Selasa, 19 Mei 2026
Superhub Kota Cirebon
Selamat Datang Di SuperHub Pemerintah Kota Cirebon

Ulama dan Akademisi Harus Aktif Perkuat Lapak Digital Intelektual, Jangan Sampai Berisi Caci Maki

Orang bisa berinteraksi di lapak-lapak ilmu pengetahuan dengan mudah dengan pengisinya yang jelas sanad keilmuannya

Tayang:
Editor: Machmud Mubarok
Istimewa
Webinar Internasional tentang tantangan Aqidah dan Filsafat di Abad ke-21. 

TRIBUNCIREBON.COM - Para ulama dan akademisi perguruan tinggi diminta untuk bergerak aktif dan serius mengisi lapak digital intelektual.

“Jangan sampai media sosial digital diisi oleh caci-maki dan kebencian, jauh dari pilar-pilar keilmuan. Kami di Fakultas Ushuluddin dan Dakwah sedang menyiapkan apa yang kami sebut sebagai Intelectual Place. Orang bisa berinteraksi di lapak-lapak ilmu pengetahuan dengan mudah dengan pengisinya yang jelas sanad keilmuannya,” ujar Dekan Fakultas Ushuluddin dan Dakwah IAIN Surakarta Dr. Islah, saat membuka
Webinar Internasional dengan tema “Tantangan Prodi Aqidah dan Filsafat Islam Abad 21: Kajian Aqidah di Indonesia dan Thailand Era Revolusi Industri 4.0 Pada Masa Pandemi Covid-19”, yang diselenggarakan Program Studi Aqidah dan Filsafat Islam IAIN Surakarta, Asosiasi Aqidah dan Filsafat Islam (AAFI) Indonesia dan The Ulama Council of Fathoni Darussalam Foundation-Thailand, dalam rilis yang diterima TribunCirebon.com, Rabu (7/10/2020).

Dr. Islah mengingatkan, agar dunia intelektual menginisiasi lapak intelektual. Mengingat saat ini semuanya serba google. Guru, ustaz, dosen virtual itu bernama google.

Reaksi Tak Terduga Najwa Shihab Soal Dipolisikan Relawan Jokowi, Gara-gara Wawancarai Kursi Kosong

Rizky Febian Bongkar Isi Diary Lina Jubaedah, Semua Catatannya Berisikan Kerinduan Lina pada Sule

Harapannya agar semuanya mampu beradaptasi, gagasan mencerdaskan dan mencerahkan dapat didiseminasikan melalui media dan ruang digital/virtual.

“Jangan sampai media sosial itu becek dengan hal-hal yang tidak penting, jauh dari nilai intelektual,” pintanya.

Lebih lanjut Dekan Fakultas Ushuluddin dan Dakwah tersebut mengingatkan bahwa abad 21 adalah abad digital. Dunia intelektual juga menghadapi masalah serius, yakni matinya kepakaran.

Dunia media massa telah menjadikan siapa saja menjadi seolah pakar, bebas bicara apa saja dan tentang apa saja. Ilmu-ilmu Ushuluddin selaiknya menjadi garda depan untuk mengingatkan umat manusia bahwa intelektualitas menjadi bagian penting.

Keyakinan, kebenaran, dan ilmu pengetahuan harus dihasilkan dari proses secara mendalam.
Filsafat, sebagai cara berpikir yang mendalam, radikal, dan substansial menjadi bagian yang
tidak bisa ditawar. Di sinilah, ilmu-ilmu Ushuluddin akan selalu relevan.

Ketua Asosiasi Aqidah dan Filsafat Islam (AAFI) Indonesia, Dr. Munir menegaskan topik tentang tantangan kajian akidah yang diangkat dalam webinar internasional ini sangat relevan dengan Prodi Aqidah dan Filsafat Islam dan situasi saat ini.

“Saat ini kita sedang menghadapi suasana pandemi, keimanan menjadi fondasi dasar untuk bersikap dan
bertindak. Kita semua tentu berkewajiban terus mengingatkan dan mencerahkan umat untuk
memiliki nilai keimanan dan keislaman yang kokoh. Ajaran akidah harus terus diterjemahkan, agar dapat menjadi pandangan dunia yang kokoh dan membumi bagi banyak pihak,” ujarnya.

Tantangan kemanusiaan secara sosial dan individual sangat terasa berat. Misalnya artificial intellegence, karenanya Aqidah dan Filsafat Islam berperan penting merespons ini.

“Siapa saya? Sebagai manusia yang beriman, berkomitmen dan berakal. Prodi AFI diharapkan mampu memandu umat untuk menghadapi revolusi industri 4.0 maupun situasi pandemi seperti sekrang ini. Jangan sampai dengan situasi ini, mendorong semakin banyaknya orang yang ateis. Ini tugas kita semua untuk memberikan pencerahan, agar orang beragama semakin kuat akidahnya,” kata dosen Aqidah dan Filsafat Islam UIN Sunan Gunung Djati Bandung tersebut.

Ketua Program Studi Aqidah dan Filsafat Islam IAIN Surakarta, Dra. Siti Nurlaili M,M.Hum menyatakan bahwa tujuan dari kegiatan ini adalah untuk mengetahui bagaimana perkembangan Islam, lebih khusus lagi kajian akidah Islam baik di Indonesia yang merupakan negara mayoritas Muslim, maupun di Thailand yang sebaliknya, warga Muslim sebagai minoritas.

Hadir sebagai narasumber dalam kegiatan tersebut selain Dr. Munir, MA adalah dosen Fakultas Ushuluddin dan Dakwah IAIN Surakarta Dr. Imam Sukardi dan Dr. Ahmadkamae Waemusor, Wakil Ketua Jamiyah Fathoni Darussalam-Thailand dengan moderator Dr. R Lukman Fauroni.

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved