Breaking News:

Krisis Pupuk, Anggota DPRD Kuningan Dorong Petani Gunakan Pupuk Organik

Anggota DPRD Kuningan, Udin Kusnedi mengajak petani kembali menggunakan pupuk orgnaik atau pupuk kompos.

Penulis: Ahmad Ripai | Editor: Mutiara Suci Erlanti
Kontributor Tribun Cirebon/Ahmad Ripai
Anggota DPRD Kuningan, Udin Kusnedi Berikan Benih Padi Ke Petani Desa Windujanten 
Laporan Kontributor Kuningan, Ahmad Ripai
TRIBUNCIREBON.COM, KUNINGAN – Anggota DPRD Kuningan, Udin Kusnedi mengajak petani kembali menggunakan pupuk organik atau pupuk kompos.
Hal ini akibat terjadi krisis pupuk di Kuningan sejak beberapa waktu terakhir. 
“Ajakan kami terhadap petani untuk gunakan pupuk organik, jelas melihat pengalaman dari para petani sebelum- sebelumnya,” kata Udin saat usai menghadiri kegiatan pembinaan petani dan pemberian benih dalam program guyur benih, di Desa Windujanten, Kecamatan Kadugede, rabu (11/11/2020).
Udin yang juga ketua Fraksi PAN DPRD Kuningan ini mengatakan, kelangkaan pupuk ini terjadi bukan di daerah Kuningan saja. 
"Ini terjadi di belahan nusantara dan akibat adanya pengurangan pasokan pupuk bersubsidi dari pemerintah,” kata Udin. 
Menghadapi musim penghujan, kata dia, ini sekaligus sebagai masa tanam yang tidak bisa dihindari para petani untuk melakukan aktivitasnya sebagai penggarap. 
“Oleh karenanya, kami mengajak para petani untuk bisa kembali menggunakan pupuk organik. Seperti kotoran hewan dan pupuk kompos, langkah ini merupakan keringan bagi petani dalam menghasilkan pupuk tersebut,” katanya. 
Di tempat sama, Neni Supriatni, Kordinator BPP (Badan Penyuluh Pertanian, red) Kecamatan Kadugede ini menyebutkan, kelangkaan pupuk yang terjadi di Bulan Oktober hingga sekarang. 
“Secara nasional memang berkurang sebesar 1 juta ton. Padahal pada tahun sebelumnya atau 2019, ketersedian pupuk bersubsidi ini ada sebanyak 9 ton,” katanya.
Gejolak kelangkaan pupuk di setiap daerah, kata Neni, ini memang sudah diketahui oleh Kementrian Pertanian. 
“Mudah-mudahan di tahun 2021 ketersedian pupuk bisa mencapai 10 juta ton dan kembali tidak kesulitan mencari pupuk seperti biasanya,” katanya. 
Muncul aturan petani yang butuh pupuk harus memiliki kartu tani dari masing – masing kelompok.
“Untuk di Kecamatan Kadugede semua petani sudah memilikinya. Seperti di Desa Windujanten ini ada sekitar 100 lebih petani dari 70 kelompok tani sudah punya kartu tani. Kemudian, jumlah keseluruhan kartu tani dari kelompok sekecamatan ini mencapai 1600 an,” katanya.
Mengenai penggunaan pupuk untuk lahan pertanian di Kecamatan Kadugede, kata Neni, terhitung seluas lahan garap pertanian  itu bisa mencapai puluhan ton.
“Jika dihitung kebutuhan pupuk masing – masing per hektae itu pupuk urea 275 kg dan NPK 300 kg, berapa jumlah penggunaan di daerah sini,” katanya.
Soal pemilik kartu tani yang tak dapat jatah pupuk, kata Neni, ini ada kendala di kartu tanda penduduk.
“Biasanya dari status yang menyebutkan seumur hidup dan KTP model lama. Sehingga dalam aplikasi kartu tani itu ada koneksi dan kuota pupuk pun tidak tersedia,” katanya.
Sementara itu, Kepala Desa Windujanten Rohman Hidayat mengatakan, luas lahan pertanian di daerah itu ada sekitar 84 hektare. 
“Ini terbagi dalam pelaksanaan kerja melalui petani yang tergabung dalam kelompok tani dan mandiri,” katanya.
Mengenai pemberian benih dalam program pemerintah guyur benih, kata Rohman, pihaknya sangat mengapreasi terhadap pemerintah. 
“Apalagi dalam kegiatan tadi di hadiri Anggota DPRD Kuningan, pak haji Udin,” katanya. (*)
Sumber: Tribun Cirebon
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved