Breaking News:

2 Dokter Senior Palestina Tewas Dirudal Israel Tengah Malam: Sosok Peduli Pasien, Kadang Tak Digaji

Dr Ayman Abu al-Ouf, kepala penyakit dalam di rumah sakit Al-Shifa, tewas bersama dengan anggota keluarganya dalam serangan rudal Israel

Editor: Mutiara Suci Erlanti
Aljazeera
Dokter Mooein Ahmad al-Aloul dan Ayman Abu al-Ouf tewas dalam serangan udara Israel pada hari Minggu 

TRIBUNCIREBON.COM- Pekerja medis dan organisasi kesehatan telah mengecam pembunuhan dua dokter senior yaitu seorang ahli saraf dan kepala penyakit dalam di rumah sakit terbesar di Gaza - dalam serangan Israel di daerah kantong Palestina yang terkepung.

Kematian itu semakin memperburuk kekurangan staf medis dan keahlian di Jalur Gaza, akibat dari blokade selama 14 tahun yang mencegah kebebasan bergerak, menyebabkan kekurangan pasokan dan peralatan yang mengerikan serta menghambat kemajuan medis.

Dr Ayman Abu al-Ouf, kepala penyakit dalam di rumah sakit Al-Shifa, tewas bersama dengan anggota keluarganya dalam serangan rudal dini hari di distrik al-Wehda di Gaza pada hari Minggu, demikian dikutip Serambinews.com dari laman kantor berita Aljazeera.

Baca juga: Pimpinan KKB Papua Lekagak Telenggen Makin Terdesak Usai Kontak Senjata dengan Satgas Nemangkawi

Pemboman itu menewaskan sedikitnya 33 warga sipil dan membuat penyelamat memilah-milah puing-puing gedung apartemen untuk menemukan korban selamat.

"Ini mengejutkan saya dan seluruh komunitas medis," kata Dr Osaid Alser, mantan mahasiswa al-Ouf yang juga magang bersamanya di Al-Shifa, kepada Al Jazeera.

"Dia adalah salah satu dokter penyakit dalam paling senior di Gaza ... Itu berarti kerugian besar bagi komunitas medis."

Dr Mooein Ahmad al-Aloul, seorang ahli saraf psikiatri berusia 66 tahun, juga tewas di rumahnya selama serangan al-Wehda Minggu pagi, saudaranya Mazen al-Aloul mengatakan kepada Al Jazeera.

Dia menambahkan bahwa saudaranya, yang belajar di Mesir dan Prancis dan bekerja di Arab Saudi sebelum kembali ke Gaza, telah bekerja di klinik khusus sebelum kematiannya.

Putri Dr al-Aloul yang berusia 25 tahun, Aya, berbicara dengan Al Jazeera melalui telepon dari rumah sakit, mengatakan bahwa dia dan ibunya sedang dalam pemulihan dari luka pecahan peluru di sana.

“Tanpa peringatan,” katanya, “mereka mengebom rumah kami.”

Baca juga: Dua Prajurit TNI Gugur di Papua, Dikeroyok 20 Orang Tak Dikenal, Senjata SS2 Dirampas

Halaman
123
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved