Breaking News:

Ketua Paguyuban Pasundan Kuningan: Daripada Ubah Nama Provinsi Jabar, Lebih Baik Ubah Pola Pikir

Tanpa dibarengi dengan penerapan nilai-nilai luhur budaya Sunda sendiri adalah hal yang percuma

TribunCirebon.com/Ahmad Ripai
Ketua Paguyuban Sunda Kuningan Jabar Rana Suparman. 

Laporan Kontributor Kuningan, Ahmad Ripai

TRIBUNCIREBON.COM, KUNINGAN - Wacana perubahan nama Provinsi Jawa Barat menjadi Provinsi Tatar Sunda, mendapat tanggapan dari Ketua Paguyuban Pasundan Kabupaten Kuningan, Rana Suparman.

"Daripada mengubah nama Provinsi Jawa Barat yang telah lama digunakan lebih baik mengubah pola pikir masyarakat saat ini agar bisa sesuai dengan cara pandang khas Sunda yatu sifat keramahannya," kata Rana juga anggota DPRD Kuningan saat di ruang wartawan kantor dewan setempat, Jumat (16/10/2020).

Rana mengatakan, cara pandang Sunda harus mengkristal di setiap pola pikir masyarakat, ini wilayah barat pulau Jawa. "Sehingga sifat keramaan (Bapak, red) yang harus tertanam di diri orang Jawa Barat," katanya.

Baca juga: Pasien Kanker Paru-paru Ini Nyaris Putus Asa Hidup, Iseng Minum Madu, Eh Penyakitnya Malah Sembuh

Baca juga: Daftar Harga Mobil Bekas Murah, Daihatsu Sigra Keluaran Turun Harga, Kini Pasaran Rp 75 Jutaan Saja

Baca juga: Rentannya Balita Terpapar Covid-19, Satgas Indramayu Ingatkan Agar Tak Bawa Anak Ke Tempat Publik

Lagi pula, kata Rana, jika nama Provinsi Jawa Barat diubah menjadi Provinsi Tatar Sunda. "Tanpa dibarengi dengan penerapan nilai-nilai luhur budaya Sunda sendiri adalah hal yang percuma," katanya.

Yang penting, masih kata Rana, masyarakat Jawa Barat harus memiliki tata cara nilai-nilai luhur seperti ramah, menjaga kebersihan hati, akur, mengayomi dan melindungi.

"Apalah arti sebuah nama kalau tidak menyentuh substansi itu sendiri, kalau ujung-ujungnya masyarakat tetap begini ya sudah Jawa barat saja," katanya.

Mengenai suku Sunda tertua di dunia, kata Rana, tentu ini bisa dibuktikan dengan sistem kepemerintahan.

"Yang mengatur tata lokasi dari wilayah perbatasan sungai, dari daerah aliran sungai (DAS). Wilayah satu dengan lainnya itu bisa dilihat dari demikian," katanya.

Khas Sunda yang melekat pada kehidupan sejak zaman dahulu. "Itu memiliki rasa saling hormat menghormati dan silih wangian, silih asah, asih dan silih asuh," ujarnya.

Halaman
1234
Penulis: Ahmad Ripai
Editor: Machmud Mubarok
Sumber: Tribun Cirebon
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved