Breaking News:

Polemik Keraton Kasepuhan Cirebon

Filolog Ungkap Silsilah Keraton Kasepuhan Cirebon Melenceng Setelah Masa Sultan Sepuh V

Selain itu, garis keturunan Sultan Sepuh XIV PRA Arief Natadiningrat, juga dinilai tidak terhubung hingga ke sultan-sultan sebelumnya.

Penulis: Ahmad Imam Baehaqi | Editor: Mumu Mujahidin
ISTIMEWA
Prosesi pengukuhan Raharjo Djali sebagai Polmak Sultan Keraton Kasepuhan Cirebon di Masjid Agung Sang Cipta Rasa, Kecamatan Lemahwungkuk, Kota Cirebon, Kamis (6/8/2020). 

Namun, ia menegaskan jabatan sultan tidak mempunyai kebijakan politik karena hanya sebagai pemangku adat untuk melestarikan budaya.

Hal tersebut berlangsung sejak era kolonial Belanda, tepatnya pada 1813 masehi.

"Dari masa itu sultan hanya pelestari budaya, dan tidak punya kebijakan politik seperti di Yogyakarta," ujar Raffan S Hasyim.

Raharjo Jadi Polmak

Setelah dikukuhkan sebagai Polmak atau pejabat sementara (Pjs) Sultan Keraton Kasepuhan Raharjo Djali akan melakukan sejumlah hal.
Di antaranya, memperbaiki bangunan agar kelestariannya terjaga sehingga dapar dinikmati generasi masa depan.
Ia juga memastikan tahapan-tahapan lainnya untuk menjaga kelestarian keraton tetap berjalan secara paralel.
"Kami akan melakukan banyak perbaikan di Keraton Kasepuhan ini," ujar Raharjo Djali melalui sambungan teleponnya, Jumat (7/8/2020).
Selain itu, pihaknya juga akan mengatur Keraton Kasepuhan sedemikian rupa sehingga mudah diakses masyarakat.
Pasalnya, menurut dia, keraton seyogyanya dibangun dan merupakan milik masyarakat luas.
Ia mengatakan, kesibukannya di Jakarta tidak akan mengganggu tugasnya sebagai Polmak Sultan Keraton Kasepuhan.
Bahkan, Raharjo berjanji akan membagi waktunya agar aktivitasnya di Jakarta dan Cirebon berjalan beriringan dan lancar.
"Memang kegiatan saya di Jakarta banyak, tapi saya komitmen akan berbagi dengan tugas di keraton," kata Raharjo Djali.
Raharjo dikukuhkan sebagai polmak di Masjid Agung Sang Cipta Rasa, Kecamatan Lemahwungkuk, Kota Cirebon, pada Kamis (6/8/2020).
Kala itu, ia dikukuhkan oleh sejumlah anggota keluarga Keraton Kasepuhan.
Ia merupakan sosok yang sempat menggembok pintu Dalem Arum Keraton Kasepuhan yang videonya beredar di media sosial pada Minggu (28/6/2020).
Ia mengaku sebagai mengaku sebagai cucu Sultan Sepuh XI Tadjoel Arifin Djamaluddin Aluda Mohammad Samsudin Radjaningrat.
Ibunya, Ratu Mas Doly Manawijah, merupakan putri ketiga Sultan Sepuh XI, dari istri keduanya, Nyi Mas Rukiah.

Sultan Definitif akan Dimusyawarahkan

Raharjo Djali dikukuhkan sebagai Polmak atau pejabat sementara (Pjs) Sultan Keraton Kasepuhan pada Kamis (6/8/2020).

Pengukuhan tersebut berlangsung di Masjid Agung Sang Cipta Rasa, Kecamatan Lemahwungkuk, Kota Cirebon.

Raharjo menyampaikan, jabatan yang diembannya saat ini hanya polmak, bukan sultan definitif.

Menurut dia, posisi sultan definitif akan dimusyawarahkan bersama keluarga besar keraton.

"Nanti, sultan definitifnya tergantung hasil keputusan musyawarah keluarga," kata Raharjo Djali melalui sambungan teleponnya, Jumat (7/8/2020).

Halaman
123
Sumber: Tribun Cirebon
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved