Breaking News:

Camat Cisewu Bubarkan Paguyuban Tunggal Rahayu, Kegiatannya Meresahkan dan Bertentangan dengan Warga

Hingga kini, situasi di Cisewu sangat kondusif. Warga pun berharap dengan pembekuan paguyuban, bisa menghentikan keberadaannya.

Tribun Jabar/Firman Wijaksana
Kepala Bakesbangpol Garut menunjukkan dokumen pengajuan izin Paguyuban Tunggal Rahayu yang berlogo burung Garuda, Jumat (4/9). Paguyuban Tunggal Rahayu disebut mirip dengan Sunda Empire dan telah merambah hingga Majalengka. 

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Firman Wijaksana

TRIBUNCIREBON.COM, GARUT - Kegiatan Paguyuban Tunggal Rahayu di Kecamatan Cisewu dibubarkan Pemerintah Kecamatan Cisewu. Pembubaran itu setelah warga resah dengan aktivitas paguyuban.

Camat Cisewu, Heri Hermawan, menyebut pihaknya bersama Muspika Cisewu sudah resmi membubarkan paguyuban tersebut. Aktivitas paguyuban membuat resah dan banyak hal yang bertentangan dengan warga.

"Kami sepakat untuk membubarkan paguyuban itu. Ada beberapa hal yang menyimpang dari aktivitas paguyuban," ucap Heri, Rabu (9/9).

Hingga kini, situasi di Cisewu sangat kondusif. Warga pun berharap dengan pembekuan paguyuban, bisa menghentikan keberadaannya.

"Masyarakat sudah mengerti dan bisa menahan diri. Kami juga minta kepada warga untuk menjaga kondusivitas ini," ujarnya.

Hari ini para pengikut paguyuban membuat surat pengunduran diri. Surat itu akan diserahkan kepada ketua Paguyuban Tunggal Rahayu Kecamatan Cisewu. Mereka beralasan, misi organisasi tidak sejalan dengan pemahaman warga yang jadi pengikut.

"Saya dan anggota yang lain hari ini membuat surat pengunduran diri. Sudah banyak hal yang menyimpang dari paguyuban ini," kata Ai Laela.

Salah satu yang dinilai menyimpang oleh Ai adalah perubahan ayat Alquran. Kalimat Bismillah diganti menjadi Al-Bismillah oleh pimpinan paguyuban.

Ai yang masuk jadi anggota sejak bulan Agustus 2020 menilai ada kejanggalan dari paguyuban itu. Selama menjadi anggota, Ai belum dipungut bayaran.

Namun dari informasi anggota lain, ada biaya pendaftaran sebesar Rp 100 ribu untuk membuat kartu anggota. Selain itu, ada juga biaya pembuatan sertifikat pendanaan sebesar Rp 600 ribu.

Ai sempat tertarik karena dijanjikan mendapat sejumlah keuntungan berupa uang. Namun janji itu tidak terbukti hingga kini.

"Yang masuknya duluan itu ada pungutan untuk jadi anggota. Alasannya buat dipakai kartu anggota terus ada juga untuk jaminan bantuan," ucapnya.

Editor: Machmud Mubarok
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved