Breaking News:

Pemkab Garut Berkoar Soal Boleh Mudik, Ketua Asosiasi Tukang Cukur Garut Minta Ongkos untuk Pulang

Namun pernyataan tersebut dianggap hanya omong kosong jika Pemkab Garut tidak memfasilitasi kepulangan mereka.

Dokumetasi Tribun Jabar
Tukang cukur DPR alias Di bawah Pohon Rindang di depan gerbang Rumah Sakit Immanuel, Kopo, Bandung. 

Laporan Kontributor Tribunjabar.id Garut, Sidqi Al Ghifari

TRIBUNCIREBON.COM, GARUT - Pernyataan pemerintah Kabupaten Garut yang mengijinkan mudik seniman rambut atau tukang cukur disambut baik oleh Asosiasi Seniman Rambut Garut (Asgar).

Namun pernyataan tersebut dianggap hanya omong kosong jika Pemkab Garut tidak memfasilitasi kepulangan mereka.

Hal tersebut diungkapkan Ketua Asgar, Irawan Hidayah (42) ia mengatakan Pemkab Garut harus memberi solusi riil bagi para seniman rambut yang bekerja di luar daerah.

"Saya menyambut baik pemerintah memperbolehkan pulang, tetapi itu akan menjadi omong kosong jika pemda tidak memfasilitasi," ucapnya saat diwawancarai TribunJabar.id via telpon, Selasa (04/5/2021).

Menurutnya tidak ada jaminan bagi para seniman rambut bisa lolos di perjalanan untuk sampai ke Garut jika Pemkab Garut tidak menjamin dan memfasilitasi.

"Kecuali kalo pemkab mempersilahkan kami pulang, tolong dengan memfasilitasi, baik kendaraan, ongkos dan di perjalanan dijamin lolos, Insya Allah kami sehat," ungkapnya.

Irawan mengungkapkan bahwa kondisi para pengusaha pangkas rambut hari ini tengah dalam kesulitan karena pandemi.

Sejak pandemi hampir delapan puluh persen mereka mengalami penurunan penghasilan.

Larangan mudik pada tanggal 6 Mei menambah kegelisahan para seniman rambut asal Garut yang bekerja di luar daerah, pasalnya di tujuh hari terakhir menjelang lebaran biasanya adalah hari-hari dimana mereka mendapat banyak pundi-pundi uang.

Biasanya pemilik usaha pangkas rambut membebaskan penghasilan yang didapat 10 hari atau tujuh hari sebelum lebaran. 

Penghasilan tersebut semuanya diberikan utuh untuk para karyawannya tanpa potongan apapun.

"Bagi kami para seniman rambut, masa-masa mendekati lebaran itu pas rame-ramenya, pas THR-THRnya dari pelanggan atau pemilik usaha," ungkap Irawan.

Menurut Irawan tidak sedikit para seniman rambut memutuskan untuk tidak pulang mereka memilih untuk bertahan,

"Jika pulang sebelum tanggal enam kami tidak cukup punya bekal, setelah tanggal enam kami dilarang, itu pilihan yang tidak mengenakan bagi kami para seniman rambut," ucapnya.(*)

Editor: Fauzie Pradita Abbas
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved