Breaking News:

Virus Corona Mewabah

Andai PPKM Enggak Ngaruh dan Kasus Covid-19 Gak Menurun, IDI Usul Berlakukan PSBB yang Ketat Banget

Andai PPKM tahap kedua tidak juga menurunkan jumlah infeksi baru dan kasus kematian akibat Covid-19, maka solusinya adalah PSBB superketat.

ISTIMEWA
Pengendara yang membandel tidak mengenakan masker langsung dihukum push-up oleh petugas di Jalan DI Panjaitan Indramayu, Sabtu (9/5/2020) sore 

TRIBUNCIREBON.COM, BANDUNG - Wakil Ketua Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI), Slamet Budiarto mengatakan, masih terus meningkatnya angka kasus harian positif Covid-19 di Tanah Air adalah petunjuk bahwa pemerintah sebaiknya menerapkan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) secara ketat.

Sejauh ini, ujar Slamet, PB IDI masih terus melihat dan akan melakukan evaluasi pemberlakuan PPKM tahap kedua yang berlangsung pada 26 Januari lalu hingga 8 Februari mendatang. Jika PPKM tahap kedua tidak juga menurunkan jumlah infeksi baru dan kasus kematian akibat Covid-19, maka solusinya adalah PSBB superketat.

”Jalan terakhir ya PSBB superketat. Mobilisasi masyarakat disetop. Enggak ada jalan lagi, apa lagi jalannya? Vaksin (untuk masyarakat) belum tersedia,” kata Slamet saat dihubungi Tribunnews.com, Senin (1/2/2021).

Slamet juga mengatakan bahwa ketentuan swab PCR tidak menjamin seseorang tidak terjangkit virus korona dalam perjalanan. Sebab, jika swab PCR dilakukan hari ini dan hasilnya negatif, seseorang masih bisa terinfeksi virus corona keesokan harinya.

"Ini kan penyakit kerumunan, penyakit mobilitas. Kalau itu (mobilitas) dihentikan, otomatis (jumlah penyebaran Covid-19) turun. Simple-nya begitu," tambah Slamet.

Jika angka kematian dan infeksi Covid-19 masih tinggi, Slamet menyarankan PSBB superketat dilakukan setidaknya selama satu bulan.

Meski begitu, ia menyebut bahwa risiko terbesarnya ada pada sektor ekonomi. Namun, tidak ada jalan lain lagi untuk benar-benar menekan laju pertambahan kasus kematian dan infeksi baru virus korona.

"Tinggal Presiden mau memilih yang mana. Kalau mau menurunkan (angka kematian dan infeksi Covid-19) betul-betul turun, risikonya ekonomi," ungkapnya.

VIDEO Jalan Utama Kabupaten Sukabumi Bak Kubangan Kerbau Bahayakan Pengendara, DPU: Akan Dibeton

Pengamat kebijakan publik yang juga Wakil Rektor III Universitas Pasundan (Unpas), Deden Ramdhan, mengatakan pandemi Covid-19 adalah situasi force majure yang bukan hanya terjadi di Tanah Air, tetapi di seluruh dunia. Tidak tidak ada pemerintah manapun yang siap menghadapi keadaan.

"Jadi situasi pandemi ini membawa dampak dilematis bagi pemerintah. Apabila PSBB diterapkan seketat-ketatnya dengan lockdown, maka roda ekonomi tidak akan berjalan. Apalagi saat ini pertumbuhan ekonomi sedang sangat terpuruk," ujarnya kepada Tribun saat dihubungi melalui telepon, Senin (1/2).

Halaman
12
Editor: Fauzie Pradita Abbas
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved