Breaking News:

Human Interest Story

Kisah Pedagang Serabi di Kuningan, Tetap Bertahan Masak Penganan Khas Daerah Pakai Kayu Bakar

pasangan suami istri, Junaedi dan Juju, yang masih bertahan membuat serabi dengan cara tradisional.

Penulis: Ahmad Ripai | Editor: Machmud Mubarok
TribunCirebon.com/Ahmad Ripai
Juju, istri Junaedi, saat membuat penganan khas daerah serabi di Kuningan. 

“Ya semuanya kita jalani saja, Karena kalau tidak mau nyicil ke bank pakai apa. Habis dalam usaha penjualan sorabi ini mengandalkan modal dari program KUR yang dikeluarkan oleh Bank,” ujarnya.

Andalan usaha dengan modal KUR, kata Junaedi mngklaim bisa memiliki bangunan yang menjadi lapak usaha tetap dengan ukuran sekitar 13 tumbak. 

“Iya sekarang dagang sorabi gak perlu pindah – pindahan atau ngontrak tempat sana sini, sebab bangunan ini sudah dibeli sejak tahun 2010 dengan seharga satu bata itu seharga Rp 2 juta. 

Kebetulan ini ada 14 bata dan sekarang lebih mantep tinggal disini hingga waktu berjualan kaya begini,” ujarnya.

Sebelum memiliki banguna rumah sebagai lapak usaha sekarang, kata Junaedi mengaku pernah mendapat perlakuan yang tidak berkenan. Telebih saat mengontrak lapak usaha di tanah warga.

“Sewaktu ngontrak selama 14 tahun itu berpindah – pindah, pertama di tanah desa dan pernah ngontrak di lahan warga yang mesti di bongkar pasar tatarub saat akan berjualan,” ujarnya.

Menyinggung soal varian panganan khas daerah ini, kata Junaedi mengaku bahwa ini permintaan dari konsumen alias pelanggan.

“Iya untuk sorabi ada rasa coklat,keju dan sorabi yang di campur orek, oncom hingga ada sorabi dicampur telur itu semua permintaan pelanggan,” ujarnya.

Dari permintaan banyaknya varian sorabi tersebut, kata Junaedi tetap bertahan dengan alat masak tradisional.
“Iya kita bikin sorabi ini masih tradisional dengan menggunakan tungku dan kayu bakar,” ungkapnya. 

Kemudian untuk jam usaha yang dilakukan pasutri ini, Junaedi mengaku bahwa sebelum terjun membuat langsung gorengan dan sorabi.

Sekitar pukul tiga dini hari itu bergegas melakukan persiapan adonan dan bahan baku lainnya.
“Kami mulai dagang itu jam 3 malam, tapi sebelumnya lakukan persiapan dalam membuat adonan dan bahan baku lainnya,” ujarnya.

Sementara untuk harga jual panganan sorabi, kata Junaedi mengaku bahwa sorabi polos tanpa varian itu seharga Rp 1000 dan ini berbeda dengan yang ada varian lainnya itu bisa tembus seharga Rp 5 ribu.

“Harga sorabi polos itu Rp 1 ribu,  sedangkan sorabi dengan aneka varian lainnya itu mulai dari harga Rp 3 ribu sampai ada harga Rp 5 ribu,” ungkapnya.

Berbicara soala langganan, kata Junaedi mengklaim untuk konsumen itu datang dari berbagi desa di Kecamatan Cilimus bahkan tembus daerah Kecamatan Pancalang. 
“Kalau langganan bisa langsung tanya, sepetti pak haji Udin dari Cilimus yang biasa beli sorabi telur,” ujarnya. (*)

Sumber: Tribun Cirebon
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved