Human Interest Story

Ini Wanita Tangguh di Balik Baju Hazmat di Setiap Pemulasaraan Jenazah Covid-19 di Indramayu

Salah satunya, Hari Nuryani (49). Wanita asal Desa Plumbon, Kecamatan/Kabupaten Indramayu ini bisa menjadi inspirasi.

Penulis: Handhika Rahman | Editor: Mumu Mujahidin
Istimewa
Hari Nuryani (49) petugas tim pemulasaraan jenazah Covid-19 Kabupaten Indramayu, Rabu (21/4/2021). 

Laporan Wartawan Tribuncirebon.com, Handhika Rahman

TRIBUNCIREBON.COM, INDRAMAYU - Ada banyak sekali wanita tangguh di Indonesia, mereka mewarisi semangat juang Raden Ajeng Kartini atau RA Kartini dalam memperjuangkan emansipasi wanita.

Untuk menghargai jasanya, setiap tanggal 21 April selalu diperingati dengan peringatan Hari Kartini.

Di Kabupaten Indramayu sendiri, ada banyak sekali wanita tangguh seperti RA Kartini.

Salah satunya, Hari Nuryani (49). Wanita asal Desa Plumbon, Kecamatan/Kabupaten Indramayu ini bisa menjadi inspirasi.

Ia adalah salah satu sosok dibalik baju hazmat yang dikenakan petugas setiap prosesi pemulasaraan jenazah Covid-19 di Kabupaten Indramayu.

Hari Nuryani (49) saat mengenakan baju hazmat saat bertugas memulasarankan jenazah Covid-19.
Hari Nuryani (49) saat mengenakan baju hazmat saat bertugas memulasarankan jenazah Covid-19. (Istimewa)

Padahal, Hari Nuryani bukan seorang tenaga kesehatan (Nakes) yang biasa bergelut dengan virus yang bisa mengancam nyawa manusia tersebut. Risiko itu, coba ia kesampingkan, demi alasan kemanusiaan.

"Kalau masalah takut, saya alhamdulillah tidak. Insya Allah, saya tidak takut karena berawal dari rasa kemanusiaan," ujar dia kepada Tribuncirebon.com, Rabu (21/4/2021).

Hari Nuryani sendiri diketahui merupakan salah satu dari anggota Unit Reaksi Cepat (URC) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Indramayu.

Dalam hal ini, ia mengakui sama sekali tidak pernah terpikirkan akan menjalani tugas yang penuh dengan risiko tersebut, walau sebenarnya sudah terbiasa bergelut dengan mayat selama menjalani tugas. 

Hari Nuryani menceritakan, tugas tersebut ia dapat setelah pihak rumah sakit meminta bantuan kepada BPBD Kabupaten Indramayu untuk proses pemulasaraan.

Baca juga: Ezra Walian Akhirnya Buka-bukaan Alasan Dirinya Begitu Moncer Bersama Persib

Baca juga: Ali Mochtar Ngabalin Akhirnya Akui Salah Soal Reshuffle Kabinet, Jokowi Perlu Waktu Menata Anak Buah

Tim medis di sana mulai kewalahan menangani Covid-19. Banyak sekali pasien meninggal saat itu. 

"Jadi ketika saya diminta pimpinan, saya siap saja, ketika saya dibutuhkan saya siap. Karena saya berpikirnya si ini gak mau, si itu gak mau, ya sudah saya saja. Saya takut bagaimana nanti kalau saya meninggal gak ada yang mau ngurusin," ujar dia.

Hari Nuryani menceritakan, banyak sekali pengalaman yang ia rasakan selama menjadi petugas pemulasaraan jenazah Covid-19 bersama tim yang ia bentuk dari berbagai organisasi relawan tersebut.

Mulai dari harus siap siaga 24 jam bilamana ada panggilan dari rumah sakit ada lagi pasien yang meninggal dan lain sebagainya.

Selain melakukan pemulasaraan, mereka juga diketahui juga dibebankan untuk memandikan hingga mengkafani jenazah Covid-19.

Hingga saat ini, sudah 81 pasien Covid-19 yang mereka urus pemulasaraannya dari total 145 pasien Covid-19 yang meninggal dunia di Kabupaten Indramayu.

"Tidak jarang pas saya mau tidur, mau merem ada saja panggilan kabar duka dari rumah sakit, mau gak mau, saya harus bangun dan jam itu harus segera ke rumah sakit," ujarnya.

Selama bertugas pun, tim pemulasaraan, disampaikan Hari Nuryani juga pernah mengalami hal yang tidak mengenakan.

Baca juga: Panji Gumilang Sudah Diperiksa atas Laporan Kasus Dugaan Cabul Pada Seorang Janda di Indramayu

Baca juga: Bos Wajan Dibunuh Saat sedang Bercinta dengan Istri oleh Sepupu, Ternyata Motif Cinta Segitiga

Seperti harus mendorong mobil ambulance yang mogok kehabisan BBM, harus mengedukasi masyarakat dahulu karena ada penolakan, dan lain sebagainya.

Termasuk kaget, saat ada pasien Covid-19 yang mati suri, pasien itu, diceritakan dia hidup lagi setelah dinyatakan meninggal dunia oleh dokter pada 3 jam sebelumnya.

"Tapi seminggu kemudian, pasien itu meninggal lagi, banyak sekali ceritanya dan alhamdulillah kami menikmati karena berawal dari rasa kemanusiaan," ujar dia.

Selain menjadi petugas, Hari Nuryani diketahui juga merupakan seorang ibu, ia memiliki 3 orang anak. 

Satu di antaranya masih tinggal dengannya dan kini duduk di bangku kuliah.

Ia mengatakan, anak-anaknya tidak keberatan dengan apa yang dilakukannya tersebut. Mereka justru mendukung, termasuk para tetangga.

Hari Nuryani memastikan, walau menjalani pekerjaan penuh risiko, akan tetapi tidak ada yang mengucilkannya dari lingkungan. Hal ini lah yang memberikannya semangat lebih.

"Saya juga menerapkan prokes ketat, setiap kali pulang dari pemulasaraan saya gak langsung masuk rumah karena ada kamar mandi di luar saya langsung mandi, baju langsung direndam untuk memproteksi diri saya," ujar dia.

Karena dedikasinya tersebut, Hari Nuryani pun sebelumnya mendapat penghargaan dari Koalisi Perempuan Indonesia (KPI) Indramayu dalam rangka memperingati Hari Perempuan Internasional 2021.

Baca juga: LOWONGAN KERJA Raffi Ahmad untuk Rans Entertainment Butuh Lulusan S1 Semua Jurusan, Buruan Daftar!

Baca juga: RAMALAN Zodiak Besok Kamis 22 April 2021, Gemini akan Beruntung, Taurus Lelah dan Banyak Tekanan

Sumber: Tribun Cirebon
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved