Fenomena Bunga Bangkai Raksasa di Tahura Juanda, Mekar Sempurna Setelah 2 Hari Langsung Mati
Keindahan bunga bangkai itu hanya bisa dinikmati dalam dua hari saja, yang selanjutnya layu dan mati.
Tayang:
Editor:
Machmud Mubarok
istimewa.
Kepala Balai Pengelolaan Tahura Ir H. Djuanda, Lianda Lubis berfoto di belakang Amorphophallus Titanum yang sedang mekar sempurna di Tahura Djuanda, Minggu (24/1/2021).
Laporan Wartawan Tribun Jabar, Cipta Permana
TRIBUNCIREBON.COM, BANDUNG - Fenomena langka dan unik terjadi di salah satu koleksi tanaman di Taman Hutan Raya (Tahura) Ir. Djuanda Kota Bandung.
Amorphophallus Titanum atau biasa disebut suweg atau bunga bangkai raksasa mengalami fase mekar sempurna sejak Minggu (24/1/2021).
Fenomena ini menjadi langka, karena untuk dapat mekar, tanaman berkelopak ungu jenis umbi-umbian tersebut, memerlukan waktu sekitar tiga sampai empat tahun.
Baca juga: Soal Kasus Pengaturan Proyek di Indramayu, KPK Panggil 2 Mantan dan Lima Anggota DPRD Jabar
Baca juga: Anak yang Gugat Orangtua Rp 3 Miliar Kini Minta Maaf, Siap Sujud di Kaki Bapaknya, Saya Siap Damai
Baca juga: Amanda Manopo Dituduh Ganjen Karena Dicium Arya Saloka di Ikatan Cinta, Billy Syahputra Bereaksi
Keindahan bunga bangkai itu hanya bisa dinikmati dalam dua hari saja, yang selanjutnya layu dan mati.
Tidak heran jika banyak masyarakat dari berbagai kalangan penasaran dan berlomba-lomba untuk melihat secara langsung dari tanaman endemik dari Provinsi Sumatera tersebut.
Kepala Balai Pengelolaan Tahura Ir H. Djuanda, Lianda Lubis mengatakan, bunga bangkai raksasa yang tengah mekar tersebut, merupakan spesies nomor tiga dari total lima buah Amorphophallus Titanum koleksi Tahura Djuanda yang didatangkan langsung dari Bengkulu sejak tahun 2006 lalu.
"Bunga ini mekar sempurnanya Minggu (24/1) dan Senin (25/1) kemarin, kalau sekarang sudah agak layu, karena memang fase mekar sempurnanya biasanya tidak lama hanya beberapa jam, atau paling lama dua hari saja," ujarnya saat ditemui di Tahura Djuanda. Selasa (26/1/2021).
Lianda menuturkan, untuk ukuran saat bunga mekar sempurna, diameter lebarnya 1,5 - 2 meter, dan tingginya 2,5 meteran.
Kondisi tersebut menurutnya termasuk kecil, karena koleksi lainnya yaitu, spesies nomor dua pernah mekar lebih dari ini, tahun 2018 lalu, hingga mencapai diameter dua meter dan tinggi tiga meter.
Lianda menjelaskan, selama ini banyak orang salah mengira bahwa bunga bangkai itu adalah Raflesia Arnoldi. Padahal seharusnya adalah Amorphophallus Titanum.
Hal itu karena walaupun sama-sama mengeluarkan bau, kedua tanaman ini merupakan jenis yang berbeda.
Apabila Amorphophallus Titanum memiliki batang dan daun karena melewati masa vegetatif.
Selain memiliki batang dan daun, dengan bunga yang mekar dari dasar bunga yang menyembul ke luar.
Sedangkan Rafflesia atau padma adalah tumbuhan parasit yang tidak memiliki daun atau pun akar. Walau begitu padma memiliki bunga berukuran besar.
"Kalau Raflesia Arnoldi saya sendiri belum pernah melihat langsung mekar bunganya dan mencium langsung baunya saat fase mekar sempurna. Tapi kalau ini (Amorphophallus Titanum) saat hari Minggu kemarin baunya sanget (menyengat) banget, seperti bangkai tikus. Tapi setelah fase mekar sempurnanya selesai, biasanya baunya akan hilang sendirinya," ucapnya.
Disinggung terkait masa yang dibutuhkan untuk siklus metamorfosis dari bunga tersebut menurutnya Amorphophallus Titanum memiliki dua fase pertumbuhan.
Fase pertama atau vegetatif yang tumbuh hanya batang dan daunnya saja, kemudian fase kedua atau generatif yaitu, tumbuh bunga dan mekar sempurna.
"Jadi itu dia fasenya unik, ada dua yaitu, vegetatif sama fase generatif. Fase vegetatif itu saat tumbuh daun sama batang doang, itu biasanya berproses selama tiga tahunan, siklusnya tumbuh batang dan daun, lalu mati, lalu tumbuh batang dan daun lagi, lalu mati lagi, dan kemudian tahun ketiga atau keempat masuk fase generatif, yang mulai tumbuh dan mekarnya bunga," ujar Lianda.
Meski demikian dari beberapa tempat yang mengoleksi bunga bangkai raksasa itu, tidak semuanya dapat menyaksikan fase generatif tersebut.
Hal itu sangat tergantung pada kondisi kandung tanah dan lokasi di mana ia berada.
Karena Tahura Djuanda memiliki tanah yang subur dan suhu udara asri serta kandungan nutrisi dalam tanah andosol yang berasal dari gunung api memadai, sehingga mendukung perkembangbiakan dari setiap tanaman, termasuk Amorphophallus Titanum.
"Tanah di Tahura ini subur, mereka punya nutrisi sendiri sehingga tidak perlu kita tambahkan nutrisi apapun lagi, kami hanya berupaya melindungi tanaman ini agar tidak terganggu oleh tangan-tangan jahil, maka kami pagari beberapa meter dari berdirinya tanaman itu agar dapat tetap dinikmati oleh para pengunjung," katanya. (Cipta Permana).
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/cirebon/foto/bank/originals/bunga-bangkai-raksasa-di-tahura-juanda.jpg)