Breaking News:

Produksi Bubutan Kayu di Kuningan Tembus Pasar Internasional, Jasa Tukang Bubut Tak Ditarif

Untuk memenuhi pemesanan, kata Deden, jumlahnya masih belum bisa maksimal. Hal itu diakibatkan waktu dan pembuatannya itu secara manual.

TribunCIrebon.com/Ahmad Ripai
Usaha bubut kayu yang dilakukan Deden (50), warga Desa Silebu, Kecamatan Pancalang, Kabupaten Kuningan, ini tembus pasar internasional. 

Laporan Kontributor Kuningan, Ahmad Ripai

TRIBUNCIREBON.COM, KUNINGAN - Usaha bubut kayu yang dilakukan Deden (50), warga Desa Silebu, Kecamatan Pancalang, Kabupaten Kuningan, ini tembus pasar internasional. Pasalnya, produksi bubut kayu ini masih manual namun menghasilkan kualitas bagus.

"Alhamdulillah, untuk pengerjaan saat ini ada pesanan bikin tiang meja untuk dikirim ke luar negeri," kata Deden saat ditemui di lokasi usahanya, di desa setempat, Selasa (26/1/2021).

Untuk memenuhi pemesanan, kata Deden, jumlahnya masih belum bisa maksimal. Hal itu diakibatkan waktu dan pembuatannya itu secara manual.

"Iya, pembubutan kayu kami lakukan masih manual dengan mesin pompa air yang dimodifikasi begini," kata Deden.

Baca juga: Indramayu Ada di Zona Merah Penyebaran Covid-19, Jubir Satgas Ungkap 2 Penyebab Ini

Baca juga: VIRAL Spot Foto Unik di Indramayu, Rumah Tua di Pinggiran Jalur Pantura Ini Bisa Jadi Rekomendasi

Baca juga: 300 Personel Polresta Cirebon Siap Amankan Pendistribusian dan Pelaksanaan Vaksinasi Covid-19

Mengenai pendapatan dari usaha sebagi tukang bubut kayu. Deden mengaku bahwa ini dibayar sesuai dengan jasa yang tidak menentukan nominalnya berapa.

"Tapi rata -rata ongkos pembuatan yang kami terima dari pemesan itu mulai dibayar Rp 5 ribu hingga Rp 25 ribu," ungkap dia.

Jasa pembayaran itu, kata dia, tentu disesuaikan dengan tingkat kesukaran dalam melakukan pembentukan kayu yang dipesan sebelumnya.

"Untuk jasa gimana tingkat kesulitan saat membentuk kayu hingga sesuai pesanan. Kemudian untuk jenis kayu itu bebas dari pohon apapun bisa," ujarnya.

Menyinggung keterampilan untuk membuat bidak catur, kata Deden, pihaknya mengaku menargetkan harga jual per set bidak catur itu sebesar Rp 150 ribu.

"Bidak catur Rp.150 ribu itu belum berikut papan atau alas catur tersebut," ujarnya.

Di lokasi pembubutan, Deden terlihat ulet melakukan pembentukan dasar kayu yang diinginkan sebelumnya.

"Perkakas yang digunakan ini seperti gergaji, pahat dan alat bangunan pada umumnya," katanya.

Alasan terjun sebagi tukang bubut, kata Deden, karena profesi ini sudah mengakar sejak dirinya masih lajang. "Waktu itu, saya di Klender ikut kerja di meubel tapi bagian bubut kayu. Kuli bubut di Jakarta itu sekitar tahun 1984 hingga tahun 1990," katanya.

Akibat lapak usaha majikan terkena gusuran kebijakan pemerintah di sana, ia memutuskan pulang kampung. "Masuk tahun 1990, saya pulang kampung dan melanjutkan usaha bubut hingga sekarang," katanya.(*)

Penulis: Ahmad Ripai
Editor: Machmud Mubarok
Sumber: Tribun Cirebon
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved