Breaking News:

Cerita Kusir Delman Jadi Saudagar Kuda di Kuningan, Harga Jual Kuda hingga Puluhan Juta

Usaha jual beli kuda, kata Eman, selama tujuh bulan terakhir mengalami penurunan omset akibat pandemi Covid-19.

TribunCirebon.com/Ahmad Ripai
Ilustrasi Sejumlah warga memandikan kuda menjelang Jumat kliwon di saluran air surakatiga, Cikedung, Kuningan. 
Laporan Kontributor Kuningan, Ahmad Ripai
TRIBUNCIREBON.COM, KUNINGAN – H Eman (56) salah seorang warga Desa Silebu, Kecamatan Pancalangan, Kabupaten Kuningan, kini memilih fokus di sektor jual beli kuda.
“Sejak tahun 2000 an, saya fokus di usaha jual beli,” kata Eman yang sebelumnya kusir delman yang biasa mangkal di kawasan Pasar Cilimus, Minggu (18/10/2020).
Usaha jual beli kuda, kata Eman, selama tujuh bulan terakhir mengalami penurunan omset akibat pandemi Covid-19. 
“Apalagi sewktu terjadi pemeberlakukaan PSBB di setiap Kota/Kabupaten di Jawa Barat,” ungkapnya.
H Eman Warga Desa Silebu, Kecamatan Pancalang, Kuningan saat ditemui di Kandang Kuda Miliknya
H Eman Warga Desa Silebu, Kecamatan Pancalang, Kuningan saat ditemui di Kandang Kuda Miliknya (Ahmad Ripai/Tribuncirebon.com)
Mengenai harga jual kuda, kata Eman, ini memiliki nilai jual beragam dan bergantung pada jenis dan sosok kuda tersebut.
“Mayoritas penjualan kuda itu berjenis kelami laki-laki, variasi harga jual mulai dari Rp 6 juta hingga puluhan juta untuk setiap ekornya,” katanya.
Daerah penjulan kuda, kata dia, tidak berpatok terhadap daerah sekitar saja.
“Melainkan kami pernah jual kuda ke daerah Garut, Pangandaran, Yogyakarta dan Bandung dan Sumatera,” katanya.
Untuk penjualan kuda lintas pulau, kata Eman, mengaku tidak terjun langsung dalam pengiriman.
“Melainkan ada bandar yang paham soal pengiriman antar pula tersebut. Biasanya, kami kirim ke Bandung dan dari sana, baru dikirim ke luar Jawa,” katanya.
Ditanya soal kuda asli Kuningan, kata dia, beberapa tahun terakhir bahwa daerah Kuningan tidak memiliki kuda asli.
”Ini akibat tidak adanya peternakan atau pengakaran kuda. Padahal Kuningan sangat tersohor dengan sebutan kecil-kecil Kuningan, namun nyatanya bisa dilihat sendiri,” katanya.
Menyinggung soal focus sebagai saudagar kuda, Eman mengaku lebih nyaman dan bisa mempelajari langsung karakter kuda.
“Apalagi saat kuda baru datang itu perlu adaptasi dengan lingkungan kandang milik saya,” katanya.
Jenis kuda yang menjadi mata pencaharian keluarga, kata Eman, itu bergantung permintaan dari konsumen sendiri. 
“Ada kuda tunggang atau kuda buat ngojek kaya begitu,” kata Eman seraya menunjuk kuda di kandang miliknya.
Kuda ‘Jonkey’ Sudah di Taksir 60 Juta 
Selama bergelut di bidang hewan yang menjadi simbol Kabupaten Kuningan ini, Eman memiliki kuda ‘jonkey’ yang sudah banyak orang menaksir dengan harga lebih tinggi dari harga jual umumnya.
“Untuk si Jonkey (kuda, red) itu kuda kesayanagan dan tak mau saya jual. Habisnya, pengalaman yang menjadi kesayangan saya, Jonkey itu kuda juara di setiap event balap kuda di daerah maupun di luar,” kata Eman yang juga Bendahara Cabang Olahraga Pordasi Kuningan.
Sosok kuda Jonkey, kata Eman, mulai usia 1,5 tahun kuda itu sudah ada di kandang.
“Waktu itu, Jonkye dibeli dari Yogyakarta dan kini, sudah ada 10 tahunan kami rawat,” katanya.
Cara Perawatan Kuda 
Soal perawatan kuda ini sama dengan hewan peliharaan lainnya.
“Namun untuk mendapat kepuasaan, jelas harus diperhatikan pakan dan suplmen bagi hewan ternak itu sendiri,” katanya.
Terutama pasokan pakan itu jangan pernah putus.
“Pemberian pakan rumput pada biasanya, kami campur dengan dedak dengan ukuran secukupnya,” ujarnya.
Kemudian, kata dia,untuk mendapat tenaga kuat saat lari di pacuan atau saat ngojek. 
“Itu harus diberikan jamu sebagai suplemen tambahan. Ya bisa memberikan telur ayam kampung atau ramuan herbal lainnya,” kata Eman lagi.  
Eman menceritakan, alat transportasi tradisional atau delman di Kuningan dalam setiap tahunnya mengalami penurunan jumlah.
“Dahulu sekitar tahun 1990 an, di kawasan Pasar Cilimus, jumlah delman dalam perhari beroperasi itu sebanyak 200 unit,” katanya.
Jumlah ratusan itu, kata dia, memasuki kemajuan jaman dan teknologi.
“Saat ini, jumlahnya tidak ada separonya. Paling setiap hari laporan dari anak saya ngojek itu, ada 20-30 delman yang aktif,” kata Eman seraya menambahkan, bahwa mengenal kuda ini merupakan keturunan dari orang tua sebelumnya sebagai kusir delman juga.
“Iya dulu orang tua saya sewaktu tahun 80 an bawa penumpang itu, jarak tempuhnya jauh – jauh. Missal dari pasar Cilimus ke Wanaya Kecamatan Beber (Kabupaten Cirebon,rd),”katanya. (*)
Penulis: Ahmad Ripai
Editor: Mumu Mujahidin
Sumber: Tribun Cirebon
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved