Breaking News:

Grebeg Syawal Cirebon

Ini Esensi Tradisi Grebeg Syawal Keraton Kanoman Menurut Sejarawan Cirebon

keluarga dan kerabat Keraton Kanoman berziarah ke makam Sunan Gunung Jati dan leluhur Cirebon yang berada di kawasan tersebut.

Penulis: Ahmad Imam Baehaqi
Editor: Mumu Mujahidin
TribunCirebon.com/Ahmad Imam Baehaqi
Keluarga dan kerabat Keraton Kanoman saat melaksanakan Grebeg Syawal di kompleks makam Sunan Gunung Jati di Desa Astana, Kecamatan Gunungjati, Kabupaten Cirebon, Kamis (20/5/2021) 

Laporan Wartawan Tribuncirebon.com, Ahmad Imam Baehaqi

TRIBUNCIREBON.COM, CIREBON - Keraton Kanoman menggelar tradisi Grebeg Syawal di kompleks makam Sunan Gunung Jati, Desa Astana, Kecamatan Gunungjati, Kabupaten Cirebon, Kamis (20/5/2021).

Dalam kesempatan itu, keluarga dan kerabat Keraton Kanoman berziarah ke makam Sunan Gunung Jati dan leluhur Cirebon yang berada di kawasan tersebut.

Sejarawan Cirebon sekaligus Koordinator Komunitas Pusaka Cirebon Kendi Pertula, Mustaqim Asteja, yang hadir dalam kegiatan itu mengatakan, sedikitnya ada empat esensi yang terkandung dalam Grebeg Syawal.

Di antaranya, sebagai bentuk rasa syukur telah diberi kelancaran dalam menunaikan ibadah puasa Ramadan dan disempurnakan dengan puasa sunah Syawal selama enam hari.

Baca juga: Warga Senang dapat Koin Surak dari Keluarga Keraton Cirebon di Grebeg Syawal, Dipercaya Penuh Berkah

Baca juga: Diduga karena Diabetes Pria Ini Tewas di Kamar Mandi Pabrik Setelah 30 Menit Tak Kunjung Keluar

Keluarga Keraton Kanoman saat melaksanakan tradisi Grebeg Syawal di kompleks makam Sunan Gunung Jati di Desa Astana, Kecamatan Gunungjati, Kabupaten Cirebon, Kamis (20/5/2021).
Keluarga Keraton Kanoman saat melaksanakan tradisi Grebeg Syawal di kompleks makam Sunan Gunung Jati di Desa Astana, Kecamatan Gunungjati, Kabupaten Cirebon, Kamis (20/5/2021). (Tribuncirebon.com/Ahmad Imam Baehaqi)

"Ramadan bulan ke-9 dalam kalender hijriyah, sehingga kita diibaratkan seperti bayi baru lahir setelah melewatinya, kembali suci," kata Mustaqim Asteja kepada Tribuncirebon.com, Kamis (20/5/2021).

"Esensi kedua dari Grebeg Syawal merupakan bentuk bakti kepada orang tua yang telah melahirkan, mendidik, hingga membesarkan kita," ujar Mustaqim Asteja.

Ia mengatakan, esensi lainnya Grebeg Syawal menjadi media silaturahmi antarkeluarga dan kerabat Keraron Kanoman dengan masyarakat.

Pasalnya, momen silarurahmi terkadang sulit diwujudkan di hari biasa saat bersilaturahmi akibat kesibukan masing-masing.

Karenanya, momentum Gregeb Syawal saat seluruh keluarga dan kerabat berkumpul dimanfaatkan sebagai media untuk saling memaafkan.

"Terakhir, Grebeg Syawal ini menjadi renungan untuk mengingat mati, kita hidup di dunia ini hanya sementara," kata Mustaqim Asteja.

Ia menyampaikan, dari hal tersebut yang terpenting adalah meneladani jasa-jasa kebaikan dari para leluhur yang disemayamkan di kompleks makam Sunan Gunung Jati.

Selain itu, melalui Grebeg Syawal juga diharapkan semua yang hadir dapat dikumpulkan kembali dengan tokoh-tokoh penting yang dikubur di kawasan tersebut pada hari kiamat nanti.

"Mudah-mudahan di akhirat kelak kita dipertemukan dengan beliau-beliau untuk mendapatkan syafaat Nabi Muhammad Saw," ujar Mustaqim Asteja.

Baca juga: Youtuber Indonesia Dituduh Eksploitasi Anak hingga Ditangkap Polisi Arab Saudi, Ini Sosoknya

Baca juga: Jenderal Andika Perkasa Beri Hadiah Lebaran, Pejabat Korem 143 Dapat Xpander Sport dari KASAD

Sumber: Tribun Cirebon
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved