Breaking News:

Soroti Jatuhnya Sriwijaya Air SJ 182, Media Asing Sentil Indonesia, Tempat Buruk untuk Penerbangan

Jatuhnya pesawat terbang Sriwijaya Air SJ 182 menjadi sorotan sejumlah media asing. Media asing itu sebut buruknya catatan keamanan aviasi Indonesia.

Editor: dedy herdiana
(Tribun Network)
ILUSTRASI: Soroti Jatuhnya Sriwijaya Air SJ 182, Media Asing Sentil Indonesia, Tempat Buruk untuk Penerbangan 

Laporan insiden

Kegagalan komunikasi juga menjadi faktor utama kecelakaan pesawat di Indonesia.

Penerbangan AirAsia dari Surabaya pada Desember 2014, pilot Indonesia dan kopilot Perancis tidak mencapai kesepakatan atas kontrol setelah upaya mereka memperbaiki sistem kemudi yang rusak menyebabkan auto-pilot terlepas.

Pesawat itu kemudian naik dengan curam, terhenti dan jatuh ke laut.

Bandara Soekarno-Hatta juga mengalami membludaknya penumpang karena menjamurnya perjalanan udara di Asia.

Kapasitas tahunan bandara itu sudah dirancang diperluas melayani sekitar 60 juta penumpang, tapi sebelum Covid-19 ada, pada 2019 lalu Soetta melayani sekitar 80 juta penumpang.

Sampai akhirnya landasan pacu ketiga baru diresmikan Januari lalu guna membantu mengurangi kemacetan dan penundaan penerbangan.

Sriwijaya Air yang berdiri tahun 2003 dan melayani 53 rute termasuk ke Penang, Malaysia dan Dili, Timor Leste, sebelumnya tidak pernah mengalami kecelakaan fatal.

Baca juga: Keluarga Kapten Didik Singkirkan Karangan Bunga Belasungkawa, Masih Berharap Ada Keajaiban Tuhan

Ada total 4 insiden lain yang dialami maskapai ini, terakhir pada Mei 2017 ketika Boeing 737-33A melampaui batasan.

Sebelumnya pada bulan Juni 2012 ketika sebuah jet Boeing lain berbelok dari landasan pacu setelah mendarat di Pontianak, Kalimantan Barat, yang dituju oleh Penerbangan 182.

Pesawat dibatalkan karena kerusakan roda pendaratan yang parah.

Hujan juga turun deras pada saat pendekatan.

Baca juga: Lirik Lagu Sholawat Allahul Kafi Lengkap Video dan Terjemahannya, Lantunkan Sebagai Amalan Ibadah

Empat insiden tidak fatal dalam 17 tahun tidak buruk.

TransNusa Aviation Mandiri yang didirikan pada tahun 2012 telah mengalami satu kali sedangkan Lion Air yang didirikan pada tahun 1999 telah mengalami sembilan ditambah dua peristiwa fatal lainnya.

Jet Boeing 737-500 telah terlibat dalam delapan kecelakaan kehilangan lambung, atau insiden di mana kerusakan pesawat tidak dapat diperbaiki, dengan total 220 kematian, menurut Aviation Safety Network.

Airbus SE A319, jet yang sebanding, telah melibatkan tiga pesawat.

Pada September 2008, sebuah penerbangan Aeroflot PJSC 737-500 jatuh menewaskan 88 orang sementara kecelakaan Asiana Airlines Inc. pada Juli 1993 merenggut 68 nyawa.

Penyelidik mengaitkan kecelakaan dengan faktor-faktor termasuk kinerja pilot, pelatihan atau cuaca.

Jika tidak ada yang selamat dari Sriwijaya Flight 182, itu akan menandai bencana terburuk ketiga 737-500.

Artikel ini telah tayang di Intisari.grid.id dengan judul Setelah Kecelakaan Pesawat Sriwijaya Air SJ182, Media Asing Malah Sebut Indonesia Jadi Tempat Terburuk untuk Lakukan Penerbangan, Apa Sebabnya?

Sumber: Intisari
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved