Breaking News:

BPBD Jabar Bersiap Hadapi Bencana Hidrologi, Tetap Terapkan Protokol Kesehatan

penerapan protokol kesehatan ini sudah pernah dilakukan pada April lalu saat banjir melanda kawasan selatan Bandung

(tribunjabar/firman suryaman)
Ilustrasi - Seorang petugas melihat-lihat jembatan Bugel yang baru dua hari digunakan dan lenyap ditelan longsor, Rabu (10/6). 

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Muhamad Syarif Abdussalam

TRIBUNCIREBON.COM, BANDUNG - Sebagian besar bencana alam di Jawa Barat dipicu oleh air permukaan seperti banjir dan longsor, atau disebut dengan bencana hidrologi.

Karenanya, intensitas kebencanaan di Jawa Barat pun biasanya meningkat pada musim hujan di awal dan akhir tahun.

Di tengah pandemi Covid-19 yang diperkirakan masih akan terus berlangsung, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Jawa Barat pun menyiapkan kembali langkah penanggulangan bencana, terutama yang berkaitan dengan penerapan protokol kesehatan pencegahan penyebaran Covid-19.

Kepala Pelaksana BPBD Provinsi Jawa Barat, Dani Ramdan, mengatakan penerapan protokol kesehatan ini utamanya disiapkan di daerah pengungsian. Contohnya di kawasan rawan banjir seperti kawasan selatan Bandung dan sejumlah titik di pantai utara Jawa Barat.

Dani mengatakan bencana ini memang sangat tidak diharapkan. Namun demikian, persiapan kemungkinan terjadinya bencana harus tetap dilakukan seiring dengan upaya penyelesaian masalah banjir yang tengah dilakukan secara jangka panjang oleh pemerintah.

Dani mengatakan penerapan protokol kesehatan ini sudah pernah dilakukan pada April lalu saat banjir melanda kawasan selatan Bandung. Saat itu, katanya, protokol kesehatan seperti penjagaan jarak antarpengungsi, sampai penyediaan fasilitas kebersihan, dilakukan di pengungsian.

"Pengungsian yang biasanya kita pakai dua gedung di Baleendah contohnya, saat pandemi ini jadi empat gedung yang dipakai. Bahkan kami mendirikan tenda-tenda tambahan supaya protokol kesehatan tetap dijalankan," katanya di Bandung, Kamis (3/9).

Selain di Bandung kawasan selatan, katanya, penyiagaan pun dilakukan di kawasan rawan banjir lainnya seperti di Bekasi, Subang, Karawang, dan Tasikmalaya.

Pihaknya tengah menginventarisasi kebutuhan gedung atau tenda untuk pengungsian warga jika bencana terjadi.

Tukang Cilok Menangis Ingat Bayinya Berusia 10 Bulan, Menyesal Cekik Wanita Muda hingga Tewas

Cek Rekeningmu Hari Ini, Subsidi Gaji Rp 600 Mulai Dicairkan, Ida Fauziah: Sudah Diserahkan

Gideon Tengker Mengaku Dipaksa Masuk Rumah Sakit Jiwa, Ayah Nagita Slavina Minum Obat-obatan

Bersamaan dengan itu, katanya, BPBD Jabar telah melakukan penyaluran 80 persen logistik bantuan kepada 27 kota dan kabupaten di Jabar, Agustus lalu. Sisanya 20 persen bantuan dan logistik ada di gudang BPBD Jabar dan siap disalurkan untuk kedaruratan.

"Kita sudah merancang dan mengevaluasi untuk langkah penyelamatan warga sampai pemulihan dampak bencana. Bedanya kali ini disertai dengan pertimbangan pelaksanaan protokol kesehatan, yaitu jaga jarak, menggunakan masker, dan penyediaan alat kebersihan. Kami sudah simulasikan, termasuk evakuasinya," katanya.

Sejak Januari sampai Agustus 2020, terdapat 1.039 kejadian bencana di Jawa Barat, didominasi oleh longsor, puting beliung, kebakaran hutan, dan banjir. Sedangkan pada tahun lalu dengan periode yang sama, tercatat 991 kejadian bencana terjadi. (Sam)

Editor: Machmud Mubarok
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved