Breaking News:

Kemendagri Datangi Citimall Kota Sukabumi Buktikan Inovasi yang Dibuat Menghadapi New Normal

Inovasi itu kata Jonggi, merupakan sebuah keinginan atau ide Pemerintah Kota (Pemkot) Sukabumi dalam menjalani tatanan hidup baru

TribunJabar.id/Fauzi Noviandi
Kabid Inovasi Daerah Otonomi, Kemendagri RI, Jonggi Tambunan, mendatangi Citimall Kota Sukabumi, Kamis (13/8/2020). 

Laporan Kontributor Kota Sukabumi, Fauzi Noviandi.

TRIBUNCIREBON.COM, SUKABUMI - Kepala Bidang Inovasi Daerah Otonomi Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) datangi Citimall Sukabumi yang menjadi percontohan Kota Sukabumi saat meraih Juara II dalam lomba Inovasi Daerah Tatanan Normal Baru Produktif Dan aman Covid-19 untuk katagori Pasar modern.

Kabid Inovasi Daerah Otonomi, Kemendagri RI, Jonggi Tambunan menjelaskan, kedatangannya ke Kota Sukabumi untuk melihat langsung beberapa inovasi yang sebelumnya dia tonton melalui video yang dilombakan.

"Pada bulan Mei lalu Kota Sukabumi memenangkan juara di sektor pasar modern, kita datang kesini untuk melihat langsung apa yang kemarin ada dalam video, apakah sudah sesuai atau belum," katanya pada wartawan di Jalan Ahmad Yani, Kamis, (13/8/2020).

Inovasi itu kata Jonggi, merupakan sebuah keinginan atau ide Pemerintah Kota (Pemkot) Sukabumi dalam menjalani tatanan hidup baru yang produkitif dan Aman dari Covid-19 dengan mengikuti protokol kesehatan.

Daftar Harga HP Vivo Agustus 2020: Mulai Rp 1 Jutaan, Ada Vivo Y19, Vivo X50, V19 Hingga Y12

Jerinx Ditahan Polisi Gara-gara Ejek IDI dengan Singkatan Ikatan Drakor Indonesia, Istrinya Curhat

Bacaan Teks Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, Beserta Kisah Pembuatan Naskah Proklamasi

"Pasar modern maupun tradisional harus tetap berjalan dan semua Pemerintah daerah maupun pengelola harus melakukan sejumlah inovasi dalam agar tetap produktif serta tetap aman dari Covid-19," jelasnya

Ia mengungkapkan, sejumlah inovasi yang telah diterapkan di Pasar modern, diharapakan bisa diterapkan disejumlah pasar tradisional di Kota Sukabumi maupun didaerah lainnya.

"Tidak hanya di Pasar modern saja, tetap pasar tradional pun harus melakukan sejumlah inovasi terutama inovasi dalam upaya pencegahan Covid-19, walaupun protokol kesehtan di pasar tradisiona telah berjalan dengan baik," ungkapnya.

Jonggi menambahkan, penghargaan yang telah diberikan Kemendagri pada Kota Sukabumi tersebut agar terus melakukan sejumlah inovasi lainya.

"Tidak hanya Kota Sukabumi saja, namun kami melihat berkembangan sejumlah inoviasi disebanyak 548 daerah otonomi lainnya," katanya. 

Inovasi di Perguruan Tinggi

Perguruan tinggi di Jawa Barat terus berupaya melahirkan inovasi dalam penanganan COVID-19. Selain alat bantu pernapasan, ventilator, inovasi alat pengetesan COVID-19 pun intens dikembangkan. 

Universitas Padjadjaran (Unpad) misalnya terus mengembangkan Deteksi CePAD atau Rapid Test 2.0. Koordinator Peneliti Rapid Test COVID-19 Unpad dari Fakultas MIPA, Muhammad Yusuf, mengatakan perbedaan Deteksi CePAD dengan rapid test yang umum digunakan saat ini adalah molekul yang dideteksi.

Rapid test COVID-19 yang umum mendeteksi antibodi, dan Deteksi CePAD ini mendeteksi antigen. Sehingga, kata Yusuf, Deteksi CePAD dapat mendeteksi virus lebih cepat, karena tidak perlu menunggu pembentukan antibodi saat tubuh terinfeksi virus.

"Deteksi antibodi itu mempunyai kelebihan, karena dia proses sampling relatif cepat, dan digunakan untuk mendeteksi penyakit sudah menyebar di mana saja," kata Yusuf di Gedung Sate, Kota Bandung, Kamis (25/6).

"Tapi, ketika rapid test ini digunakan untuk bisa memprediksi atau ketika orang menunjukkan gejala sakit dengan antibodi biasanya akan nonreaktif, karena antibodi belum terbentuk. Sehingga, kami berpikir untuk melengkapi rapid test dengan antigen," imbuhnya.

Yusuf berharap, dengan adanya Deteksi CePAD, deteksi dan penanganan COVID-19 di Indonesia, khususnya di Jabar, berjalan lebih optimal.

"Jadi dengan lengkapnya rapid test ini, dengan antibodi tersebar, deteksi antigen tersedia, mudah-mudahan penanganan COVID-19 semakin baik ke depannya," ucapnya.

Pernyataan senada diucapkan Kepala Pusat Studi Infeksi Fakultas Kedokteran Unpad Bachti Alisjahbana. Menurut Bachti, hadirnya inovasi-inovasi alat pengetesan akan mempercepat identifikasi. Hal tersebut amat dibutuhkan dalam penanganan COVID-19.

"Saya pikir setelah melihat beberapa kali uji coba ini (Deteksi CePAD), cukup menjanjikan dengan sampel yang kami punya. Setelah ini, kami akan melakukan proses uji coba lagi," kata Bachti.

Direktur Inovasi dan Korporasi Unpad, Diana, mengatakan panduan penggunaan Deteksi CePAD terus dimatangkan. Pun demikian dengan panduan produk. Sebab, pengambilan nasofaring, sampel Deteksi CePAD, tidak bisa dilakukan sembarangan.

"Sekarang yang digodok adalah bagaimana barang itu bisa sampai ke masyarakat," ucap Diana.

VitPAD-iceless Transport System

Hasil inovasi lain dari Unpad adalah VitPAD-iceless Transport System, sebuah Viral Transport Medium (VTM) yang memiliki ketahanan dan keamanan untuk penyimpanan dan transportasi sampel virus di suhu ruang.

Dosen Fakultas Kedokteran Unpad yang juga tim pengembangan VitPAD, Hesti Lina, mengatakan, ketergantungan akan VTM impor menjadi salah satu latar belakang timnya mengembangkan vitPAD, sedangkan Indonesia, khususnya Jabar, memerlukan VTM dalam jumlah banyak.

"Kami memikirkan bagaimana bisa membuat VTM produk lokal, dan juga memiliki kualitas yang baik, dan tahan di suhu kamar, sehingga memudahkan transportasi dari fasilitas kesehatan di pelosok ke laboratorium pemeriksa COVID-19," kata Hesti.

Penyimpanan sampel dalam VTM yang biasa digunakan, kata Hesti, harus berada di suhu 2-8 derajat celcius. Maka, diperlukan boks eks dengan pengamanan berlapis dalam pengiriman sampel ke laboratorium pemeriksaan.

"Dalam pengiriman, VTM harus menggunakan icebox, sedangkan kalau ini VitPAD kami sudah tidak membutuhkan icebox lagi. Jadi, untuk transportasi lebih simpel dan bisa menjangkau daerah-daerah," ucapnya.

Hesti mengatakan, vitPAD sedang divalidasi ke sampel yang lebih banyak. Menurut ia, pihaknya akan pihaknya produksi 3.000 vitPAD yang disebar ke sejumlah fasilitas kesehatan di Jabar.

"Perizinan sedang paralel dilakukan, mungkin kami juga kerja sama dengan industri. Itu juga bisa diharapkan terbuka. Sehingga, kami bisa memproduksi vitPad lebih banyak, cepat, dan efisien, untuk bisa membantu kecepatan pemeriksaan COVID-19 di Jabar," katanya. (Sam)
Editor: Machmud Mubarok
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved