Breaking News:

Waduk Darma Menyusut Banyak Warga Kuningan Manfaatkan Lahan Kering untuk Bercocok Tanam

Perilaku tani dadakan yang dilakukan warga dalam cocok tanam itu terjadi di bibir lahan Waduk Darma.

Istimewa
Warga sekitar Waduk Darma mamanfaatkan lahan kering akibat musim kemarau sebagai lahan pertanian di Desa Darma Kuningan. 
Laporan Kontributor Kuningan, Ahmad Ripai
TRIBUNCIREBON.COM, KUNINGAN – Penyusutan air di Waduk Darma yang terjadi setiap musim kemarau dimanfaatkan warga sekitar untuk bercocok tanam.
Perilaku tani dadakan yang dilakukan warga dalam bercocok tanam itu terjadi di bibir lahan Waduk Darma.
“Kalau air menyusut, warga di kami emang biasa melakukan bercocok tanam seperti ini,” kata Andi salah seorang warga saat ditemui di bibir waduk, Senin  (19/10/2020).
Ia mengatakan, perilaku warga di musim air surut terjadi sejek beberapa tahun lalu.
“Apalagi warga disini, masih menganggap bahwa lahan yang terendam air itu masih miliknya,” katanya.
Menurutnya dari awal adanya Waduk Darma itu tidak seluas sekarang.
“Namun saat air merendam lahan milik warga, ya mau apalagi. Paling juga memanfaatkan lahan saat musim kemarau seperti sekarang,” ungkapnya.
Megenai jenis tanaman, kata dia, kebanyakan warga melakukan bercocok tanam itu bibit padi dan sebagian tanaman holtikultura.
“Dahulu semua warga tanam itu bibit padi, namun belakangan ini ada warga yang tanam jagung dan bibit sayuran tertentu,” ujarnya.
Dalam pengolahan lahan pertanian, kata dia, tidak jauh beda dengan petani pada umumnya.
“Seperti melakukan penanaman, penyiraman dan pemberian pupuk serta menunggu waktu panen,” katanya.
Menyinggung soal risiko kerugian saat musim hujan dan air mulai naik hingga meredam lahan pertanian warga. 
“Ini tidak jadi soal dan warga pun tidak melakukan penuntutan untuk ganti untung sebagainya,” kata Andi.
Menurut aturan kata Andi, warga seharusnya tidak boleh menanami lahan waduk.
"Namun itu tadi, warga disini masih menganggap bahwa lahan itu masih milik keturunan dari terdahulu,” ujarnya.
Terpisah, Kepala Desa Darma Yadi mengaku sudah mengetahui kegiatan pemanfaatan lahan di Bibir Waduk Darma oleh warga.
“Iya, kegiatan pertanian musim kemarau itu sudah biasa warga lakukan,” katanya.
Mengenai irigasi atau pasokan air untuk lahan pertanian tersebut, kata Yadi, air keluar dari tiap mata air yang berada di hulu bibir waduk tersebut.
“Kalau airnya itu dari hulu, ya biasa gaya gravitasi bumi saja (daya tarik bumi,red),” katanya. 
Menyinggung soal hasil pertanian, kata Yadi, tani di lahan bibir waduk itu bisa merasakan hasil pertanian pada umumnya.
“Kalau pengolahan tanaman di lahan bibir waduk itu, maksimal dua kali melakukan panen,” katanya.
Yadi mengatakan, kegiatan pemanfaatan lahan waduk untuk pertanian tersebut mendapat larangan dari BBWS (Balai Besar Wilayah Sungai). 
“Ya, alasannya karenan tanaman usai melakukan panen itu menjadi limbah,” katanya.
Namun melihat perkembangan dan melakukan kajian lingkungan, kata Yadi, perlu diketahui bahwa tanaman yang busuk itu merupakan pakan buat ikan. 
“Lagi pula kalau bicara limbah, itu jelas dari pakan ikan pabrikan yang sehari bisa disebar berton–ton di kawasan perairan waduk tersebut,” ungkapnya.
Belakangan, kata dia, hal itu akhirnya tidak menjadi ganjalan warga saat melakukan pertanian di lahan bibir waduk tersebut. 
“Dan sekarang bisa dilihat dan perlu ditegaskan lagi. Bahwa kegiatan warga dalam bertani ini sekaligus program mendukung nasional dalam ketahanan pangan,” ungkapnya.
Mengenai lahan pertanian di bibir Waduk Darma kata Yadi, ini ada sekitar 10 hektare yang dimanfaatkan warga desa berbeda tempat tinggal. 
“Warga yang memanfaatkan lahan pertanian di bibir Waduk Darma itu ada warga dari RT 2, 3, 4, 23, 24 dan warga RT 27,” kata Yadi lagi. (*)
Penulis: Ahmad Ripai
Editor: Mumu Mujahidin
Sumber: Tribun Cirebon
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved