Masa Depan Lobster di Indonesia, Komoditas Unggulan yang Menjadi Sumber Devisa Negara

Di pasar global, nilai ekspor benih lobster pada tahun 2020 mencapai 2022 ton dengan nilai 75,25 juta US dollar

Editor: Machmud Mubarok
Istimewa
Webinar Masa Depan Lobster di Indonesia digelar Fakultas Perikanan dan Kelautan Unpad. 

TRIBUNCIREBON.COM - Lobster merupakan salah satu komoditas unggulan yang menjadi sumber devisa untuk Indonesia. Selain rasanya yang lezat, lobster mengandung berbagai nutrisi seperti protein, lipid, karbohidrat, vitamin, dan berbagai mineral yang bermanfaat untuk kesehatan.

Dengan berbagai manfaat yang dimiliki, lobster sangat berpotensi untuk dibudidayakan di Indonesia. Saat ini, Kementerian Perikanan dan Kelautan juga berharap Indonesia dapat menjadi produsen lobster di dunia. Oleh
karena itu, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Padjadjaran mengadakan Webinar yang bertajuk Masa Depan Lobster di Indonesia pada Rabu (31/3/2021).

Hadir Ir. Arik Hari Wibowo, M.Si, Direktur Produksi dan Usaha Budidaya Ditjen Perikanan Budidaya KKP RI sebagai keynote speaker dan mengundang lima pembicara lainnya.

Dalam kesempatan ini, Ir. Arik Hari Wibowo menyampaikan arahan dari Kementerian Kelautan dan Perikanan, Ir. Sakti Wahyu Trenggono, M.M. Saat ini, lobster menjadi komoditas yang menarik untuk didiskusikan baik yang terkait dengan aktivitas penangkapan benih lobster maupun budidayanya. Sejak 1999, Indonesia telah
melakukan budidaya lobster dengan mengandalkan benih-benih lobster dari hasil tangkapan di laut dengan skala tradisional untuk selanjutnya dibudidayakan sampai ukuran 150-200 gr/ekor dan dijual dalam keadaan hidup.

Produksi lobster hasil budidaya pada tahun 2013 mencapai 54,3% dari produksi dunia dari hasil budidaya. Namun sayangnya kondisi ini mulai menurun seiring terbukanya ekspor benih-benih lobster.

Di pasar global, nilai ekspor benih lobster pada tahun 2020 mencapai 2022 ton dengan nilai 75,25 juta US dollar. Indonesia produsen lobster terbesar kedua setelah Vietnam.

Indonesia negara maritim dengan sumber daya ikan yang sangat besar, tetapi jika dieksploitasi secara terus menerus tanpa mempertimbangkan keberlanjutan maka untuk mengembalikan dibutuhkan usaha yang tidak kecil dan waktu yang tidak sebentar.

Untuk itu akuakultur hadir sebagai jawaban dalam pengembangan produksi lobster secara nasional. Ada 4 aspek dalam pembangunan akuakultur. Aspek pertama yaitu aspek teknologi perlu diterapkan untuk meningkatkan nilai tambah produk akuakultur.

Kedua, aspek lingkungan dimana akuakultur perlu dilakukan dengan menerapkan unsur-unsur keberlanjutan.

Ketiga adalah aspek ekonomi, dimana keterlibatan stakeholder akan berperan penting sehingga kesejahteraan pelaku budidaya menjadi tujuan utamanya. Terakhir aspek pasar yang menjadi pertimbangan usaha budidaya sesuai permintaan pasar.

Indonesia harus mampu menghasilkan benih lobster dari hasil pemijahan sendiri ataupun pemijahan buatan sehingga tidak lagi tergantung pada hasil tangkapan, Indonesia juga mengembangkan teknologi yang ramah lingkungan dan pakan lobster sehingga tidak bergantung pada ikan runcah. Untuk mendukung hal ini, KKP akan
mengembangkan kampung-kampung lobster.

Dekan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Padjadjaran, Dr. Sc. Agr. Yudi Nurul Ihsan, S.Pi., M.Si dalam webinar ini menyampaikan materi terkait Roadmap pengelolaan lobster.

Menurut beliau, lobster dapat menjadi kekuatan ekonomi di masa mendatang, namun perlu perbaikan pada berbagai isu dan masalah dalam budidaya yaitu isu tata Kelola, tata niaga, lingkungan, kebijakan, dan sosial budidaya.

Salah satu agenda utama negara adalah pengentasan kemiskinan dan ketidakmerataan distribusi ekonomi yang masih berpusat di Indonesia Barat.

Dengan hadirnya sektor perikanan yang dikelola dengan baik dan juga budidaya lobster diharapkan dapat mempercepat pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Halaman
123
Sumber: Tribun Cirebon
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved