Untungnya masih ada nama pada makam beliau,” ujar Naro kepada Tribun, Senin (7/6/2021).
Ia menyayangkan, sebab makam Bupati Majalengka yang ke-8 itu, tidak ada papan nama ataupun plang informasi.
Yang biasa menjadi penanda keberadaan makam seseorang yang berpengaruh.
Apalagi, sekelas makam seseorang yang pernah menjabat sebagai pemimpin di Kabupaten Majalengka.
"Makam ini terkesan kurang perhatian dari pemerintah setempat," ucapnya.
Penulis: Eki Yulianto
Editor: Mumu Mujahidin
Sumber: Tribun Cirebon
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved