Breaking News:

Surat Terbuka untuk Gubernur Jabar dari Pegiat Aksara Sunda, 'Malu Liwat Saking Lihat Provinsi Lain'

Sayangnya surat yang dikirim ke Pemprov Jabar tak kunjung berbalas. Sampai akhirnya dua pegiat aksara Sunda ini memutuskan menulis surat terbuka

Facebook/Dadan Sutisna
Surat terbuka untuk Gubernur Jabar yang diunggah pegiat aksara Sunda, Dadan Sutisna dan Ilham Nurwansah, di dinding akun Facebook pribadinya. 

Bandung, 15 Désémber 2020

Yang terhormat,
Bapak Mochamad Ridwan Kamil, ST.,M.Ud.
Gubernur Provinsi Jawa Barat
di Bandung

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Sampurasun,

Semoga kabar baik selalu menyertai Bapak sehingga senantiasa tabah merawat Jawa Barat. Di tengah sehimpun agénda, pekerjaan, atau bahkan permasalahan yang Bapak hadapi di provinsi yang dihuni oleh mayoritas orang Sunda ini, kami ingin menyampaikan hal sederhana: tentang aksara Sunda. Kami menyebutnya sederhana, karena élemén kebudayaan ini bukan perkara urgén bagi kebanyakan orang, mungkin pula dilupakan, termasuk oléh pemerintah.

Kami mengirim surat terbuka ini sebagai langkah terakhir. Beberapa upaya telah dilakukan sebelumnya, tetapi selalu terjerat di belantara birokrasi. Begitulah, dalam beberapa urusan, birokrasi sering memperlambat putaran bumi sehingga dalam waktu enam bulan, berita ini pun mungkin belum sampai kepada Bapak. Oleh karena itu, kami ingin mengabarkan bahwa mulai tahun ini, atas inisiatif Pengelola Nama Domain Internet Indonesia (PANDI), tengah berlangsung Digitalisasi Aksara Daerah di Indonesia. Ya, ini tentang teknologi informasi. Tentang internét. Tentang bagaimana aksara di belahan dunia bisa bercengkerama dalam perangkat-perangkat digital. Termasuk—seharusnya—aksara Sunda juga ikut terlibat.

Apakah kegiatan ini penting bagi pemerintah Jawa Barat? Sebagai bahan pertimbangan, izinkan kami untuk 'ngabéjaan bulu tuur', bagaimana riwayat aksara Sunda ditranformasikan ke dalam média digital.

Dalam hal aksara pun orang Sunda banyak yang 'pareumeun obor', tidak tahu apa yang dilakukan oléh leluhurnya di masa lalu. Ada beberapa aksara yang pernah digunakan oléh masyarakat Jawa Barat, yaitu Pallawa, Pranagari, Sunda Kuna, Arab (Pégon), Cacarakan (Jawa), dan Latin. Namun, aksara Sunda Kuna malah pernah "menghilang" selama berabad-abad, tidak dikenal lagi oléh orang Sunda sebagai pemiliknya. Bahkan sampai saat ini pun masih banyak yang menganggap bahwa aksara Sunda itu adalah Cacarakan, sebagaimana pengalaman meréka di sekolah. Untunglah para ahli filologi Sunda segera membuktikan bahwa orang Sunda punya aksara sendiri sebagai lambang jati diri.

Hasil penelitian para ahli ini, kemudian dirumuskan dalam Perda Nomor 6 Tahun 1996 tentang Bahasa, Sastra, dan Aksara Sunda; kemudian diubah lagi ke dalam Perda Nomor 5 Tahun 2003 tentang Pemeliharaan, Aksara, Bahasa, dan Sastra Daerah; dan diubah lagi ke dalam Perda Nomor 14 Tahun 2014 tentang Perubahan atas Peraturan Daerah Provinsi Jawa Barat Nomor 5 Tahun 2003 tentang Pemeliharaan Bahasa, Sastra dan Aksara Daerah.

Sejak diberlakukannya Perda Nomor 6 Tahun 1996, aksara Sunda mulai diperkenalkan kepada masyarakat melalui buku 'Aksara Sunda' yang disusun oléh Tédi Permadi, Édi S. Ékadjati, Undang A. Darsa, dan Idin Baidillah berdasarkan Keputusan Gubernur Kepala Daerah Tingkat I Jawa Barat tanggal 16 Juni 1999 tentang Pembakuan Aksara Sunda.

Ketika orang Sunda mulai mengenal internét, pemeliharaan dan pengembangan aksara Sunda dilakukan di dunia maya, di antaranya oleh anggota milis (mailing list) Urang Sunda. Pada Juni 2005, Dian Tresna Nugraha merancang fonta aksara Sunda berbasis Latin-1 dengan merujuk pada désain aksara karya Tédi Permadi, dan kemudian diperkenalkan dalam Kongrés Basa Sunda VII tahun 2005 di Subang. Fonta ini merupakan rintisan untuk membawa aksara Sunda ke lingkungan yang lebih luas: standardisasi Unicode. Melalui Unicode, aksara Sunda bisa sejajar dengan aksara-aksara lain dari seluruh dunia serta lebih mudah digunakan pada perangkat digital.

Halaman
123
Penulis: Machmud Mubarok
Editor: Machmud Mubarok
Sumber: Tribun Cirebon
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved