Breaking News:

Disuntik Vaksin Covid-19, Ridwan Kamil Merasa Nyut-nyutan Selama 5 Menit Lalu Terasa Kebas

Selama proses, kegiatan harian kami diimbau untuk tidak banyak melakukan aktivitas keluar wilayah yang pada saat nanti dibutuhkan untuk konsultasi

Tribun Jabar/Nazmi Abdurahman
Gubernur Jabar Ridwan Kamil seusai menjalani penyuntikan sebagai relawan uji klinis vaksin Covid-19 di Puskesmas Garuda, Kota Bandung, Jumat (28/8). 

Lolos Tahap Pertama

 Ketua Gugus Tugas Percepatan Penanggulangan COVID-19 Jawa Barat yang juga Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil dinyatakan lolos tahap pertama atau Visit 0 (V0) sebagai relawan uji klinis fase 3 vaksin COVID-19.
Untuk itu, Kang Emil, sapaan Ridwan Kamil, dijadwalkan melakukan kunjungan/tahap kedua atau Visit 1 (V1) berupa penyuntikan pertama sebagai relawan uji klinis tersebut di Puskesmas Garuda, Kecamatan Andir, Kota Bandung, Jumat (28/8).

"Saya sudah di-swab lagi, hasil tes saya dilaporkan negatif COVID-19. Sehingga Jumat bisa mengikuti penyuntikan pertama di Puskesmas Garuda lagi. Setelah itu akan dimonitor kondisi tubuh (setelah disuntik)," ucap Kang Emil di Gedung Pakuan, Kota Bandung, Jumay (28/8).

Jelang menjalani penyuntikan pertama sebagai relawan, Kang Emil menegaskan bahwa dirinya menjaga kondisi tubuh melalui perilaku hidup bersih dan sehat seperti tidur teratur dan makan-makanan yang bergizi serta menjaga kebugaran.

"(Proses uji klinis) vaksin ini kuncinya jangan sampai ada relawan yang sakit, lalu peneliti menduga sakitnya karena vaksin, padahal karena perilaku gaya hidup yang tidak benar misalnya fisik yang terkuras habis," ucap Kang Emil. Seperti itu bahaya, nanti mengaburkan penilaian. Oleh karena itu, kita (relawan) sudah diwanti-wanti agar menjaga (gaya hidup)," katanya.

Selain itu, Kang Emil berujar bahwa dirinya juga mengurangi kegiatan sebagai Gubernur Jabar yang membutuhkan perjalanan jauh agar kondisi fisiknya tidak terkuras.

"Saya juga batasi kegiatan, bukan mengubah jenis kegiatan, hanya frekuensi jumlahnya. Dari sehari sembilan agenda, mungkin cukup lima atau enam," ujarnya.

Sebelumnya, Kang Emil melakukan tahap pertama uji klinis fase 3 vaksin COVID-19 di Puskesmas Garuda pada Selasa, 25 Agustus lalu.

Selain melakukan swab test serta pengecekan tinggi badan, berat badan, dan wawancara riwayat kesehatan, Kang Emil juga mendapat penjelasan terkait risiko uji klinis hingga menandatangani perjanjian sukarela sebagai relawan di kunjungan pertama atau Visit 0 (V0).

Totalnya, proses uji klinis vaksin COVID-19 Sinovac oleh BUMN Bio Farma dan FK Unpad ini berlangsung dalam lima kunjungan selama kurang lebih enam bulan atau hingga akhir 2020. Jika uji klinis berjalan lancar, rencananya vaksin Sinovac akan mendapat izin edar dan diproduksi massal di awal 2021.
Vaksin Gratis

Ketua Komite Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) Erick Thohir mengatakan peserta BPJS Kesehatan akan mendapatkan pelayanan pemberian vaksin gratis. 

Menurutnya vaksin gratis yang akan diberikan dengan berpedoman pada data BPJS Kesehatan itu akan dilaksanakan secara massal di awal 2021.

"Vaksin bantuan pemerintah di mana melalui budget APBN dan data BPJS Kesehatan, nanti ada istilahnya vaksin gratis secara massal yang diharapkan di awal tahun depan," ujar Erick dalam rapat kerja dengan Komisi IX DPR RI, di Ruang Rapat Komisi IX DPR, Senayan, Jakarta, Kamis (27/8/2020). 

Namun, Menteri BUMN itu mengatakan tak semua masyarakat yang terdata di BPJS Kesehatan mendapatkan vaksin gratis. 

Menurutnya sebagian masyarakat yang mampu diminta untuk membayar vaksin mandiri. 

"Kami mengusulkan bila memungkinan untuk masyarakat bisa membayar vaksin mandiri untuk yang mampu," kata dia. 

"Jadi yang terdata di BPJS Kesehatan, tapi dengan tingkat daya beli berapa harus mandiri. Ini upaya kita juga untuk menekan upaya cashflow pemerintah," imbuhnya. 

 Ridwan Kamil Datang Belakangan, Pangdam & Kapolda Jabar Siap Disuntik Vaksin di Puskesmas Garuda

 BLT Rp 600 Ribu Disalurkan Bertahap Setiap Minggu hingga September, Saat Ini Baru 2,5 Juta Penerima

Erick menjelaskan kebijakan ini tak lepas dari kondisi keuangan negara yang terus menurun akibat terdampak pandemi Covid-19. 

"Kebutuhan APBN yang selama ini kita tahu juga defisit anggaran terus melebar dan kalau dilihat dari data-data ekonominya sendiri pemasukan kepada negara cukup rentan," tandasnya.

Editor: Machmud Mubarok
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved