Breaking News:

Presiden China, Xi Jinping Minta Tentaranya Siap Perang, Antisipasi Ancaman dari Amerika Serikat

Gedung Putih memberi tahu Kongres AS, Senin (12/10), bahwa mereka berencana untuk melanjutkan penjualan tiga sistem senjata canggih ke Taiwan

Instagram: @realxijinping
Presiden China, Xi Jinping. 

TRIBUNCIREBON.COM - PRESIDEN Cina Xi Jinping meminta tentara negara tersebut "mengerahkan semua pikiran dan energi untuk mempersiapkan perang". Hal ini disampaikan Xi saat mengunjungi pangkalan militer, di provinsi selatan Guangdong, Selasa (13/10).

Kantor berita Cina, Xinhua, melaporkan bahwa selama pemeriksaan Korps Marinir Tentara Pembebasan Rakyat, di Kota Chaozhou, Xi mengatakan kepada tentara untuk "menjaga keadaan siaga tinggi" dan meminta mereka untuk "benar-benar setia, benar-benar murni, dan benar-benar dapat diandalkan."

Melansir CNN, pada Rabu (14/10), tujuan utama kunjungan Xi ke Guangdong adalah untuk menyampaikan pidato dalam memperingati 40 tahun Zona Ekonomi Khusus Shenzhen, yang didirikan pada 1980 untuk menarik modal asing dan memainkan peran penting dalam membantu ekonomi Cina menjadi yang terbesar kedua di dunia.
Kunjungan militer itu terjadi ketika ketegangan antara Cina dan Amerika Serikat masih berada pada titik tertinggi dalam beberapa dekade. Beberapa pemicunya adalah ketidaksepakatan mengenai Taiwan dan pandemi virus korona menciptakan perpecahan yang tajam antara Washington dan Beijing.

Gedung Putih memberi tahu Kongres AS, Senin (12/10), bahwa mereka berencana untuk melanjutkan penjualan tiga sistem senjata canggih ke Taiwan. Menurut seorang ajudan kongres, senjata yang siap dijual ke Taiwan, di antaranya sistem roket artileri mobilitas tinggi.

Cina langsung merespons keras tindakan AS itu. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Cina Zhao Lijian meminta AS untuk segera membatalkan rencana penjualan senjata ke Taiwan dan memutuskan semua hubungan militer AS-Taiwan.

Meski Taiwan tidak pernah dikendalikan oleh Partai Komunis Cina yang berkuasa, pihak berwenang di Beijing bersikeras pulau yang demokratis dan berpemerintahan sendiri itu adalah bagian integral teritori Cina. Sehingga, Xi menolak untuk mengesampingkan kekuatan militer untuk merebutnya, jika perlu.

Terlepas dari ketidaksetujuan pemerintah Cina, hubungan antara Washington dan Taipei semakin dekat di bawah pemerintahan Trump.

Pada Agustus, Menteri Kesehatan dan Layanan Kemanusiaan AS Alex Azar menjadi pejabat AS tingkat tertinggi yang mengunjungi Taiwan dalam beberapa dekade. Azar melakukan perjalanan ke pulau itu untuk membahas masalah pandemi virus korona.

Sebagai tanggapan hubungan AS-Taiwan, Cina meningkatkan latihan militer di sekitar Taiwan. Hampir 40 pesawat tempur Cina melintasi garis tengah antara pusat daratan Cina dan Taiwan pada 18-19 September, salah satu dari beberapa serangan mendadak yang oleh Presiden Taiwan Tsai Ing-wen disebut sebagai "ancaman kekuatan".

Menteri Pertahanan AS Mark Esper mengatakan Cina tidak dapat menandingi Amerika Serikat dalam hal kekuatan angkatan laut dan menyebut Cina sebagai "pengaruh jahat".

"Mereka menggunakan ekonomi predator, subversi politik, dan kekuatan militer dalam upaya untuk menggeser keseimbangan kekuatan yang menguntungkan mereka, dan seringkali dengan mengorbankan orang lain," kata Esper.

Pada awal Oktober, Esper mengumumkan rencana Kekuatan Tempur 2045, yang mendorong Angkatan Laut AS diperluas dan dimodernisasi, yang terdiri dari 500 kapal berawak dan tak berawak pada 2045.***

Editor: Fauzie Pradita Abbas
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved