Breaking News:

BJB Syariah Terima Uang Rp 2,5 Miliar Hasil Lelang Barang Sitaan Kasus Pembobolan Bank

Empat dari sebelas bidang tanah hasil sitaan kasus pembobolan Bank BUMD BJB Syariah dengan terdakwa Andy Winarto sudah dilelang dengan nilai Rp 2,5 M

Editor: Machmud Mubarok
Istimewa
Perwakilan dari Bank BJB Syariah (batik) menerima uang tunai Rp. 2,5 miliar hasil lelang barang sitaan dari Kelapa Kejari Kota Bandung, di Kantor Kejari Jalan Jakarta, Jumat (28/5/2021). 

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Nazmi Abdurahman. 

TRIBUNCIREBON.COM, BANDUNG - Empat dari sebelas bidang tanah hasil sitaan kasus pembobolan Bank BUMD BJB Syariah dengan terdakwa Andy Winarto sudah dilelang dengan nilai Rp 2,5 miliar. 

Hasil eksekusi empat bidang tanah itu diserahkan Kejaksaan Negeri (Kejari) Bandung kepada PT Bank BJB Syariah, di Kantor Kejari, Jalan Jakarta Jumat (28/5/2021). 

Kepala Pusat Pemulihan Aset (PPA) Kejaksaan, Agung Elan Suherlan mengatakan, proses eksekusi barang rampasan tindak pidana korupsi ini sudah inkrah. 

"Ini adalah bagian dari proses eksekusi tindak pidana korupsi. Jadi ini kan barang rampasan namanya dan sudah disita, kemudian dirampas dan putusannya inkrah, yang dalam putusannya adalah dirampas untuk negara, dalam hal ini BJB Syariah," ujar Agung Elan. 

Baca juga: ASN di Indramayu Terlibat Korupsi di Bank BJB, Terbongkar Menyalahgunakan Kewenangan Jabatan

Baca juga: Fauqi Kondisi Badannya Sehat Walafiat Sebelum Divaksin, Setelah Disuntik AstraZeneca Lemas, Wafat

Baca juga: Direksi bank bjb Terjun Langsung Layani Nasabah, Peringati Hari Pelanggan Nasional

Dikatakan Elan, proses eksekusi ini dilakukan secara lelang oleh Kejari Bandung dengan pengawasan dari Kejagung. Sebab, kata dia, posisi sebelas bidang tahan yang menjadi aset barang sitaannya berada di Kabupaten Garut atau di luar Kota Bandung. 

"Nilainya Rp 2,5 miliar dari sebelas (bidang tanah) yang baru terjual empat bidang tanah," katanya.

Menurut Elan, eksekusi ini sudah sesuai dengan putusan Mahkamah Agung yang mengadili kasus tersebut.

Kasus yang menjerat Andy Winarto ini  bermula saat Bank BJB Syariah mencairkan kredit fiktif untuk dua perusahaan, yakni PT Hastuka Sarana Karya dan CV Manunggal Abadi sebesar Rp 548 miliar. 

Dana yang dikucurkan kepada dua perusahaan itu diketahui untuk biaya pembangunan Garut Super Blok yang kala itu Andy bertindak sebagai debitur PT Hastuka Sarana Karya.

Bank BJB Syariah kemudian mencairkan kredit fiktif untuk dua perusahaan PT Hastuka Sarana Karya (HSK) dan CV Dwi Manunggal Abadi. 

Kasus ini sudah disidangkan di PN Bandung dan Andy terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana korupsi yang dilakukan secara bersama-sama. 

PN Bandung menjatuhkan pidana terhadap terdakwa tersebut dengan pidana penjara selama 10 tahun dan pidana denda sebesar Rp 1 miliar subsider 6 bulan.

Selain itu, Andi dihukum membayar uang pengganti sebesar Rp 548.259.832.594. Jika Andy tidak membayar uang pengganti tersebut paling lama 1 bulan sesudah putusan pengadilan memperoleh kekuatan hukum tetap, harta bendanya dapat disita oleh jaksa dan dilelang untuk menutupi uang pengganti tersebut. 

Dalam hal Andy tidak mempunyai harta benda yang mencukupi untuk membayar uang pengganti, maka dipidana dengan pidana penjara selama tujuh tahun. (*)

Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

Tribun JualBeli
© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved