Breaking News:

WASPADA, Pilkada Serentak di Jabar Bisa Munculkan 9.000 Kasus Covid-19 Jika Tanpa Protokol Kesehatan

berdasarkan rapid test yang dilakukan terhadap para petugas pemungutan suara, tidak sedikit di antaranya yang dinyatakan reaktif

https://covid19.go.id/peta-risiko
Ilustrasi Peta zona risiko Covid-19 di Provinsi Jawa Barat. 

 Laporan Wartawan Tribun Jabar, Muhamad Syarif Abdussalam

TRIBUNCIREBON.COM, BANDUNG - Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil mengatakan Pilkada Serentak 2020 yang akan diselenggarakan pada 9 Desember 2020 berpotensi menciptakan lonjakan angka kasus positif Covid-19 di Jawa Barat, jika tidak dilakukan pemberlakuan protokol kesehatan pencegahan Covid-19.

Tidak tanggung-tanggung, Gubernur yang akrab disapa Emil ini mengatakan berdasarkan hasil kajian para ahli, pilkada yang akan diselenggarakan di delapan daerah di Jabar dapat berpotensi menambah jumlah pasien positif Covid-19 sebanyak 9.000 orang, 

"Potensi dari Pilkada ini menambah 9.000 kasus baru, dalam hitungan para ahli. Makanya harus diwaspadai," kata Emil dalam Rapat Komite Kebijakan Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Jawa Barat di Makodam III/Siliwangi, Senin (7/12).

Baca juga: Ahok Ngamuk Gaji dan Tunjangan Anggota DPRD Jakarta Naik Rp 689 Juta Per Bulan: Tak Layak, Tak Wajar

Baca juga: Ridwan Kamil Ngaku untuk Menikahi Atalia Gak Gampang: Harus Bersaing dengan TNI, Polisi, dan Preman

Baca juga: Kisah Seorang Dokter Peluk Lansia Covid-19 yang Nangis, Pasien Ingin Keluar untuk Bertemu Sang Istri

Emil mengatakan berdasarkan rapid test yang dilakukan terhadap para petugas pemungutan suara, tidak sedikit di antaranya yang dinyatakan reaktif dan akhirnya menjalani tes swab, termasuk 90 petugas di Kabupaten Bandung.

Kemudian petugas yang bersangkutan digantikan dengan orang lain yang telah dinyatakan nonreaktif.

"Prosedurnya, petugas yang reaktif rapid saja, diganti. Jadi yang 90 (orang di Kabupaten Bandung) itu masuk kelompok yang diganti. Jadi yang reaktif kan tidak bisa menunggu ya, maka prosedurnya oleh KPU orang yang reaktif rapid ini langsung diganti. Belum tentu juga dia positif, maka akan berlanjut swab," katanya.

Hal inilah, katanya, yang menunjukkan ketegasan KPU dalam menyelenggarakan pilkada yang aman di Jawa Barat. Hanya saja, pengetesan memang tidak bisa dilakukan kepada para pemilik hak suara.

"Kita tidak bisa mengetes semua pencoblos, yang kita tes adalah petugas. Screening-nya melalui rapid, biar reaktif langsung ganti, langsung swab. Kalau dia ternyata positif, ya mengikuti prosedur protokol," katanya.

Gubernur menyatakan warga tidak boleh berlama-lama di TPS. Setelah menggunakan hak suaranya, harus langsung pulang. Penghitungan suara pun dilakukan secara digital melalui e-rekap.

Halaman
123
Editor: Machmud Mubarok
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved