Breaking News:

Dedi Mulyadi Bilang Pupuk Makin Langka: Jangan Remehkan Petani, Masalah Sederhana Gak Beres-beres

Wakil Ketua Komisi IV DPR RI yang membidangi sektor pertanian, Dedi Mulyadi mengatakan persoalan kelangkaan pupuk

Istimewa
Dedi Mulyadi mencoba memikul karung berisi gabah basah seberat 45 kilogram 

TRIBUNCIREBON.COM - Wakil Ketua Komisi IV DPR RI yang membidangi sektor pertanian, Dedi Mulyadi mengatakan persoalan kelangkaan pupuk subsidi yang terjadi sekarang ini sudah tak bisa ditolerir lagi.

Menurut Dedi Mulyadi, para petani di Indonesia sudah resah dengan kondisi ini. Untuk itu pemerintah, baik itu PT Pupuk Indonesia maupun Kementerian Pertanian harus mengambil tindakan cepat.

"Jangan lagi berkutat dalam persoalan data dan sejenisnya. Kalau persoalan data, data di desa-desa sudah lengkap. Di situ jelas, pemilik sawah yang layak maupun tidak layak dapat subsidi sudah jelas. Soal kepemilikan hak atas tanah di desa pun lengkap dan jelas," kata Dedi Mulyadi melalui ponselnya, Kamis (12/11/2020).

Dedi meminta pemerintah tidak berputar dalam berbagai mekanisme karena musim tanam harus segera digelar. Sebab ini bagian terpenting untuk menjaga stabilitas pangan nasional.

Baca juga: TERUNGKAP Sosok Asli Caswara, Bocah yang Hidup Sendiri di Saung Tengah Rawa dan Semak Belukar

Hasil tinjauannya ke lapangan, kata Dedi, di banyak tempat terjadi kelangkaan pupuk subsidi.

Hal ini antara lain disebabkan petani harus memakai kartu tani, sedangkan kartu taninya banyak masalah. Bahkan ada daerah tak punya sinyal sehingga aksesnya menjadi sulit.

"Saya kira ini dua hal saja. Kartu tani silakan tetap jalan. Nah yang kartu taninya belum optimal pakai saja sistem pelayanan manual," kata Dedi.

Menurut Dedi, terkait optimalisasi kartu tani, seperti verifikasi data dan sejenisnya atau yang menyangkut mekanisme administratif digital dan sistem pelayanan itu tetap harus berjalan.

"Jadi jangan membuat sulit petani. Mereka sudah menyelamatkan Indonesia dari krisis. Jangan dianggap petani  sebagai kelompok masyarakat yang tidak memiliki nilai tekan. Jangan remehkan petani," ujar Dedi.

Dedi mengatakan, masalah pupuk sudah lama dibahas berulang-ulang tapi seperti tak ada solusi. Petani seolah diremehkan dan tidak dilayani dengan baik.

"Saya kira ini masalah sederhana. Kalau ada tindakan yang tepat, dua hari juga selesai. Menteri beri instruksi agar pupuk Indonesia bergerak. Kemudian nanti kios-kios bergerak siapa yang dilayani dan tidak dilayani. Sederhana," ujarnya.

Baca juga: Baru Saja Terjadi, Hujan Deras dan Angin Kencang Landa Sukabumi, Pohon Tumbang Timpa Rumah

Menurut Dedi, sistem data sudah ada dan menunjukkan siapa pemilik atau yang tidak memiliki kartu tani.

Tinggal bagaimana caranya pemilik kartu tani dilayani menggunakan sistem pelayanan digital dan yang tidak memiliki dilayani secara manual.

"Di setiap kios agen pupuk ada data petani. Mereka tahu pemilik sawah yang luas dan tidak. Atau nanya ke desa. Tanya siapa pemilik lahan di desa, ada data yang rinci di desa. Ini kan mudah saja, asal ada keinginan," kata Dedi.

Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved