Breaking News:

Sejarah Indramayu: Mengenal Raden Bagus Arya Wiralodra, Pendiri Sekaligus Pemimpin Pertama Indramayu

Raden Bagus Arya Wiralodra sendiri merupakan pendiri sekaligus pemimpin pertama Kabupaten Indramayu.

Penulis: Handhika Rahman | Editor: Mumu Mujahidin
Tribuncirebon.com/Handhika Rahman
Ilustrasi: Jajaran Pemerintahan Kabupaten Indramayu saat melakukan ziarah ke makam Raden Bagus Arya Wiralodra (Wiralodra I) di Desa/Kecamatan Sindang, Kabupaten Indramayu, Jumat (4/10/2019). 

Laporan Wartawan Tribuncirebon.com, Handhika Rahman

TRIBUNCIREBON.COM, INDRAMAYU - Sejarah tentang Kabupaten Indramayu tentu tidak terlepas dari kisah Raden Bagus Arya Wiralodra (Wiralodra I).

Raden Bagus Arya Wiralodra sendiri merupakan pendiri sekaligus pemimpin pertama Kabupaten Indramayu.

Ketua Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) Kabupaten Indramayu, Dedy S Musashi mengatakan, berdasarkan catatan sejarah, Raden Bagus Arya Wiralodra berasal dari daerah Bagelen Jawa Tengah tepatnya di Banyuurip.

Ayahnya merupakan seorang Tumenggung yang bernama Gagak Singalodra. Beliau mempunyai 5 orang putera yakni Raden Wangsanegara, Raden Ayu Wangsayuda, Raden Bagus Arya Wiralodra, Raden Tanujaya dan Raden Tanujiwa.

"Raden Bagus Arya Wiralodra ini merupakan anak ketiga," ujar dia kepada Tribuncirebon.com, Rabu (7/10/2020).

Masih disampaikan Dedy S Musashi berdasarkan catatan sejarah, Raden Bagus Arya Wiralodra memiliki jiwa yang besar dan cita-cita luhur. Dirinya berkeinginan membangun sebuah negara yang dapat diwariskan kepada anak cucunya.

Ia pun melatih diri dengan ilmu kanuragan, tirakat dan ilmu-ilmu lainnya untuk memenuhi cita-cita tersebut.

Konon diceritakan, ketika Raden Bagus Arya Wiralodra tengah menjalani tapa brata dan bersemedi di Perbukitan Melaya di kaki Gunung Sumbing ia mendapat wangsit atau wahyu untuk membuka hutan di sebelah barat Sungai Cimanuk.

Wangsit itu berbunyi: “Wahai Wiralodra, apabila engkau ingin bahagia beserta keturunanmu di kemudian hari, pergilah merantau ke arah matahari terbenam dan carilah lembah sungai Cimanuk. Jika sudah sampai di sekitar sungai Cimanuk, berhentilah dan menebang pepohonan untuk mendirikan sebuah pedukuhan dan menetap di sana. Kelak tempat ini akan menjadi daerah yang subuh dan makmur hingga tujuh turunan di sana”.

Halaman
1234
Sumber: Tribun Cirebon
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved