Breaking News:

Surat Terbuka untuk Gubernur Jabar dari Pegiat Aksara Sunda, 'Malu Liwat Saking Lihat Provinsi Lain'

Sayangnya surat yang dikirim ke Pemprov Jabar tak kunjung berbalas. Sampai akhirnya dua pegiat aksara Sunda ini memutuskan menulis surat terbuka

Facebook/Dadan Sutisna
Surat terbuka untuk Gubernur Jabar yang diunggah pegiat aksara Sunda, Dadan Sutisna dan Ilham Nurwansah, di dinding akun Facebook pribadinya. 

Pada tahun 2008, atas dukungan dari anggota milis Urang Sunda, Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat, Universitas Padjadjaran, dan Universitas Pendidikan Indonesia, dibentuklah Tim Unicode Aksara Sunda dengan anggota sepuluh orang, yaitu Idin Baidillah, Undang A. Darsa, Oman Abdurahman, Tédi Permadi, Gugun Gunardi, Agus Suhérman, Taufik Ampera, Harja Santana Purba, Dian Tresna Nugraha, dan Dadan Sutisna. Tim ini bertugas untuk mengawal pengusulan aksara Sunda ke Konsorsium Unicode Internasional hingga peresmiannya di Grha Sanusi Hardjadinata Unpad, 20 Oktober 2008. Dian Tresna Nugraha, sang perintis fonta awal aksara Sunda yang tinggal di Jerman, menyempatkan hadir dan menggandéng anggota Konsorsium Unicode, Michael Everson.

Sejak itulah aksara Sunda mulai digunakan pada komputer, diperkenalkan di sekolah-sekolah, dijadikan perlombaan, dicetak pada kaus, dihidupkan oléh berbagai komunitas, dan bagi beberapa kalangan sebagai lambang idéntitas orang Sunda. Namun, di sisi lain aksara Sunda seolah tak punya induk. Tak ada lembaga khusus yang diberi wewenang untuk mengembangkannya, misalnya untuk mengadakan lomba désain fonta aksara Sunda, lomba website, serta penyesuaian dengan kemajuan téknologi informasi.

Alih-alih dikembangkan oleh pemerintah, yang mencuat malah kejadian menyedihkan. Misalnya, korupsi pengadaan buku aksara Sunda yang merugikan negara Rp 3,9 miliar. Atau proyék penulisan nama jalan di Kota Bandung menggunakan aksara Sunda, dan ternyata banyak yang salah. Setelah ditelusuri, ternyata pemenang ténder proyék tersebut berada di luar Jawa Barat, perusahaan yang sama sekali tak paham aksara Sunda, enggan bertanya dan barangkali tak punya kepedulian terhadap budaya. Setelah ramai di média, barulah pemerintah Kota Bandung (maaf, saat itu Bapak sebagai Wali Kota) memanggil ahli, meminta untuk memotrét semua plang jalan dan menuliskan bentuk yang semestinya, tetapi itu hanya 'ngagawékeun'. Bukan masalah 'cap nuhun' atau kerja lelah anak-anak berkeliling Kota Bandung, insya Allah mereka bekerja dengan iklhlas, kok. Namun, seolah ingin mengabadikan kesalahan karena sampai saat ini pun hanya sebagain kecil yang diperbaiki.
*
Baiklah, Bapak Gubernur, kami mencoba untuk melupakan soal itu, hingga suatu hari di masa pandémi, kami mendapat télépon dari Bapak Heru Nugroho, Wakil Ketua Bidang Pemasaran, Kerjasama dan Pengembangan Usaha PANDI. Kami bertemu tanpa mengabaikan protokol keséhatan. Perhatian PANDI pada pengembangan budaya di Indonésia, terutama yang berkaitan dengan dunia digital, patut diaprésiasi. Melalui program "Merajut Indonésia", PANDI ingin melakukan digitalisasi semua aksara di Indonésia, antara lain dengan mendaftarkan énkripsi aksara ke Internasional Internet Corporation for Assigned Names and Numbers (ICANN). Ini sepertinya sederhana, tapi sangat penting. Melalui pendaftaran ke ICANN, aksara Sunda dapat dijadikan nama domain (IDN) atau URL.

PANDI tentu saja bukan pemilik aksara Sunda. Untuk meluluskan rencana itu, setidaknya ada dua syarat yang harus dipenuhi. Pertama, aksara tersebut terbukti digunakan di laman web, dan ini bisa diupayakan melalui Lomba Website Aksara Sunda. Kedua, mendapat dukungan dari lembaga pemerintah dan lembaga masyarakat lainnya. PANDI sudah menyurati masing-masing daerah, akan tetapi réspon dari pemerintah Jawa Barat nyaris tak terdengar.

Karena surat tak berbalas, pada tanggal 22 Juni 2020 kami dan perwakilan PANDI berkunjung Disparbud Jawa Barat. Namun, belum ada tindak lanjut yang diharapkan. Pada bulan Novémber kemarin pun PANDI mengirim lagi surat, tetapi lagi-lagi belum ada kabar baik.

Apa yang kami harapkan? Bukan uang atau kutipan anggaran, bukan pula duta-dutaan, melainkan surat dukungan sesuai format dari ICANN. Pengurus PANDI sering berkunjung ke Bandung untuk mengupayakan ini, meluangkan waktu dan anggaran, tapi program dengan aksara Sunda seolah jalan di tempat. Kami bersama Ilham Nurwansah yang ikut membantu menyiapkan dokumén ini dan itu, rasanya malu 'liwat saking' jika menyaksikan antusiasme dari provinsi lain. Daérah Istiméwa Yogyakarta misalnya, selain sudah menyelesaikan kegiatan lomba, meréka mendapat dukungan penuh dari pemerintah. Meréka beberapa kali beraudiénsi dengan PANDI dan menyusun dokumén-dokumén yang diperlukan. Mungkin Bapak pernah menyaksikan pidato Sri Sultan Hamengku Buwono X pada acara Sélébrasi Digitalisasi Aksara Jawa, seperti itulah sambutan meréka terhadap indéntitas budayanya.

Lomba Website Aksara Sunda sudah diumumkan sejak beberapa bulan lalu, dan terpaksa kami perpanjang hingga 31 Januari 2021 karena beberapa hal—seharusnya bulan ini diumumkan pemenangnya. PANDI mémang telah menyediakan "hadiah awal" sebesar satu juta rupiah ditambah smartphone, tetapi kami kira, itu hanya pemicu. Misalnya, Lomba Website Aksara Lontaraq di Sulawesi Selatan memperbanyak dan menambahkan jumlah hadiah sebagai aprésiasi terhadap peserta. Para pemenang Lomba Website Aksara Jawa ditambahi laptop bagus dan lain-lain. Sementara itu, kami yakin para peserta Lomba Website Aksara Sunda bukan lantaran tergiur hadiah yang satu juta itu, melainkan semata-mata atas kecintaan meréka pada salah satu indéntitas budaya.

Untuk hal sederhana seperti ini pun étnis Sunda sudah tertinggal oléh étnis lain. Akan tetapi, kami menganggap bahwa digitalisasi aksara Sunda melalui pendaftaran ke ICANN menjadi hal penting untuk pengembangan aksara Sunda di masa mendatang, di éra digital. Terlambat pun tidak apa-apa. Untuk penambahan hadiah, mungkin kami masih bisa mengupayakan ke pihak lain di luar pemerintah. Namun, surat resmi (sesuai format ICANN) dari pemerintah Provinsi Jawa Barat tidak bisa kami buat sendiri.

Demikian surat terbuka ini. Mohon maaf atas kekurangan.

Hurip Sunda.

Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Hormat kami,

Dadan Sutisna
[Pernah menjadi anggota Tim Unicode Aksara Sunda tahun 2008]

Ilham Nurwansah
[Filolog dan pegiat aksara Sunda]

Penulis: Machmud Mubarok
Editor: Machmud Mubarok
Sumber: Tribun Cirebon
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved