Surat Nikah dan Cerai Soekarno dan Inggit Garnasih Pernah Ditawar Rp 100 Miliar oleh Orang Belanda
Dua dokumen pribadi itu disimpan Tito sejak 1980-an, sebelum Inggit Garnasih meninggal. Tito bercerita, saat itu, dia diamanatkan untuk menyimpan dua
Laporan Wartawan Tribun Jabar, Mega Nugraha
TRIBUNCIREBON.COM, BANDUNG - Dokumen pribadi Ir Soekarno berupa surat nikah dan surat cerai dengan Inggit Garnasih disimpan selama puluhan tahun oleh Tito Zeni Harmain (73), akrab disebut Tito Asmara Hadi.
Tito merupakan anak dari pasangan Asmara Hadi dan Ratna Juami. Ratna Juami merupakan anak angkat Soekarno saat menikah dengan Inggit. Ratna Juami merupakan anak dari kakak Inggit Garnasih.
Sejak usia 40 hari, Ratna Juami diasuh oleh Soekarno dan Inggir Garnasih. Sedangkan Asmara Hadi, dikenal sebagai anak didik Soekarno. Selain itu, dikenal sebagai wartawan dan sastrawan serta politisi di era Presiden Soekarno.
Dua dokumen pribadi itu disimpan Tito sejak 1980-an, sebelum Inggit Garnasih meninggal. Tito bercerita, saat itu, dia diamanatkan untuk menyimpan dua dokumen tersebut.
"Saya simpan sejak 1980-an, diamanatkan oleh ibu Inggit Garnasih," ujar Tito ditemui di kediamannya di kawasan Margahayu Utara Kecamatan Babakan Ciparay Kota Bandung, Kamis (24/9/2020).
Selama 30 tahun lebih, dia menyimpan surat-surat tersebut. Selain dokumen, ia juga menyimpan benda lainnya yang berkaitan dengan Bung Karno dan Inggit selama bersama. Seperti foto-foto, meja belajar hingga lemari.
• Sah, Ini Nomor Urut 4 Paslon yang Bertarung di Pilkada Indramayu 2020
• Mantan Juru Bicara KPK Febri Diansyah Mengundurkan Diri dari KPK, Penyebab Belum Diketahui
• Ridwan Kamil Beri Dukungan Penuh untuk Meli Nuryani di Ajang Liga Dangdut Indonesia 2020 Indosiar
Pada tahun 2000-an, ia bercerita, dokumen pribadi tokoh bangsa itu sempat hendak dibeli Pemprov Jabar untuk jadi koleksi museum. Saat itu, pembeliannya sempat dianggarkan di APBD dan sudah dibahas dengan DPRD Jabar.
"Tapi akhirnya ditolak dan batal karena katanya bukan dokumen negara, tapi dokumen pribadi. Padahal sudah dibahas. Jadi kalau sudah begitu, gimana?. Saya sebagai pemilik dokumen itu, terserah saya dong mau digimanain," ucap Tito.
Hingga akhirnya, foto-foto itu diunggah di media sosial Instagram oleh pemilik akun, Yulius Iskandar. Ia menyebut, dokumen pribadi itu dihargai Rp 25 miliar.
"Sebenarnya sudah banyak yang menghubungi kami untuk meminta dokumen itu," ucap Tito.
Ditimpali oleh Galuh Mahesa (36), anak ketiga Tito. Menurut dia, pernah ada dari Belanda yang hendak meminta dokumen tersebut.
"Sempat dihargai lebih dari itu (Rp 25 miliar). Dulu ada dari Belanda, cuma kami diminta kesana terus kemudian dilelang. Ada yang sempat menawar hingga Rp 100 miliar. Tapi enggak dikasih karena kami dulu berharap dipegang pemerintah secara resmi dengan kompensasi, tapi kan enggak bisa," ucap dia.
Galuh menambahkan, Ridwan Kamil saat berkampanye di Pilgub Jabar sempat menyambangi rumahnya dan melihat benda-benda peninggalan Soekarno dan Inggit Garnasih. Kata dia, saat itu Ridwan Kamil sempat mengatakan akan membeli dokumen itu untuk museum sejarah Jabar.
"Tapi sampai saat ini belum," ucap dia.
Galuh menerangkan, Tito sebagai pewaris dokumen tersebut, punya hak atas dokumen tersebut. Ia berharap dokumen itu dikuasai dan disimpan oleh siapapun yang berhak, tentunya dengan kompensasi.
"Karena dulu juga ada amanat dari Ibu Inggit ingin membuat klinik bersalin dan fasilitas umum, bukan semata-mata untuk kepentingan kami saja," ucap dia. (*)