Breaking News:

Human Interest Story

Kisah Sejarah Rumah Adat Panjalin, Saksi Bisu Penyebaran Agama Islam di Majalengka

Bangunan yang konon dibangun pada abad ke-14 itu, menjadi saksi bisu proses penyebaran agama Islam di kota angin.

TribunCirebon.com/Eki Yulianto
Rumah Adat Panjalin sebagai saksi bisu penyebaran agama Islam di Majalengka yang berada di Desa Panjalin Kidul, Kecamatan Sumberjaya, Kabupaten Majalengka. 

Raden Sanata pun akhirnya dapat membabat hutan rotan itu dan mendirikan sebuah rumah panggung untuk memenuhi syarat Syekh Syahroni.

Rumah itulah yang menjadi rumah adat Panjalin.

Setelah menikahi Seruni, Raden Sanata pun banyak belajar pada Sykeh Syahroni.

Di tempat itu pula, Raden Sanata mensyiarkan Islam terlebih setelah banyak orang yang membuka pemukiman di wilayah tersebut.

"Panjalin itu sebutan orang Cirebon zaman dulu, yang sekarangnya disebut rotan. Dulu di sebelah utara juga ada pesantren Lontang Jaya, KH Amin Sepuh Ciwaringin dan KH Abdul Halim juga santri dari sana dan di Selatan ada juga Ki Dul Mu'in juga menyebarkan Islam,” jelas dia.

Selain saksi bisu penyebaran agama Islam di Panjalin, Saeful juga menyampaikan, Rumah Adat Panjalin juga tempat berlindungnya pasukan Ki Bagus Rangin.

Saat itu sekitar tahun 1812-1816, Ki Bagus Rangin berperang dengan penguasa kolonial, yakni dikenal dengan Perang Kedondong.

Menghindari adanya tumpah darah, Ki Bagus Rangin dan pasukan bersembunyi di Rumah Adat Panjalin.

"Penguasa kolonial saat itu datang ke wilayah Panjalin. Tapi tidak menemukan para pasukan Ki Bagus Rangin. Akhirnya mereka tertidur dan sedikit dikerjai oleh pasukan Ki Bagus Rangin dengan cara diberi berbagai macam warna pada wajahnya."

Karena mereka saling menyalahkan dengan adanya coretan-coretan di wajah, mereka menganggap ada kehidupan di Panjalin. Oleh karena itu, mereka berjanji tidak akan mengganggu orang Panjalin lagi," katanya.

Perang Kedongdong merupakan bentuk perlawanan rakyat Cirebon terhadap penguasa kolonial yang terjadi pada paruh pertama abad 19, yang secara umum, karena tindakan eksploitasi dan kesewenangan penguasa kolonial. (*)

Penulis: Eki Yulianto
Editor: Machmud Mubarok
Sumber: Tribun Cirebon
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved