Breaking News:

Ramadan 1442 H

Tradisi Jiduran untuk Membangunkan Warga Saat Sahur di Kuningan, Sholawatan Pakai Genjring

Jiduran kata Supangat sekaligus sebagai wadah silaturahmi warga desa setempat.

TribunCirebon.com/Ahmad Ripai
Tradisi Jiduran untuk membangunkan warga sebelum sahur di Kuningan. 

Laporan Kontributor Kuningan, Ahmad Ripai

TRIBUNCIREBON.COM, KUNINGAN – Warga Kuningan punya kebiasaan unik untuk membangunkan saat sahur mulai pentas musik keliling hingga genjringan.

“Tradisi bangunkan waktu sahur itu namanya jiduran,” ungkap Supangat (48), warga Desa / Kecamatan Cilimus,  Kuningan Jawa Barat, saat ditemui di sela kegiatan tadi,  Senin (19/4/2021).

Supangat yang juga petugas Linmas desa setempat ini mengatakan, pelaksanaan jiduran ini dilakukan oleh warga tiap kelompok yang berada di blok kampung tersebut. 

“Seperti di Desa Cilimus ini, kelompok penggugah sahur atau jiduran ini banyak. Mereka ada dari Gang Cinangka, Pasawahan, Blok Lapang, Gang Krikil, Cipicung dan hampir perwakilan warga dusun itu ada,” kata Supangat lagi.

Baca juga: RAMALAN ZODIAK Besok Selasa 20 April 2021: Gemini Bahagia, Leo Awali Langkah Baru, TAURUS Bagaimana?

Baca juga: Sosok Tisya Erni, Model yang Sempat Dekat dan Video Call dengan Sule, Pernah Main di Ikatan Cinta

Baca juga: LOWONGAN KERJA BUMN Terbaru PT Pos Indonesia Butuh Lulusan SMA/SMK dan S1 Buruan Cek Disini

Teknik pentas musik keliling, Supangat mengatakan,mayoritas warga yang ikut jiduran ini menggunakan alat tradisonal.

“Ya alat tradisonal seperti genjring ini. Kemudian dalam pelaksanaannya itu sembari sholawatan,” ujarnya.

Jiduran kata Supangat sekaligus sebagai wadah silaturahmi warga desa setempat. Pasalnya, tidak sedikit warga saat waktu jelang makan sahur, ikut melaksanakan jiduran dan satu sama lain saling menyapa.

“Pada dasarnya, tradisi jiduran ini sebagai kebiasaan warga kami di Bulan Puasa. Hal ini juga sama terjadi di setiap daerah yang ada di Kuningan umumnya, namun untuk penamaan itu berbeda,” katanya.

Teramati dalam jiduran, sejumlah kalangan remaja tampil maksimal dalam melantunkan shalawat yang disertai dengan ketukan dalam tabuhan genjring tersebut. Satu sama penabuh genjring saling melakukan balasan, saat ketukan yang dilakukan dengan nada tertentu.

“Untuk nada atau sebutan dalam permainan genrjing ini, ada istilah dengan Kincar, Jawaan dan Hasanan. Dari nama – nama itu jelas merupakan kunci permainan genjring, sebab dalam permainan tabuh genjring itu ada empat rebana yang punya pemukulan berbeda saat bermain,” ujarnya.

Cara lain dalam melaksanakan jiduran, kata Supangat, pentas musik keliling alias orkes juga bias terjadi saat waktu jelang makan sahur.

“Orkes keliling dengan alat musik yang kebanyak modern, untuk di desa kami tidak ada. Nah, orkes keliling ini biasanya dilakukan di pusat kota Kuningan,” ujarnya.  (*)

Penulis: Ahmad Ripai
Editor: Machmud Mubarok
Sumber: Tribun Cirebon
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved