Breaking News:

KBM Tatap Muka Kemungkinan Besar Belum Bisa Diterapkan Tahun Ini

Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Garut, Totong, menyebut prioritas utama pemerintah lebih mengutamakan kesehatan dan keselamatan peserta didik, orang

Editor: Fauzie Pradita Abbas
Tribunnews/JEPRIMA
Sejumlah siswa mencuci tangan dengan sabun sebelum mengikuti uji coba kegiatan belajar mengajar (KBM) tatap muka di SMPN 2 Bekasi, Jawa Barat, Selasa (4/8/2020). Pemkot Bekasi memperbolehkan aktivitas tatap muka di sekolah kembali berlangsung dengan alasan angka penularan Covid-19 di Kota sudah di bawah satu. Tribunnews/Jeprima 

Laporan wartawan Tribun Jabar, Firman Wijaksana

TRIBUNCIREBON.COM, GARUT - Dinas Pendidikan Kabupaten Garut menyatakan belum bisa mengeluarkan kebijakan kegiatan belajar mengajar (KBM)  atau kbm tatap muka untuk tingkat PAUD, SD, hingga SMP.

//

Tren temuan kasus konfirmasi positif covid-19 di Kabupaten Garut yang cenderung naik jadi alasannya. ( kbm tatap muka tak jadi tahun ini )

Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Garut, Totong, menyebut prioritas utama pemerintah lebih mengutamakan kesehatan dan keselamatan peserta didik, orang tua, dan para guru.

Rencana belajar tatap muka pun belum ditentukan waktunya.

"Dengan kondisi sekarang, kami tidak berani membuka sekolah. Anak-anak lebih baik belajar di rumah. Ketimbang sekolah dibuka karena bisa berbahaya," ucap Totong, Jumat (28/8).

Rencananya, Dinas Pendidikan akan memulai belajar tatap muka mulai bulan September.

Namun karena untuk tingkat SMA/SMK yang rencananya dimulai tanggal 18 Agustus urung dilakukan, maka belajar tatap muka bagi Paud sampai SMP diundur.

Apalagi berdasarkan keputusan bersama empat menteri, bahwa tahapan masuk sekolah bisa dilakukan setelah SMA-SMK dimulai.

"Baru diikuti ke jenjang di bawahnya. Seperti SMP, SD hingga PAUD. Prioritas utama pemerintah sebenarnya lebih mengutamakan kesehatan dan keselamatan," katanya.

Menurut Totong, meski sarana dan prasarana sudah siap, pihaknya tetap memperhatikan situasi dan kondisi saat ini.

Di beberapa wilayah cenderung belum berubah menjadi zona hijau seluruhnya.

Bila terindikasi dalam kondisi tidak aman, apalagi terdapat kasus terkonfirmasi positif Covid-19 dan masuk zona orange atau merah, satuan pendidikan wajib ditutup kembali.

“Meski secara keseluruhan di beberapa kecamatan risiko rendah, apalagi bila zona hijau mungkin saja dibuka belajar secara tatap muka. Namun bila diamati kelihatannya belum landai,” ujarnya.

Totong juga menilai, jika tahapan masuk sekolah dibuka dan sekolah dinyatakan aman, belum tentu di tengah perjalanan dari rumah ke sekolah dijamin aman.

Totong mencontohkan, penularan bisa terjadi saat siswa naik angkutan umum, atau saat berjalan kaki.

Potensi tertular atau menularkan virus bisa terjadi karena adanya interaksi.

“Ketika semakin banyak kerumunan, maka semakin banyak pula yang harus diantisipasi. Ini berisiko terjadi kluster baru dan bahaya juga. Jadi, kaki mengikuti aturan pusat saja,” ucapnya.

Untuk proses belajar, pihaknya telah berupaya memperkuat metode  pembelajaran jarak jauh (PJJ) serta kombinasi antara daring dan luring.

Pihaknya juga bisa memanfaatkan media elektronik seperti radio, TV, modul, video pembelajaran, dan kunjungan guru.

"Tidak harus selalu daring, bisa juga melalui kunjungan guru atau orang tua datang ke sekolah mengambil buku pelajaran. Kami ada sembilan radio komunitas untuk belajar jarak jauh termasuk TV. Kita akan buat TV Pendidikan di Kabupaten Garut," katanya. (firman wijaksana)

Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved