Breaking News:

BIJB Kertajati Majalengka Sepi Tak Ada Penumpang, Wakil Ketua DPRD Jabar: Bandara di Bali Saja Sepi

Bandara di sejumlah daerah yang setiap tahunnya banyak dikunjungi wisatawan baik lokal maupun asing pun kini sepi, apalagi di BIJB

Eki Yulianto/ Tribuncirebon.com
Suasana Bandara Kertajati selepas diberhentikannya seluruh layanan penerbangan pada awal April ini. 

Laporan Wartawan Tribuncirebon.com, Eki Yulianto

TRIBUNCIREBON.COOM, MAJALENGKA -  Wakil Ketua DPRD Provinsi Jawa Barat, Ineu Purwadewi menanggapi terkait sepinya Bandara Kertajati Jawa Barat (BIJB) Kertajati Majalengka

Menurutnya, di masa pandemi Covid-19 seperti sekarang ini, sepinya seluruh terminal transportasi baik darat, udara dan laut menjadi hal biasa.

Lantaran, sebagian masyarakat masih menjaga betul penerapan protokol kesehatan yang mana pemerintah masih melarang warga untuk pergi ke luar kota.

Baca juga: BREAKING NEWS - Dua Kali Positif Hasil Uji Swab, Pasien Covid-19 di Majalengka Akhirnya Meninggal

Baca juga: Daftar Harga Hp Oppo November 2020 Oppo A5, A53, A31, A92, Oppo Reno 4, hingga Oppo Find X2 Pro

Baca juga: Pandemi Corona Bikin Harga Pasar Mobil Babak Belur, Toyota Agya Diijual Murah, Cepat Kalau Minat!

Baca juga: Promo JSM Alfamart Hari Ini 6-8 November 2020, Dapatkan Potongan Harga untuk Beras, Minyak dan Susu

"Penerbangan tidak hanya sepi di BIJB, tapi hampir di seluruh bandara. Tak hanya itu, terminal di darat dan pelabuhan di laut juga sama," ujar Ineu dalam acara reses di salah satu rumah makan di Majalengka, Sabtu (7/11/2020).

Dirinya pun prihatin dengan kondisi saat ini.

Ineu mencontohkan bahwa di Bali yang merupakan daerah paling sering dikunjungi wisatawan pun, saat ini sepi dari pengunjung karena dampak pandemi Covid-19 ini.

"Oleh karena itu, Bandara di sejumlah daerah yang setiap tahunnya banyak dikunjungi wisatawan baik lokal maupun asing pun kini sepi, apalagi di BIJB yang hanya beberapa flight saja," ucapnya.

Wakil Ketua DPRD Jabar, Ineu Purwadewi saat mengisi reses di sebuah rumah makan di Majalengka, Sabtu (7/11/2020).
Wakil Ketua DPRD Jabar, Ineu Purwadewi saat mengisi reses di sebuah rumah makan di Majalengka, Sabtu (7/11/2020). (TribunCirebon.com/Eki Yulianto)

Kendati demikian, pihaknya bersama Pemprov Jabar telah berupaya agar bandara yang digadang-gadang menjadi salah satu bandara internasional terbaik di Indonesia ini beroperasi dengan kondisi yang ramai.

Salah satunya menyetujui pengajuan Pemprov Jabar terkait penyertaan modal untuk BIJB.

"Bagaimanapun BIJB harus tetap beroperasi dan kami akan terus kawal hingga tetap melanjutkan rencana yang sempat tertunda. Pemprov dan kami masih berupaya menuntaskan permasalahan yang ada," jelas dia.

Seperti diketahui, sejak pandemi Covid-19 di Indonesia terjadi, BIJB Kertajati Majalengka tidak melayani penerbangan.

Namun, tidak adanya penerbangan bukan berarti tidak ada aktivitas.

Pihak BIJB sendiri tetap membuka pelayanan dan sebagian karyawannya menjalani Work From Home (WFH). 

Tak Bisa Tangkap Peluang

Sepi dan tidak beroperasinya Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB) Kertajati Majalengka menjadi pekerjaan rumah Pemerintah dalam menata ulang kawasan yang digadang-gadang sebagai kawasan pembangkit ekonomi baru.
Pengamat politik dan Ilmu Pemerintahan, Diding Bajuri menilai sampai saat ini pemerintah daerah belum begitu serius dalam mengambil keputusan untuk kebangkitan Majalengka sendiri.
Diding mengutip pernyataan dari Alfin Lee sebagai Pengamat Penerbangan, bahwa sejak awal memiliki perspektif kurang positif dan berimbang terhadap keberadaan BIJB.
Sehingga, terkesan Pemkab Majalengka belum siap menerima kondisi seperti saat ini.
"Padahal sejatinya ketika Cisumdawu selesai, tol akses BIJB selesai, Pemprov Jabar menegakkan kembali kebijakan rute dan jenis pesawat yang dapat beroperasi di Bandara Husen dan BIJB, saya meyakini aktivitas BIJB akan kembali bangun dan berkembang lagi," ujar Diding Bajuri, Rabu (4/11/2020).
Dikatakan Diding, tentu kebijakan ini harus didukung semua pihak yang bergerak di sektor.
Seperti, transportasi, pariwisata, industri dan perdagangan serta sektor-sektor penunjang lainnya seperti biro jasa perjalanan haji dan umroh.
"Ketika daya dukung BIJB telah lengkap, akses infrastruktur jalan dan perhotelan dan lainnya, PR pemerintah kabupaten/kota di wilayah Ciayumajakuning plus Sumedang secara sinergi perlu melakukan upaya bersama dalam meningkatkan daya tarik masing-masing daerah dalam sektor pariwisata, budaya dan kuliner," jelas dia.
Untuk mewujudkan hal itu semua, sambung Wa Rektor I Universitas Majalengka ini, tentu harus dengan memerhatikan tiga kunci utama pengembangan sektor pariwisata, yakni Akses, Atraksi atau Aksi dan Amenitas.
"Menurut saya hampir semua pihak cenderung saling menunggu perkembangan. Inisiasi mengawali relatif kurang serta belum adanya perencanaan integratif yang nyata terkait pengembangan sektor wisata sesuai keunikan yang dimiliki," ucapnya.
Situasi sekarang ini, Diding menambahkan, dalam keadaan uncertainty (dalam ketidakpastian).
Dengan kata lain, sedikit atau banyak masa pandemi Covid-19 telah memberikan dampak buruk terhadap dinamika semua sektor.
"Hal ini membuat keraguan terhadap sektor privat dan bisnis karena kekhawatiran menerima resiko kerugian," katanya.
Penulis: Eki Yulianto
Editor: Machmud Mubarok
Sumber: Tribun Cirebon
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved