Breaking News:

Pelaksanaan New Normal

Angka Covid-19 di Tempat Wisata di Jabar Rendah Kata Ridwan Kamil, Protokol Kesehatan pun Diterapkan

Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil mengklaim penerapan protokol kesehatan pencegahan Covid-19 di kawasan pariwisata di Jabar berjalan baik.

Editor: Fauzie Pradita Abbas
Humas Jabar
Gubernur Jabar Ridwan Kamil dalam acara Ekspose Kesiapan Pilkada Kabupaten Pangandaran di Kantor Bupati Pangandaran, Jumat (23/10/20) 

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Muhamad Syarif Abdussalam

TRIBUNCIREBON.COM, BANDUNG - Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil mengklaim penerapan protokol kesehatan pencegahan Covid-19 di kawasan pariwisata di Jabar berjalan baik.

//

Hal ini dilihat dari jumlah wisatawan yang terkonfirmasi positif Covid-19, terbilang sangat sedikit.

Gubernur yang akrab disapa Emil ini  menyatakan, rapid test sebelumnya dilakukan secara acak pada saat libur panjang beberapa pekan lalu, yakni dilakukan kepada sekira 14 ribu wisatawan.

Dari jumlah itu, ratusan orang dinyatakan reaktif. Namun, yang terkonfirmasi positif hanya lima orang berdasarkan pengetesan metode PCR.

“Ini mengindikasikan protokol kesehatan di destinasi-destinasi wisata, baik selama pergerakan maupun di pusat wisatanya di Jawa Barat, dilaksanakan dengan baik,” ucap Emil di Gedung Sate, Kota Bandung, Selasa (10/11).

Emil mengaku akan menggalakan lagi pengetesan pada pekan depan untuk melihat lonjakan kasus.

Apabila tidak ada lonjakan angka penambahan secara signifikan, maka kebijakan yang diterapkan saat long weekend kemarin dianggap baik.

“Tapi kalau minggu depan terjadi lonjakan tinggi sekali di luar normal, maka potensi penyebaran lewat long weekend ini mungkin menjadi sebuah perhatian,” katanya.

Dalam kesempatan itu, ia melaporkan dinamika kluster penyebaran Covid-19 di kawasan pesantren dan keluarga.

Baca juga: Perempuan Lanjut Usia di Kota Tasikmalaya Meninggal Akibat Covid-19 Klaster Keluarga

Menurut dia, virus ini bisa menulari orang di lokasi apapun. Potensi akan meningkat jika protokol kesehatan tidak dijalankan dengan disiplin.

“Guru-guru dan para ustaznya memang sudah diarahkan segera untuk melakukan tes ya. Karena dari pengalaman beberapa pesantren, ternyata banyak yang datang dari pengajar yang memang sering keluar-masuk. Kalau santrinya relatif mereka bermukim sehingga tidak banyak pergerakan,” katanya.

“Mayoritas kasus pesantren datang dari mereka mereka yang keluar masuk ke komplek pesantren, salah satunya adalah gurunya atau dari supplier atau mereka mereka pihak ketiga yang melakukan kegiatan di pesantren. itu akan diteruskan untuk dijadikan prioritas dalam pengetesan," katanya. 

Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved